vrijdag, mei 02, 2008

Sistem Masyarakat Islam dalam alquran dan sunnah

AHLAN WA SAHLAN
oleh Dr. Yusuf Qardhawi

KATA PENGANTAR

"Zaman kekuasaan orang-orang kulit putih segera berakhir. Saya yakin mereka tidak lagi memenuhi hari-hari indah seperti hari-hari yang pernah mereka alami empat belas abad yang silam." (Bertrand Russel, dalam Islam The Religion of The Future karya Sayyid Quthub)
Dari berbagai penelitian, fakta dan data yang diungkap dari realita peradaban Barat 'modern' yang 'mengungguli' jaman-jaman sebelumnya dalam kemajuan material dan penemuan-penemuan ilmiah ini, para sosiolog, psikolog, dan pakar kedokteran di Barat ternyata kebingungan menghadapi jumlah penderita penyakit syaraf yang melonjak secara mengerikan.
Hal ini terjadi karena peradaban yang dibangun oleh Barat --sebagaimana kita saksikan kerapuhannya pada saat ini -- menafikan aspek-aspek fundamental yang seharusnya ada dan mengesampingkan nilai-nilai moralitas yang melingkupinya. Bahkan secara tragis menghancurkan nilai fitrah kemanusiaan manusia.
Peradaban barat benar-benar telah mencapai puncak 'kemajuannya' sekaligus sedang menggapai kehancurannya. Karena sesungguhnya sistem nilai yang ditegakkannya berada di luar fitrah kemanusiaan, sebagaimana dipaparkan oleh Abul Hasan Ali An-Nadwi dalam Madza Khasiral 'Aalam Binhithathil Muslimin bahwa, "Sesungguhnya agama yang dipeluk bangsa Barat dewasa ini adalah materialisme."
Joan Jeans, salah seorang jurnalis Amerika, mengemukakan hasil pengamatannya terhadap keadaan yang tengah melanda dunia Barat dewasa ini dengan ejekan yang khas mengatakan, "Warga Inggris benar-benar telah mendewakan Bank Inggris selama enam hari, barulah pada hari ketujuh mereka berbondong-bondong mendatangi gereja." (Manhaj Ilmiah Islam, Dr. Hasan Asy-Syarqawi)
Bahkan di Barat, banyak gereja makin"laris" diperjual-belikan karena tidak ada lagi pengunjungnya, misalnya ada sebuah gereja -- menurut Dr. Musthafa As-Siba'i -- yang menyelenggarakan pesta dansa gaya anak muda guna menarik pengunjung, meski hanya sekedar melintas di depannya. Fenomena lain kita saksikan lahirnya 'tuhan-tuhan' baru berupa sepakbola, televisi dan berbagai sarana pemuas nafsu syahwat. Juga kita saksikan mereka melontarkan gagasan untuk"Back to Nature" meski dalam prakteknya justru semakin parah, yaitu lahirnya kaum nudis.
Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Presiden George Bush pada pasca kemenangan perang Teluk dan runtuhnya komunisme dengan meyakinkan, "Kita adalah pemimpin dunia yang tidak diragukan lagi. Masih tetap nomor satu!" Dan benar, bahwa Amerika adalah nomor satu dalam segaIanya, termasuk sebagai pusat dan sumber inspirasi kerusakan dunia, yang kini telah ditransfer dengan perangkat teknologi informasi ke seluruh dunia. Bahkan disebutkan dalam Amerika No. 1, 'prestasi' penderita AIDS Amerika pun adalah yang teratas dengan jumlah penderita, sepuluh kali lipat daripada negeri asalnya, Uganda.
Fakta-fakta di atas jauh-jauh hari sebelumnya sesungguhnya telah diingatkan oleh para ilmuwan, baik Barat maupun muslim, sekaligus analisa dan solusinya. sebagaimana dipaparkan dalam Islam the Religion of The Future-nya Sayyid Quthub,
Dr. Hasan Asy-Syarqawi daIam Manhaj Ilmlah Islami; Min Riwai-i Hadharatina karya Dr. Mushtafa As-Siba'i, dan Evolusi Moral karya Muhammad Quthub.
Adapun Dr. Yusuf Qardhawi dalam Malaamihu Mujtama' Muslim Alladzi Nansuduh ini merupakan karya kontemporer dengan mengungkapkan fakta-fakta dan analisa sistematis, yang pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa alternatif peradaban manusia di masa kini dan masa yang akan datang hanyalah Islam, sebagaimana terlihat dalam lintasan sejarah serta firman Allah dalam Al Qur'an.
"Demikianlah, Kami jadikan kalian sebagai ummat yang adil untuk menyadi saksi bagi seluruh manusia, dan Dia jadikan seorang Rasul sebagai saksi atas kalian." (Al Baqarah 143)
Dr. Yusuf Qardhawi dalam buku "Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an dan Sunnah" ini memaparkan gambaran utuh masyarakat yang tegak di atas pijakan yang kokoh serta dibangun di atasnya sistem kehidupan yang sempurna sebagaimana janji Allah bahwa ummat Islam adalah khairu ummah yang pantas memimpin peradaban.
Metodologi pemaparan yang disajikan oleh beliau ketika membahas setiap aspek dilengkapi dengan hujjah-hujjah yang akurat dan argumentatif, sehingga setiap pembahasan akan melahirkan sebuah pemahaman yang utuh tentang gambaran masyarakat Islam yang benar, yaitu sebuah masyarakat yang sama sekali berbeda dengan sistem jahiliyah yang ada. Ini berarti bahwa hanya ada dua pilihan, yaitu sistem Islam dan sistem jahiliyah. Dan bila direfleksikan pada realita kekinian akan tampak semakin jelas bahwa yang tengah berkibar saat ini adalah sistem jahiliyah yang berada di jurang kehancuran. Kejahiliyahan dengan wujudnya yang baru neo-jahiliyah merupakan tantangan berat bagi tegaknya masyarakat Islam."amun dengan arif beliau sebagai mufakkir yang faqih di abad ini mampu mengedepankan sebuah prototipe paripurna masyarakat Islam. Seolah kita merasakan tengah meniti kehidupan bersama Rasulullah SAW dan para shahabat Ra.
Selain itu, di dalam menyampaikan analisa terhadap permasalahan yang pelik, seperti seni misalnya, beliau sangat berhati-hati. sehingga akan kita temukan sebuah hakikat bahwa Islam menghilangkan sikap berlebih-lebihan dalam memandang sesuatu serta melarang untuk meremehkannya.
Beliau mengawali uraiannya dengan menjelaskan Aqidah dan Keimanan sebagai pondasi ditegakkannya masyarakat Islam. Kemudian di bangun di atasnya berbagai sistem kehidupan berupa Ibadah. Pemikiran dan Pemahaman. Perasaan dan Kasih Sayang, Akhlaq dan Keutamaan, Adab dan Tradisi, Kemanusiaan, Syari'at dan Perundang-undangan, Sistem Perekonomian, Seni dan Keindahan. Dan pada bagian akhir ditutup dengan menjelaskan Hakikat dan Kedudukan Wanita di dalam Masyarakat Islam. Kesemuanya dilandasi dengan berbagai hujjah, baik Al Qur'an. Sunnah, Sirah maupun Ijtihad para ulama, sehingga pandangan-pandangan yang dipaparkan dalam buku ini -insya Allah- akan merupakan jawaban tuntas atas setiap permasalahan yang hadir di pentas kontemporer.
Semoga kehadiran buku dapat memberikan kontribusi bagi ummat Islam untuk bangkit kembali memimpin peradaban dunia dalam naungan ridha Allah. Amin.


MUQADDIMAH
Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, dengan sepenuh kebaikan dan berkah. Shalawat dan salam semoga tercurah pada RasulNya yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta, dan pada keluarga serta seluruh sahabatnya.
Amma ba'du, sesungguhnya Islam telah memperhatikan masyarakat sebagaimana dia memperhatikan individu, karena masing-masing dari keduanya saling rnempengaruhi. Tidak lain masyarakat itu kecuali sekumpulan dari individu-individu yang terikat dengan ikatan tertentu, sehingga kebaikan individu juga berarti kebaikan masyarakat. Keberadaan individu dalam masyarakat bagaikan batu bata dalam sebuah bangunan, dan sebuah bangunan tidak akan baik apabila batu batanya rapuh.
Sebaliknya, seseorang tidak akan menjadi baik kecuali berada dalam lingkungan masyarakat yang kondusif bagi perkembangan kepribadiannya. Para anggotanya berinteraksi secara benar serta berperilaku yang positif. Masyarakat merupakan lahan yang di dalamnya tumbuh benih-benih individu. Mereka tumbuh dan berkembang dalam ekosistemnya, memanfaatkan langit, udara dan mataharinya. Dan tidaklah hijrah Nabi SAW ke Madinah kecuali dalam kerangka usaha untuk membangun masyarakat yang mandiri yang terpancang di dalamnya aqidah Islam, nilai-nilai, syi'ar-syi'ar dan aturan-aturannya.
Sungguh kita telah merasakan pada zaman kita ini mihnah (cobaan), dengan adanya seorang (individu) Muslim dalam masyarakat yang tidak menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya, sehingga ia memusuhi syari'atnya dan mengusir da'wahnya. Seseorang yang hidup di lingkungan seperti ini senantiasa dalam keresahan, kegoncangan dan kebingungan, sebagai akibat dari pertentangan/perbedaan yang jelas antara apa yang diyakini, yaitu berupa perintah dan larangan agama dari satu sisi, dengan apa yang dihadapi berupa tekanan pemikiran, perasaan, tradisi, sistem dan undang-undang yang bertentangan dengan arahan-arahannya.
Manusia, sebagaimana dikatakan oleh orang-orang dahulu, adalah selalu berkembang sesuai dengan tabiatnya, dan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang sekarang, sebagai makhluk sosial, maksudnya ia tidak bisa hidup secara sendirian, tetapi ia harus berta'awun (bekerja sama) dengan orang lain, agar hidupnya bisa tegak, terwujud keinginannya dan tetap terpelihara keberadaannya. Seorang penyair mengatakan:
"Manusia terhadap manusia lainnya, baik dari desa atau kota, antara sebagian dengan sebagian yang lainnya, walaupun mereka tidak merasa, mereka itu saling melayani."
Islam menempatkan manusia itu tidak saja dalam dimensi individu, akan tetapi juga dalam dimensi sosial sebagai anggota sebuah masyarakat. Oleh karena itu tugas dan kewajiban syar'i disampaikan kepadanya dalam bentuk jamaah, yakni "Yaa ayyuhalladziina aamanuu," bukan dalam bentuk mufrad (sendirian) yaitu"Yaa ayyuhal mu'min ..." Demikian itu karena kewajiban dalam Islam memerlukan sikap saling memikul dan saling menanggung dalam pelaksanaannya, di mana sama antara ibadah dan mu'amalah.
Apabila kita melihat suatu kewajiban seperti shalat, maka kita dapatkan bahwa ia tidak mungkin dilaksanakan sebagaimana diinginkan oleh Islam kecuali di masjid. Di sana masyarakat saling bahu membahu dalam menegakkannya. Muadzin yang memberitahu manusia mengenai waktu shalat, imam yang mengimami mereka, khatib yang memberikan khutbah kepada mereka dan seorang mu'allim (guru) yang mengajari mereka. Ini semuanya tidak mungkin dilakukan secara sendirian, tetapi harus diatur secara kolektif.
Al Qur'an telah menjadikan shalat sebagai hal pertama yang harus ditegakkan daulah Muslimah apabila ia diberi kesempatan untuk memimpin di bumi ini, sebagaimana firman Allah SWT:

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dan perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan" (Al Hajj: 41)


Demikian juga dalam kewajiban berpuasa dan pentingnya mengatur permasalahan hidup di bulan Ramadhan dengan pengaturan yang dapat membantu/memudahkan berpuasa, shalat, sahur, dan lain-lain.
Utamanya lagi adalah zakat, karena pada dasarnya ia merupakan tanzhim ijtima'i (struktur sosial) yang diatur oleh daulah (negara) melalui para amil yang telah ditentukan, sebagaimana dijelaskan oleh Al Qur'an. Demikian juga dalam seluruh syiar Islam dan rukun-rukunnya.
Adapun akhlaq dan mu'amalah juga tidak mungkin bisa dilaksanakan sebagaimana diinginkan oleh Islam kecuali dalam naungan masyarakat yang berpegang teguh pada Islam, di mana mereka beribadah kepada Allah dengan membangun kehidupan di atas pondasi Islam.
Islam telah mengajarkan kepada seorang Muslim agar apabila ia bermunajat kepada Rabbnya dalam shalatnya membaca, "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin." Ia berbicara dengan lesan jamaah, meskipun ia sendirian. Demikian juga apabila berdoa kepada Rabbnya, ia memakai bentuk jamak, "Ihdinash shiraathal mustaqiim." Dengan demikian maka ruh jamaah (jiwa kebersamaan) selalu hidup dalam perasaannya dan senantiasa mengalir dari lesannya.
Masyarakat Islam merupakan masyarakat yang berbeda dengan masyarakat mana pun, baik keberadaannya maupun karakternya. Ia merupakan masyarakat yang Rabbani, insani, akhlaqi dan masyarakat yang seimbang (tawazun). Ummat Islam dituntut untuk mendirikan masyarakat seperti ini, sehingga mereka bisa memperkuat agama mereka, membentuk kepribadian mereka dan bisa hidup di bawah naungannya dengan kehidupan Islami yang sempurna. Suatu kehidupan yang diarahkan oleh aqidah Islamiyah dan dibersihkan dengan ibadah, dituntun oleh pemahaman yang shahih, digerakkan oleh semangat yang menyala, terikat dengan moralitas dan adab Islamiyah, serta diwarnai oleh nilai-nilai Islam. Diatur oleh. hukum Islam dalam perekonomian, seni, politik dan seluruh segi kehidupannya.
Masyarakat Islam bukanlah masyarakat yang hanya menerapkan syari'at Islam pada bidang hukum saja, terutama di bidang pidana dan perdata sebagaimana difahami oleh mayoritas ummat. Yang demikian ini merupakan pemikiran dan praktek yang juz'iyah (parsial), bahkan mengarah pada berbuat zhalim terhadap masyarakat, dengan memfokuskan seluruh potensi yang bermacam-macam dalam menegakkan satu pilar di antara banyak pilar yaitu hukum, dan bahkan dalam satu bidang saja dari hukum tersebut yaitu pidana atau perdata.
Untuk itu penting sekali bagi kita untuk dapat memberikan gambaran yang terang, tentang komponen-komponen utama dalam membentuk masyarakat yang kita idamkan. Telah berdiri di sini berbagai gerakan dan jamaah Islam di berbagai penjuru dunia Arab ataupun dunia Islam untuk ikut berkiprah ke arah itu, sementara mereka menempati masyarakat dimana bercampur di dalamnya antara Islam dan jahiliyah. Baik jahiliyah yang ditransfer sebagai implikasi dari penjajahan (imperialisme), atau jahiliyah sebagai warisan dari sisa-sisa masa-masa kemunduran, dimana ummat Islam tidak benar dalam memahami agamanya dan oleh karenanya tidak benar pula dalam menerapkannya, baik mereka sebagai penguasa atau mereka sebagai rakyat.
Telah terbit kitab saya yang bertemakan: "Ghairul Muslimin fil mujtama'il Islami," kitab tersebut sebenarnya merupakan salah satu bagian dari kitab ini.
Saya tidak khusus membahas satu tema yang berkaitan dengan daulah dan hukum, karena khawatir terlalu panjang bagi para pembaca, mungkin bisa saya terbitkan dalam risalah tersendiri atau akan saya muat dalam cetakan lainnya.
Semoga pasal-pasal yang saya bahas dalam kitab ini bisa membantu untuk menyingkap tabir tentang ma'alim (rambu-rambu) kemasyarakatan yang Islami yang telah lama diidamkan oleh hati ummat, sehingga akan jelas dilihat oleh mata manusia, dan dipeluk oleh leher mereka.
Semoga kita bisa semakin serius untuk mencapainya, dan bekerja keras untuk mewujudkannya dalam realita. Selama kita masih mampu --dimana saja berada dan betapapun kecil teritorial darul Islam tersebut-- yang pokok dia mampu mengumumkan loyalitasnya yang sempurna terhadap Islam, baik secara aqidah, syari'at, maupun sebagai pedoman hidup. Untuk kemudian mampu membangun seluruh kehidupannya baik secara maddiyah (materi) maupun ma'nawiyah (moral) serta merancang sikap politiknya baik yang bersifat internal maupun eksternal.
Dari sisi lainnya kita hendak mengukur masyarakat yang saat ini ada, dimana mereka mengaku sebagai masyarakat Islam karena mayoritas penduduknya Muslim atau karena dustur/perundang-undangannya mengatasnamakan Islam. Kita ukur dengan sebuah model masyarakat Islami dalam gambarannya yang diinginkan, agar kita mengetahui sejauh mana kemungkinan dekat dan jauhnya.
Alangkah banyaknya orang atau masyarakat yang mengatasnamakan Islam, sementara mereka mengusir nilai-nilai keislaman. Atau sekedar berpegang pada bentuk lahiriyahnya saja, sementara mereka berpaling dari ruhnya. Atau beriman terhadap sebagian dan kufur terhadap sebagian yang lainnya. Atau hanya ikut bersenang-senang dengan hari-hari besar Islam, sementara mereka berwala' (memberikan loyalitasnya) kepada para musuh dan menentang para da'inya serta menolak syari'atnya ...
Allah SWT berfirman:

"Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al Mumtahanah: 4-5)

Ad Dauhah, Dzul Hijjah 1413 HJuni 1993 MYusuf Al Qardhawi

PASAL 1: AQIDAH DAN KEIMANAN

Sesungguhnya asas pertama kali yang tegak diatasnya masyarakat Islam adalah aqidah, itulah aqidah Islam. Maka tugas masyarakat yang pertama adalah memelihara aqidah, menjaga dan memperkuat serta memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru dunia.
Aqidah Islam ada pada keimanan kita kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari kemudian, sebagaimana firman Allah SWT:

"Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kõtab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan:)"Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya, " dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat," (Mereka berdo'a:) "Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Al Baqarah: 285)


Aqidah Islam itu membangun bukan merusak, mempersatukan bukan memecah belah, karena aqidah ini tegak di atas warisan ilahiyah seluruhnya. Dan di atas keimanan kepada para utusan Allah seluruhnya "Laa Nufarriqu Baina Ahadin Min Rusulihi."
Aqidah tersebut diringkas dan dimampatkan dalam syahadatain (dua kalimat syahadat) yaitu: "Syahaadatu an laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan Rasuulullaah." Aqidah inilah yang mempengaruhi pandangan kaum Muslimin terhadap alam semesta dan penciptannya, terhadap alam metafisika, kehidupan ini dan kehidupan setelahnya, terhadap alam yang terlihat dan yang tidak terlihat, terhadap makhluq dan khaliq, dunia dan akhirat, dan terhadap alam yang nampak dan alam gaib (yang tidak kelihatan).
Alam ini dengan bumi dan langitnya, benda-benda mati dan tumbuh-tumbuhannya, hewan dan manusianya, jin dan malaikatnya ..., kesemuanya tidak diciptakan tanpa makna, dan tidak diciptakan dengan sendirinya. Harus ada yang menciptakan, yakni Dia yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Dia yang telah menciptakan alam ini dengan sempurna, dan telah menentukan segala sesuatu di dalamnya dengan ketentuan yang pasti. Maka setiap benda yang terkecil sekali pun itu ada standarnya, dan setiap gerakan pasti ada ukuran dan perhitungannya. Pencipta itu adalah Allah SWT yang setiap kata, bahkan setiap huruf dalam alam ini membuktikan atas kehendak, kekuasaan, ilmu dan kebijaksanaan-Nya. Allah SWT berfirman:

"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Al Isra': 44)


Pencipta Yang Maha Agung itulah Rabbnya langit dan bumi, Rabbnya alam semesta dan Rabbnya segala sesuatu, Dia Satu dan Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam dzat, sifat atau perbuatan-Nya. Hanya Dialah yang qadim dan azali, hanya Dialah yang tegak selama-lamanya, hanya Dialah yang menciptakan, yang menyempurnakan dan yang memberi rupa (bentuk). Hanya Dialah yang memiliki asmaul husna dan sifaatul 'ula, tidak ada sekutu dan tidak ada perlawanan bagi-Nya, tidak ada anak dan tidak ada bapak bagi-Nya, tidak ada yang mirip atau yang menyamaiNya. Allah swt berfirman:

"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al Ikhlas: 1-4)

"Dia-lah yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Hadid: 3)

"Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11)

Segala sesuatu yang ada di jagad raya ini, baik yang atas dan yang bawah, yang diam dan yang bisa berbicara membuktikan adanya akal yang satu, Dia-lah yang mengatur segalanya. Membuktikan pula adanya tangan yang satu, Dialah yang mengatur penjuru alam dan mengarahkannya. Jika tidak demikian, maka akan rusaklah alam semesta ini, lepas kendalinya, goncang standarnya dan runtuh bangunannya sebagai akibat dari banyaknya akal yang mengatur dan banyaknya tangan yang menggerakkan. Maha Benar Allah dengan firman-Nya:
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan." (Al Anbiya': 22)

"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Al Mukminun: 91)
"Katakanlah: "Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al Isra': 42-43)

Suatu hakikat yang tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya seluruh makhluq yang ada di langit dan yang di bumi semuanya kepunyaan Allah, dan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi semuanya milik Allah. Maka tidak ada seorang pun atau sesuatu pun dari yang berakal maupun yang tidak berakal menyamai Allah dan tidak pula Dia mempunyai putra. Sebagaimana yang dikatakan oleh penyembah berhala dan yang serupa dengan mereka, Al Qur'an menggambarkan sebagai berikut:
"Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak." Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya. "Jadilah!" Lalu jadilah ia." (Al Baqarah: 116-11)
Barangsiapa yang tersesat dari hakekat ini di dunia maka niscaya akan terungkap di akhirat kelak, dia akan melihat kenyataan itu seakan telanjang. Jelas dan terang seperti terangnya matahari di waktu dhuha. Allah swt berfirman:
"Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri
." (Maryam: 93-95)

Maka tidak heran (bukan suatu hal yang aneh) setelah itu semua, jika Allah Sang Pencipta Yang Agung, Tuhan yang Maha Tinggi, hanya Dialah yang berhak disembah dan ditaati secara mutlak. Dengan lain perkataan, "Dia berhak sangat dipatuhi dan sangat dicintai, dan makna yang terkandung dalam ketundukan dan cinta yang sangat, itulah yang kita namakan "Ibadah"1
Inilah makna "Laa ilaaha illallaah," artinya tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah atau tidak sesuatu pun berhak untuk menerima ketundukan dan cinta selain Allah. Hanya Dia-lah yang pantas untuk tunduk semua makhluk terhadap perintah-Nya, sujud di hadapan-Nya dan bertasbih dengan memuji-Nya serta mau menerima hukum-Nya.

Hanya Dia yang pantas untuk dicintai dengan segala makna cinta, Dia-lah yang mutlak kesempurnaan-Nya dan sesuatu yang sempurna itu pantas untuk dicintai. Dia-lah sumber segala keindahan, dan segala keindahan yang ada dalam kehidupan ini diambil dari pada-Nya, dan keindahan itu wajar kalau dicintai dan dicintai pula pemiliknya. Dia-lah yang memberi seluruh kenikmatan dan sumber segala kebaikan. Allah SWT berfirman:

"Dan apa saya nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan." (An-Nahl: 53)

Oleh karena itu kebaikan akan selamanya disenangi dan nikmat akan selamanya dicintai dan dicintai pula pemiliknya.
Makna "Laa ilaaha illallaah" adalah membuang ketundukan dan penghambaan kepada kekuasaan selain kekuasaan Allah dan hukum selain hukum-Nya dan perintah selain perintah-Nya. Ia juga berarti menolak segala bentuk loyalitas selain loyalitas kepada-Nya dan menolak segala bentuk cinta selain cinta kepada-Nya dan cinta karena-Nya.
Untuk memperjelas makna tersebut, maka kami katakan bahwa sesungguhnya unsur (komponen) tauhid sebagaimana dijelaskan oleh Al Qur'an ada tiga yaitu dalam surat Al An'am --surat yang memperhatikan ushulut-tauhid (prinsip-prinsip ketauhidan)-- sebagai berikut:

Pertama, hendaknya kamu tidak mencari Rabb (Tuhan) kepada selain Allah. Allah berfirman:
"Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal. Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu ..." (Al An'am: 164)

Kedua, hendaknya kamu tidak mencari wali (penolong) kepada selain Allah. Allah berfirman:
"Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan ...." (Al An'am: 14)

Ketiga, hendaknya kamu tidak mencari hakim selain daripada Allah. Allah berfirman:
"Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci?" (Al An'am: 114)

Makna unsur yang pertama --

"Hendaklah kamu tidak mencari Rabb (Tuhan) kepada selain Allah"-- adalah menolak seluruh tuhan-tuhan palsu yang disembah oleh manusia, baik di zaman dahulu atau sekarang ini, baik di timur atau di barat, baik dari batu, pohon-pohonan, perak dan emas, ataupun mata hari dan bulan atau dari golongan jin dan manusia. Ia juga berarti menolak seluruh tuhan-tuhan selain Allah sekaligus mengumumkan revolusi untuk melawan orang-orang di bumi yang mengaku tuhan dan bersikap sombong tanpa dasar yang benar, yaitu mereka yang ingin memperbudak hamba-hamba Allah.

"Laa ilaaha illallaah" adalah deklarasi untuk membebaskan manusia dari segala bentuk ketundukan dan penghambaan kepada selain Allah, sebagai penciptannya. Maka tidak boleh bersujud, tunduk dan khusyu' kecuali kepada Allah Pencipta langit dan bumi.
Oleh karena itu Nabi SAW mengakhiri surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan penguasa serta para kaisar dari kaum nasrani ayat berikut ini:
"Katakanlah: "Hai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menyadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Ali 'Imran: 64)

Kata-kata "Rabbunallah" adalah berfungsi sebagai pengumuman tentang pembangkangan dan penolakan terhadap segala kediktatoran di bumi ini.
Karena itulah Nabi Musa AS menghadapi ancaman pembunuhan, dan pada saat itu ada seorang laki-laki beriman dari keluarga Fir'aun yang membela, seraya berkata, sebagaimana dikisahkan oleh Al Quran:
"Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah." padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu ..." (Al Mukmin (Ghafir): 28)
Karena itu pula Nabi kita Muhammad SAW dan para sahabatnya juga menghadapi tekanan, siksa dan pengusiran dari tanah air dan perampasan harta, sebagaimana disebutkan oleh Al Qur'an:
"(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah" ...." (Al Hajj: 40)


Makna unsur yang kedua

"Hendaklah kamu tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (pendukung)" adalah menolak (tidak memberikan) wala' atau loyalitasnya kepada selain Allah dan golongannya, karena bukanlah tauhid itu suatu pengakuan bahwa Tuhannya adalah Allah, tetapi pada saat yang sama dia memberikan wala', kecintaan dan dukungannya kepada selain Allah, bahkan kepada musuh-musuh-Nya. Allah swt berfirman:

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscsya lepaslah ia dari pertolongan Allah ..." (Ali 'Imran: 28)
Sesungguhnya hakikat tauhid bagi orang yang beriman bahwa sesungguhnya Tuhannya adalah Allah. Hendaknya ia memurnikan ketaatan kepada-Nya dan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang- orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang" (Al Maidah, 55-56)
Dari sinilah Al Qur'an menyatakan pengingkaran terhadap orang-orang musyrik bahwa mereka itu telah membagi-bagi hati mereka antara Allah SWT dengan tuhan-tuhan lain yang mereka sembah yaitu dari berhala-berhala dan patung-patung. Mereka telah memberikan kecintaan dan wala' mereka kepada tuhan-tuhan itu sebagaimana mereka memberikannya kepada Allah. Allah SWT berfirman:

"Dan sebagian manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah ..." (Al Baqarah: 165)
Sesungguhnya Allah SWT tidak menerima syarikah (persekutuan) dalam hati para hamba-Nya yang beriman, maka tidak boleh sebagian hati kita, kita berikan kepada Allah, kemudian sebagian yang lain lagi untuk Thaghut. Tidak boleh kita memberikan sebagian wala'nya kepada Al Khaliq (pencipta) dan sebagiannya lagi kepada makhluk. Sesungguhnya seluruh wala' dan seluruh tumpuan hati hendaknya wajib diberikannya kepada Allah, yang memiliki seluruh makhluk-Nya dan seluruh perkara yang ada. Inilah perbedaan antara mukmin dan musyrik. Orang mukmin itu menyerahkan (dirinya) kepada Allah, memurnikan 'ubudiyahnya kepada Allah, sedangkan orang musyrik itu memilah-milah antara Allah dan selain Allah. Allah SWT berfirman:

"Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Az-Zumar: 29)

Makna unsur yang ketiga --

"Hendaklah kamu tidak mencari hakim kepada selain Allah" -- adalah menolak ketundukan kepada setiap hukum selain hukum Allah, setiap perintah selain perintah dari Allah, setiap sistem selain sistem yang ditetapkan Allah, setiap undang-undang selain syari'at Allah dan setiap aturan, tradisi, adat istiadat, manhaj, fikrah dan nilai yang tidak diizinkan oleh Allah. Maka barangsiapa yang menerima sedikit dari semua itu baik sebagai hakim atau yang dihukumi, tanpa izin dari Allah berarti dia telah mernbatalkan salah satu unsur yang asasi dari unsur-unsur tauhid, karena ia telah mencari hakim selain Allah, padahal hukum dan tasyri' itu termasuk hak Allah saja. Allah SWT berfirman:
"Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Yusuf: 40)

Unsur ini sebenamya merupakan konsekuensi tauhid rububbiyah dan uluhiyah Allah, karena sesungguhnya orang yang menjadikan seseorang dari hamba Allah sebagai pembuat hukum dan yang menentukan, ia memerintahkan dan melarang sesuai dengan kemauannya, menghalalkan dan mengharamkan semaunya serta memberikannya hak ketaatan dalam hal itu, meskipun ia menghalalkan yang haram, seperti zina, riba, khamr, dan judi, kemudian juga mengharamkan yang halal seperti thalaq (mencerai) dan berpoligami. Dan juga menggugurkan kewajiban-kewajiban, seperti khilafah, jihad, zakat, amar ma'ruf dan nahi munkar, dan menegakkan ketentuan-ketentuan Allah dan yang lainnya. Barangsiapa yang menjadikan orang seperti ini sebagai hakim dan syari' (pembuat undang-undang) maka sebenarnya dia telah menjadikannya sebagai tuhan yang ditaati segala perintahnya dan dipatuhi segala peraturannya. Inilah yang dijelaskan di dalam Al Qur'an dan diuraikan oleh Sunnah Nabi. Al Qur'an menggambarkan perilaku Ahlul Kitab sebagai berikut:

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (At-Taubah: 31)

Bagaimana bisa mereka itu dikatakan telah menjadikan orang-orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan, padahal tidak bersujud kepada mereka dan tidak menyembah mereka sebagaimana penyembahan terhadap berhala?
Pertanyaan ini dijawab oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Jarir yaitu tentang kisah Islamnya 'Ady bin Hatim Ath-Thaa'i yang sebelumnya beragama Nasrani kemudian datang ke Madinah dan orang-orang membicarakan tentang kedatangannya. Maka ia mendatangi Rasulullah SAW, sedang di lehernya terdapat salib dari perak. Ketika itu Rasulullah SAW membacakan ayat: "Ittakhadzuu Ahbaarahum wa ruhbaanaham arbaaban min duunillaah." 'Ady berkata: "Sesungguhnya mereka tidak menyembah rahib-rahib itu!" Maka Nabi SAW bersabda: "Ya, mereka itu telah mengharamkan atas pengikut-pengikutnya yang halal dan menghalalkan kepada mereka yang haram, sehingga para pengikut itu mengikuti mereka, maka itulah ibadah mereka terhadap para rahib." (HR. Tirmidzi)
Ibnu Katsir berkata: "Demikianlah Hudzaifah bin Yaman dan Ibnu Abbas mengatakan penafsiran ayat tersebut, karena mereka telah mengikuti para rahib itu dalam hal yang para rahib itu telah halalkan dan haramkan."
As-Su'dy mengatakan: "Mereka telah memperturuti para ulama mereka, pada saat yang sama mereka membuang kitab Allah di belakang punggung mereka, untuk itu Allah SWT berfirman: "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Tuhan Yang Esa." Yaitu tuhan yang apabila mengharamkan sesuatu maka itu menjadi haram, dan apa saja yang telah Dia halalkan maka menjadi halal, apa yang telah ditetapkan dalam syari'at maka harus diikuti dan apa yang telah diputuskan maka harus dilaksanakan, tiada ilah (Tuhan) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sekutukan."
Inilah kesimpulan makna kalimat yang pertama dari kedua kalimat syahadah, yakni kalimat "Laa ilaaha illallaah" yang konsekuensinya adalah: tidak mencari Rabb selain Allah, tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (penolong) dan tidak menjadikan selain Allah sebagai hakim, sebagaimana diucapkan/dikatakan oleh Al Qur'an dalam ayat-ayatnya yang sharih dan yang muhkamat.
Adapun kalimah yang kedua dari kalimat syahadah yang berfungsi sebagai syarat sahnya seseorang masuk Islam adalah "Muhammadan Rasulullah." Karena sesungguhnya mengakui keesaan Allah Ta'ala sebagai Ilah dan Rabb itu tidak cukup apabila tidak disertai pengakuan yang kedua, yaitu bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Sesungguhnya hikmah (kebijaksanaan) Allah telah menghendaki, di mana Allah tidak membiarkan manusia ada tanpa makna, dan tidak membiarkan mereka tanpa arti. Untuk itu Allah mengutus kepada mereka dalam setiap kurun waktu para penyampai risalah yang berfungsi memberikan petunjuk, membimbing dan mengarahkan kepada mereka untuk memperoleh ridha-Nya dan menghindarkan mereka dari murka-Nya, itulah mereka para Rasul. Allah SWT berfirman:

"(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manasia membantah Allah sesudah diutusnnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (An-Nisaa': 165)


Sebagaimana juga bahwa tugas para Rasul itu adalah membuat kaidah-kaidah, nilai-nilai dan standar yang mengatur kehidupan dalam masyarakat serta memberi petunjuk ke arah yang benar. Manusia bisa menjadikan itu sebagai pedoman apabila mereka berselisih, dan bisa kembali kepadanya apabila terjadi saling bermusuhan, sehingga mereka memperoleh kebenaran, keadilan, kebaikan, dan kemuliaan, jauh dari kebathilan, kezhaliman, keburukan dan kerusakan. Allah swt berfirman:

"Sesungguhzya Kami telah mengutus rasul- rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat melaksanakan keadilan." (Al Hadid: 25)

Inilah sesuatu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada rasul-Nya berupa Al Kitab yang terangkai di dalamnya nash-nash wahyu ilahi yang terpelihara. Dan "Al Mizan" (timbangan) yang itu merupakan standar nilai-nilai Rabbani yang ditunjukkan oleh para Nabi berupa percontohan ideal dan keutamaan manusiawi yang berjalan di bawah pancaran Kitabullah.
Kalau bukan karena keberadaan (tanpa) mereka, para rasul, niscaya manusia akan tersesat dari jalannya untuk memahami hakikat uluhiyah dan jalan menuju ridha-Nya. Dalam hal pelaksanaan kewajiban mereka terhadap Allah, tentu mereka akan membuat cara sendiri-sendiri dengan metode yang berbeda-beda. Sesungguhnya Allah tidak menurunkan hukumnya untuk memecah-belah melainkan untuk mempersatukan, tidak untuk merobohkan akan tetapi untuk membangun, dan tidak dalam rangka menyesatkan tetapi memberi petunjuk.
Utusan yang terakhir adalah Muhammad SAW dialah yang menyampaikan perintah, hukum dan syari'at Allah. Melalui dia kita mengetahui apa-apa yang diinginkan oleh Allah dari kita dan apa-apa yang diridhai oleh Allah atas kita, apa-apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kita dan apa-apa yang dilarang-Nya. Melalui Nabi kita mengenal Rabb kita, kita mengetahui dari mana asal kita dan hendak kemana kita menuju, kita mengetahui jalan hidup kita, mengenal halal dan haram dan mengetahui kewajiban-kewajiban. Kalau bukan karena Nabi SAW, maka kita akan hidup dalam kegelapan tanpa mengenal tujuan dan tidak tahu jalan, Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dan Allah, dan kitab yang menerangkannya. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al Maaidah: 15-16)


Melalui Rasulullah SAW kita mengetahui bahwa di balik kehidupan ini masih ada kehidupan lainnya, di mana akan dimintai pertanggungjawaban setiap jiwa manusia terhadap apa yang ia perbuat, dan akan dibalas apa yang ia kerjakan. Maka orang-orang yang berbuat buruk, akan dibalas sesuai dengan amalnya, dan orang-orang yang berbuat kebajikan akan dibalas dengan kebaikan pula.
Melalui Rasulullah SAW kita mengetahui bahwa sesungguhnya di balik apa yang kita lakukan itu ada hisab (perhitungan) dan mizan (timbangan amal), ada pahala dan siksa, serta surga dan neraka. Allah SWT berfirman:

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun (atom), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 7-8)

Melalui Nabi SAW kita mengetahui prinsip-prinsip kebenaran dan kaidah-kaidah keadilan serta nilai-nilai kebaikan dalam syari'at (suatu aturan hidup) yang tidak menyesatkan dan tidak melalaikan. Syari'at yang dibuat oleh Dzat yang mengetahui rahasia, Dzat yang tidak ada yang mampu bersembunyi dari-Nya, Dzat yang mengetahui siapa yang merusak dan siapa pula yang memperbaiki. Allah SWT berfirman .

"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al Mulk: 14)

Untuk itulah maka kalimat "Muhammadan Rasulullah" adalah penyempurna dari kalimat "Laaa ilaaha illallaah" yang artinya tiada yang berhak disembah selain Allah, sedangkan arti berikutnya adalah, tidak sah untuk menyembah Allah kecuali dengan syari'at dan wahyu yang disampaikan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya.
Tidak heran apabila ketaatan kita kepada Rasulullah SAW itu merupakan bagian dari ketaatan kita kepada Allah, sebagaimana firman Allah SWT:

"Barangsiapa taat kepada Rasul maka taat kepada Allah." (An-Nisaa':80)

Dan ittiba' kita kepada Rasul termasuk salah satu tanda kecintaan kita kepada Allah SWT:


"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali 'Imran: 3)

Ridha terhadap hukum-Nya dan syari'at-Nya merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keimanan kepada Allah Tidak termasuk golongan orang-orang yang beriman orang yang menolak hukum atau perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai penjelasan terhadap Al Qur'an, karena Allah SWT telah mengutusnya untuk menjelaskan kepada manusia apa (kitab) yang diturunkan kepada mereka. Ini merupakan sesuatu yang sangat jelas dalam Al Qur'an Al Karim. Tidak dikatakan beriman orang yang berhukum kepada selain dari Rasulullah SAW atau orang yang menolak hukumnya atau ragu-ragu terhadap hukum itu. Allah SWT berfirman:

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Al Ahzab: 36)

Allah SWT juga menjelaskan dan menolak keimanan orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman-Nya:
"Dan mereka berkata: 'Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati (keduanya).' Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya mereka itulah orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: 'Kami mendengar, dan kami patuh.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (An-Nuur: 51)


Allah SWT juga menjelaskan tentang orang yang ragu-ragu dalam menerima keputusan Rasulullah SAW dan rela untuk menerima keputusan manusia lainnya, konon mereka adalah orang-orang Yahudi:

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syetan berrnaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum rasul," niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagairnanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah ."Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dan Kami tidak mengurus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka rnendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisaa': 60-65)


Inilah sikap orang-orang yang beriman terhadap Rasulullah SAW, hukum dan syari'atnya, sungguh mereka tidak merasa ragu-ragu sedikit pun dalam menerima hukum atau menolaknya. Dengan kata lain mereka tidak memilih alternatif lainnya dan mereka tidak meninggalkan ketundukan dan ketaatan, sebagaimana itu dilakukan oleh orang-orang munafik, bahkan prinsip dan semboyan mereka adalah "Sami'naa wa Atha'naa."
Sikap tersebut berbeda dengan sikap orang-orang munafik yang rela terhadap hukum selain hukum Allah dan Rasul-Nya. Dan segala sesuatu yang diikuti selain Allah dan Rasul-Nya disebut "Thaghut," oleh karena itu Allah SWT berfirman: "Yurriduuna an yatahaakamuu ila thaaghuut" itu membuktikan bahwa dalam kehidupan ini hanya ada dua hukum, yaitu hukum Allah dan hukum thaghut' tidak ada hukum yang ketiga.
Al Qur'an telah menggambarkan kepada kita tentang sifat-sifat orangorang munafik dan sikap mereka terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman Allah SWT:

"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul," niscaya kamu .lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu." (An-Nisaa': 61)


Al Qur'an juga meniadakan keimanan dari orang yang tidak mau berhakim kepada Rasulullah SAW ketika hidupnya, dan tidak mau berhukum pada Sunnahnya setelah beliau wafat. Kalaupun sudah demikian, itu masih belum cukup. Disyaratkan agar mereka ridha dan menyerah terhadap hukum tersebut. Inilah tabi'at keimanan dan inilah buahnya:

"Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang Kami berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisaa': 65)


Barangsiapa berpaling dari semua seruan ini dan menutup kedua telinganya dari ayat-ayat tersebut, malah sebaliknya menerima aturan-aturan, perundang-undangan, sistem dan tradisi dari selain jalan Rasulullah SAW serta ridha diatur oleh para filosof, baik dari timur atau barat, ulama atau umara atau apa pun namanya, berarti ia telah menentang Allah SWT terhadap apa yang Ia syari'atkan, dan telah mengumumkan permusuhan dengan Allah dan Rasul-Nya, dan telah keluar dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

"Barangsiapa yang tidak berhukum pada apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al Maaidah: 44)
"Barangsiapa tidak berhutum pada apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim." (Al Maidah: 45)
"Barangsiapa tidak berhukum pada apa yang diturunkan Allah, rnaka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (Al Maadiah: 47)
Penggunaan kata-kata tersebut (Kaafiruun, zhaalimuun, dan Faasiquun) di dalam Al Qur'an Al Karim menunjukkan bahwa maknanya berdekatan. Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang kafir mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al Baqarah: 254)
"Barangsuapa yang kufur setelah demikian itu maka mereka adalah orangorang yang fasik." (An-Nuur: 55)
"Tidak ada yang menentang ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang kafir." (Al Ankabut: 47)
Oleh karena itu A1 Qur'an menjadikan kefasikan itu sebagai perlawanan terhadap keimanan, sebagaimana dalam firman Allah SW:
"Seburuk-buruk nama (sebutan) adalah kefasikan setelah beriman." (Al Hujuraat: 11)
"Apakah orang mukmin itu sama dengan orang yang fasik, mereka tidaklah sama." (As-Sajadah: 18)
Al Qur'an juga menceritakan tentang Iblis ketika menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, sebagaimana firman Allah SWT:
"Ia membangkang dan sombong, dan ia tergolong orang-orang yang kafir." (Al Baqarah: 34)
"Dia (iblis) adalah (berasal) dari jin, kemudian ia fasik dan perintah Rabb-Nya." (Al Kahfi: 50)
Maka orang yang tidak berhukum pada apa yang diturunkan oleh Allah berarti dia kafir, zhalim atau fasik atau mengumpulkan sifat-sifat ini kesemuanya. Terutama apabila ia meyakini bahwa apa yang diturunkan oleh Allah itu mengakibatkan jumud (beku), terbelakang dan menjadi mundur, sedangkan hukum yang dibuat oleh manusia itulah yang membawa perkembangan, kemajuan, perbaikan sosial dan peningkatan tarap hidup.
Termasuk penyimpangan terhadap ayat-ayat Allah dan pelecehan yang nyata terhadap konsepsi pemikiran manusia jika ada yang mengatakan, "Bahwa sesungguhnya ayat-ayat ini diturunkan kepada Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani." Dan orang yang berkata ini lupa atau pura-pura lupa bahwa ayat-ayat muhkamat ini, meskipun diturunkan kepada kaum tertentu, tetapi kalimat-kalimatnya bersifat umum, di mana hukumnya meliputi seluruh manusia yang tidak berhukum pada hukum Allah SWT. Merupakan kaidah yang ditetapkan oleh para mufassirin, bahwa"Ibrah diambil dari umumnya lafadz, bukan sebab yang khusus." Dan mustahil jika Allah mencela Ahlul Kitab yang pertama dengan kezhaliman, kekufuran dan kefasikan karena mereka telah menolak membuang hukum Allah di belakang mereka dan tidak mau berhukum pada hukum Allah, lantas memperbolehkan kepada kaum Muslimin saat ini. Atau juga kepada Ahlul Kitab yang lainnya untuk menjadikan Kitab Allah menjadi terbengkalai (terabaikan, sementara sebagian yang lain telah menjadikannya sebagai minhaj (sistem) dan dustur (undang-undang) hidup mereka.
Apa faedahnya menyebutkan ayat-ayat itu dalam kaitannya dengan Ahlul Kitab kalau bukan memberi peringatan kepada kaum Muslimin agar jangan berbuat seperti mereka dan berhukum kepada selain hukum Allah, sehingga mereka dicela seperti Ahlul Kitab dan sehingga mereka ditimpa oleh adzab Allah dan murka-Nya. Allah SWT berfirman:
"Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia." (Thaha: 81)
Mengapa Allah SWT menurunkan kepada manusia kitab dan mengutus kepada mereka seorang Rasul, jika mereka kemudian membiarkan kitab itu dan menentang Rasul? Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab dengan haq (benar), agar supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu." (An-Nisaa': 105)
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah." (An-Nisaa': 64)
Oleh karena itu Allah SWT menjelaskan kepada Rasul-Nya setelah menyebutkan ayat-ayat di atas sebagai berikut:
"Dan Kami telah turunkan kepadamuAl Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putusilah perkara mereka menurut apa yangAllah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." (Al Maaidah: 48)
Kemudian Allah berfirman pada ayat-ayat berikutnya sebagai berikut:
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dan sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dan hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnnya kebanyakan munusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (A1 Maaidah: 49-50)
Dengan demikian maka dalam hidup ini hanya ada dua hukum, dan tidak ada ketiganya, yaitu hukum Islam atau hukum jahiliyah, hukum Allah atau hukum Thaghut. Maka hendaklah seseorang itu memilih untuk dirinya, dan hendaklah setiap kaum memilih untuk diri mereka' hukum Allah (hukum Islam) atau hukum Thaghut (hukum jahiliyah) dan tidak ada tengah-tengah dari keduanya.
Adapun orang-orang yang beriman maka tidak ada alternatif bagi mereka, mereka selalu siap bersama hukum Allah dan Rasul-Nya, mereka selalu siap bersama Islam' mereka senantiasa dalam peperangan dengan Thaghut dan hukum jahiliyah. Sesungguhnya syi'ar (semboyan) mereka apabila diseru kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka selalu mengatakan: "Sami'na wa 'atha'naa."
Sedangkan orang-orang yang kafir, mereka itu selamanya berada di jalan Thaghut, mereka selamanya dalam keadaan ragu, mereka berada dalam kubangan jahiliyah. Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang kafir, wali-wali (penolong-penolong) mereka adalah Thaghut, mengelaarkan mereka dan cahaya menuju kegelapan-kegelapan, mereka itulah penghuni neraka, mereka di dalamnya kekal selama-lamanya." (Al Baqarah: 257)

Di sini ada dua catatan penting' yaitu sebagai berikut:

Pertama: Bahwa sesungguhnya berhukum pada apa yang diturunkan Allah itu merupakan suatu kewajiban yang pasti, tidak ada seorang Muslim pun yang menentang, ungkapan itu sama dengan istilah yang berkembang saat ini"Hakimiyah adalah kepunyaan Allah." Yang berarti Allah-lah yang mempunyai hak (wewenang) secara mutlak untuk membuat suatu aturan hidup, berhak memerintah dan melarang, menghalalkan dan mengharamkan, yang berhak menentukan dan memberikan beban terhadap seluruh makhluk-Nya.
Sebagian orang salah memahami bahwa prinsip ini katanya berasal dari penemuan Al Maududi di Pakistan atau Sayyid Quthub di Mesir, padahal kenyataannya pemikiran (konsep) ini diambil dari ilmu"Ushul Fiqih Islami," dan ulama ushul memuat pembahasan ini dalam bab"Hukum" yang masuk dalam muqaddimah ilmu ushul, dan di dalam tema tentang"Al Hakim." Siapakah dia, mereka semuanya bersepakat bahwa"Al Hakim" (yang menjadi penentu hukum) adalah Allah, artinya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dalam mengatur makhluk-Nya, sampai golongan Mu'tazilah pun tidak mengingkari hal itu, sebagaimana dijelaskan oleh pensyarah kitab"Musallamus Tsubuut," salah satu kitab ushul yang terkenal.
Dalil-dalil atas ketetapan prinsip ini baik dari Al Qur'an maupun Sunnah jelas dan nyata yang sebagiannya telah kami sebutkan dalam menjelaskan kewajiban berhukum pada apa yang diturunkan oleh Allah.

Kedua: Bahwa sesungguhnya berhukum pada apa yang diturunkan Allah SWT itu tidak akan menghilangkan peran manusia, karena manusia itulah yang memahami nash-nash yang ditujukan kepadanya dan meng-istimbath (menyimpulkan hukum) dari nash-nash itu' kemudian memenuhi yang kosong dalam hal-hal yang tidak ada nashnya, yang kami katakan dengan istilah"Min Thaqatul 'Afwi" (sisi-sisi yang dimaafkan). Dan ini sangat luas di mana syari' (Allah SWT) sengaja tidak membahasnya sebagai rahmat (kasih sayang) Allah kepada kita, bukan karena lupa. Di sinilah akal seorang Muslim itu bisa mencapai dan berijtihad dalam pancaran nash-nash dan kaidah-kaidah ushul.
[1] Lihatlah makna Ibadah pada kitab saya,"Al Ibadah Fil Islam"
insya Allah bersambung
jazakumullah

donderdag, mei 01, 2008

lanjutan MA'RIFATUL INSAAN

AHLAN WA SAHLAN
REPRODUKSI MANUSIA: AKIBAT-AKIBATNYA ATAS TRANSFORMASI- TRANSFORMASI SPESIES
Menurut Bibel, Al-Quran, Sains oleh Dr. Maurice Bucaille

Setelah mencapai bab penelitian kita ini berkenaan denganjawaban-jawaban yang diberikan oleh Al-Quran kepadapertanyaan 'dari manakah asal-usul manusia?' kiranya kitabarangkali cenderung untuk berpikir bahwa tema ini telahsepenuhnya tergarap. Halnya memang tampak demikian setelahkita pelajari ayat-ayat yang dikutip dalam dua babsebelumnya. Tetapi kita mesti ingat bahwa mengenai salahsatu ayat ini kita melihat betapa bermanfaatnya untuk terusmelanjutkan analisis kita dengan bertumpu pada data yangterdapat di dalam Al-Quran berkenaan dengan reproduksimanusia. Sesungguhnya pernyataan-pernyataan Al-Quran yang berhubungandengan tema ini mengandung jawaban terhadappertanyaan-pertanyaan mengenai transformasi-transformasiyang terjadi dalam morfologi manusia selama berabad-abadyang memang diatur oleh kode genetik yang terbentuk karenabersatunya kromosom-kromosom yang diterima dari sel-selreproduksi keayahan dan keibuan. Dengan demikian, warisangenetik yang disatukan menentukan pertama embrio[7] dankemudian foitus,[8] suatu kemungkinan munculnyaperubahan-perubahan morfologis sebagaimana dibandingkandengan yang dimiliki oleh ayah atau ibu.Modifikasi-modifikasi ini menjadi bersifat pasti ataudefinitif setelah anak dilahirkan dan selama pertumbuhannyadi masa kanak-kanaknya. Paling tidak modifikasi-modifikasiini memberi kepada sang anak kepribadian struktural yangbersifat khas. Lepas dari kembar identik yang terbentuk darisatu ovule tak satu manusia pun benar-benar sama satu samalain. Sedangkan paling jauh hal ini adalah persoalanperbedaan-perbedaan susunan yang mempengaruhi spesies itusendiri. Karena itu, keseluruh-terpaduan perubahan yangterjadi dari generasi ke generasi, yang akhirnya menentukantransformasi-transformasi morfologis yang telah dicatat olehpara ahli paleontologi pada berbagai kelompok manusia sejakzaman dulu. Konsekuensinya, kita harus meninjau kembali pokok-pokokutama mengenai reproduksi yang terdapat di dalam Al-Quran.Oleh karena itu, secara ringkas saya akan meringkaskan studiterinci atas masalah ini yang muncul dalam Bibel, Al-Qurandan Sains Modern. Bagi kita, menangkap makna (khususnya berkenaan denganperbandingan antara pernyataan-pernyataan yang terkandungdidalam Kitab-kitab Suci dan data saintifik), kita mestiingat bahwa teks tersebut diturunkan kepada manusia padaabad ketujuh AD (Anno Domini)*. Karya manusia apa pun padamasa itu mengemukakan pernyataan-pernyataan yang tak tepat.Ilmu belum berkembang, maka mau tak mau pemaparan apa punmengenai reproduksi manusia penuh dengan gagasan-gagasanyang berasal dari mitos dan tahyul. Harus bagaimana lagi,sebab untuk memahami mekanisme kompleks dalam proses ini,manusia harus mengetahui anatomi dan menggunakan mikroskop,dan ilmu-ilmu dasar mesti dimaujudkan sehingga hal ini akanmelicinkan jalan bagi fisiologi, embriologi dan ilmukebidanan.

Pengingat Gagasan-Gagasan Tertentu Mengenai Reproduksi Manusia


Yang saya niatkan di sini bukanlah mengajukan teori-teoritetapi menyajikan gagasan-gagasan yang didasarkan padafakta-fakta. Teori-teori pada hakikatnya terbuka bagiperubahan. Jika didekati dari suatu sudut teoritis, sainsyang berada dalam keadaan yang sahih sekarang bisa sajadisalahkan besok. Oleh karena itu, suatu dasar yang memadaiuntuk perbandingan adalah dasar yang bertumpu pada dayasaintifik dan tidak terbuka bagi perubahan, yang telahbenar-benar dikukuhkan dan diuji melalui eksperimentasi danmalah mungkin telah secara efektif dipraktekkan. Sudah merupakan fakta yang diakui bahwa reproduksi manusiaberlangsung dalam suatu rangkaian proses yang dimulai denganpembuahan di dalam tabung Falopia,* suatu sel telur yangtelah memisahkan dirinya dari indungnya di tengah perjalananmelalui siklus menstrual. Yang melakukan pembuahan tersebutadalah suatu sel yang berasal dari pria, yaitu spermatozoa,yang berpuluh-puluh juta spermatozoa terkandung dalam satusentimeter kubik sperma. Meskipun demikian, yang dibutuhkanuntuk menjamin terjadinya pembuahan adalah satu spermatozoasaja, atau dengan kata lain, sejumlah sangat kecil cairansperma. Cairan benih dan spermatozoa diproduksi oleh buahpelir dan untuk waktu tertentu disimpan di dalam suatusistem saluran dan tandon. Ketika terjadi kontak seksual,spermatozoa itu berpindah dari tempat penyimpanannya kesaluran kencing, dan di tengah jalan, cairan tersebutdiperkaya dengan keluaran-keluaran getah lebih lanjut yang,meskipun demikian, tidak mengandung unsur-unsur pembuah.Keluaran-keluaran getah ini, meskipun demikian, akanmemberikan suatu pengaruh besar atas pembuahan tersebutdengan membantu sperma untuk sampai ke tempat sel telurwanita dibuahi. Dengan demikian, cairan sperma itu merupakansuatu campuran: ia mengandung cairan benih dan berbagaikeluaran getah tambahan. Begitu sel telur dibuahi, ia turun ke rahim melalui tabungFalopia; bahkan pada saat ia turun itulah, ia telah mulaiterpecah. Kemudian 'menanamkan' dirinya dengan menyusup kedalam ketebalan atau kekentalan lendir dan otot-otot, begitutembuni terbentuk. Segera setelah embrio tampak oleh mata telanjang, iaterlihat sebagai suatu kelemit daging yang tidak memilikibagian-bagian yang bisa dibedakan. Di sana ia berkembangsecara bertahap hingga mencapai satu bentuk manusia, selamatahap-tahap ini bagian-bagian tertentu seperti kepala agaklebih besar volumenya dibanding bagian-bagian tubuhselebihnya. Hal-hal ini akhirnya menyusut, sedang strukturpenopang hidup dasar membentuk kerangka yang dikelilingiotot-otot, sistem syaraf, sistem peredar, isi perut (bagiandalam tubuh) dan sebagainya. Pernyataan-Pernyataan dalam Al-Quran

Ringkasan singkat di atas menggambarkan tahap-tahap dasarperkembangan yang pada halaman-halaman berikut akan kitaperbandingkan dengan pernyataan-pernyataan dalam Al-Quran.Untuk lebih mempermudah pemahaman atas butir-butir yangdiajukan di dalam Al-Quran, kiranya bisa didaftar sebagaiberikut:
1. sejumlah kecil cairan yang dibutuhkan untuk pembuahan;
2. campuran cairan pembuahan;
3. penanaman telur yang telah dibuahi;
4. evolusi embrio

Sejumlah Cairan Yang Dibutuhkan Untuk Pembuahan

"(Tuhan) telah membentuk manusia dari sejumlah kecil mani."(QS 16:4) Ungkapan ini terdapat sebelas kali dalam Al-Quran. Katabahasa Arab yang diterjemahkan di sini sebagai sejumlahkecil (sperma) adalah nuthfah. Barangkali hal ini bukanlahpenerjemahan yang paling ideal, tetapi tampaknya tak adasatu kata dalam bahasa Inggris pun yang bisa sepenuhnyamenangkap makna penuhnya. Kata tersebut berasal dari katakerja bahasa Arab yang berarti 'jatuh bertitik ataumenetes.' Arti utamanya merujuk kepada jejak cairan yangtertinggal di dasar sesuatu ember setelah ember dikosongkan.Dengan kata lain sejumlah sangat kecil cairan yang merupakanarti kedua kata tersebut yaitu setetes air. Dalam contohkhusus ini ia berarti sejumlah kecil sperma, karena katatersebut dikaitkan dengan kata 'sperma' (mani di dalambahasa Arab) dalam ayat berikut:
"Bukankah (manusia) dahulu merupakan setetes mani yangditumpahkan." (QS 75:37) Penting untuk disadari bahwa Al-Quran menyatakan secarajelas bahwa kemampuan sperma untuk membuahi tidak bergantungpada volume cairan yang di-'semburkan.' Gagasan bahwasejumlah sangat kecil cairan sebagai sepenuhnya bersifatefektif tidak segera tampak nyata. Orang-orang yang tak tahufakta sebenarnya berkenaan dengan gejala ini pasti akancenderung berpikir sebaliknya. Namun lebih dari seribu tahunsebelum kemaujudan spermatozoa ditemukan di awal abad 17Al-Quran mengungkapkan gagasan-gagasan yang terbukti benarberdasarkan penemuan identitas unsur pembuah yang diukurdalam satuan-satuan perseribu milimeter. Adalah benar-benarspermatozoalah yang terdapat di dalam cairan benih yangmengandung pita DNA. Hal ini pada gilirannya membentukkendaraan bagi gen-gen dari sang ayah yang bersatu dengangen-gen dari ibu untuk membentuk warisan genetik bagi calonmanusia. Gen-gen yang terkandung di dalam sel reproduksi pria -yangbergabung dengan gen-gen sel reproduksi wanita- membentukfaktor-faktor yang akan menentukan berbagai kekhasan calonmanusia itu. Sebagaimana telah kita lihat sebelumnya dalambuku ini, begitu penyusutan kromatik berlangsung, makaspermatozoa itu membawa gen-gen yang mengandungfaktor-faktor yang menentukan apakah calon manusia itu akanberjenis kelamin laki-laki (hemicromosom Y) atau wanita(hemicromosom X). Jika, di antara tak terhitung banyaknyaspermatozoa yang berkumpul di sekitar tepi sel telur sebagaisel-sel pembuah yang mungkin, satu spermatozoa yangbenar-benar berhasil membuahinya mengandung hemicromosom Y,maka calon anak tersebut akan menjadi anak laki-laki. Jikaspermatozoa yang menembus sel telur mengandung hemicromosomX, maka anak tersebut akan menjadi seorang anak perempuan.Oleh karena itu, jenis kelamin seseorang, secara genetik,ditentukan pada saat terjadi pembuahan oleh unsur pembuah,dalam sejumlah sangat kecil, dan setelahnyakekhasan-kekhasan seksual anak tersebut terus terbentuk.Al-Quran mengandung pernyataan di bawah ini mengenai masalahdi atas (ketika merujuk kepada manusia):

"Dari sejumlah kecil cairan, (Tuhan) membentuknya (dalamproporsi yang tepat) lalu menentukannya." (QS 80:19)

(Saya telah menerjemahkan kata khalaqa sesuai dengan artiaslinya -yang disebutkan dalam bab sebelumnya- yaitu'membentuk dengan proporsi yang sesuai' atau 'membentuk' danbukannya dengan kata kerja 'menciptakan.' Kita tentu mesti mengakui bahwa dalam hal ini ada kesesuaianyang mencengangkan antara pernyataan-pernyataan dalamAl-Quran berkenaan dengan suatu ketentuan yang ditetapkanpada tahap ini dan pengetahuan kita tentang fakta bahwawarisan genetik yang diterima dari ayahlah yang menentukanjenis kelamin seseorang suatu hal yang ditekankan di atas.
Catatan kaki:
7 Sebelum bulan kedua masa kehamilan.
8 Setelah bulan kedua masa kehamilan.
* Anno Domini: penanggalan yang dibuat dengan bertolak darikelahiran Yesus penyunting.

* Tabung Falopia: pembuluh lembut yang menghubungkan rahimdengan daerah indung telur dalam sistem reproduksi wanita(manusia) dan betina (hewan-hewan bertulang belakang yanglebih tinggi) - penyunting.9 Jika memang demikian, tentu hukum-hukum ketata-bahasaansatu segi dari teks Al-Quran yang tak pernah salah akanmenentukan bahwa kata itu muncul dalam bentuk ganda, danbukan dalam bentuk jamak sebagaimana muncul di sini.
* Prostat: sebuah kelenjar pada hewan menyusui yang terdiriatas jaringan otot dan kelenjar yang mengelilingi salurankencing (sperma) pada kandung kemih -penyunting.

Kompleksitas Cairan Pembuah

Ini merupakan suatu konsep yang sangat tepat dan dengangamblang diungkapkan dalam ayat-ayat Al-Quran berikut ini.
"Sungguh Kami telah membentuk manusia dari sejumlah kecilcairan yang bercampur." (QS 76 :2) I

stilah 'cairan-cairan yang bercampur' berkaitan dengan kataArab amsyaj. Para pengulas terdahulu mengartikan kata inisebagai suatu cairan laki-laki dan wanita[9] sedemikiansehingga seakan-akan wanita juga menghasilkan cairan-cairanyang berperan dalam reproduksi. Penafsiran seperti ini takbisa dipertahankan lagi. Hal ini tak lain adalah cerminandari gagasan-gagasan yang populer pada saat Al-Qurandiwahyukan kepada manusia, suatu periode yang di dalamnyasecara amat alami orang tak tahu apa-apa tentang fisiologiatau embriologi wanita. Hal ini menjelaskan kenapa parapengulas terdahulu percaya pada kemaujudan suatu cairan yangbersumber dari wanita yang berperan dalam proses pembuahan.Celakanya, pendapat-pendapat seperti ini, yang diungkapkanoleh para pengulas yang tak syak lagi sangat terkemuka danmemenuhi syarat untuk berbicara tentang masalah-masalahkeagamaan, terus mempengaruhi penafsiran-penafsiran yangdiberikan oleh para ahli masa kini berkenaan dengan berbagaimacam masalah, yaitu gejala-gejala alam. Oleh karena itu,kita mesti menegaskan fakta bahwa sel telur wanita tidakterkandung di dalam suatu cairan seperti sperma, dan bahwaberbagai keluaran getah yang benar-benar terjadi di dalamvagina dan lendir rahim sepenuhnya tak ada hubungannyadengan pembentukan suatu manusia baru sejauh menyangkut zataktual mereka. 'Cairan-cairan yang bercampur' yang dirujuk oleh Al-Quranhanya khas bagi cairan sperma yang kompleksitasnya dengandemikian terpaparkan. Seperti kita ketahui, cairan ini terdiri ataskeluaran-keluaran getah dari kelenjar-kelenjar berikut ini:buah pelir-buah pelir benih (mani), prostat* dankelenjar-kelenjar yang melekat pada saluran kencing. Al-Quran masih menyebut hal-hal lain. Ia juga menjelaskankepada kita bahwa unsur pembuah pria berasal dari cairansperma. "(Tuhan) menjadikan keturunannya dari saripati cairan yanghina." (QS 32:8)

Kata sifat 'yang hina' (mahin di dalam bahasa Arab) mestiditerapkan tidak saja pada sifat cairan itu sendirimelainkan juga pada fakta bahwa ia disemprotkan melaluisaluran kencing. Mengenai kata 'saripati', kita sekali lagi bertemu dengankata Arab sulalat, yang kepadanya kita tadi merujuk dalammemperbincangkan pembentukan manusia, selama Penciptaan,dari 'sari pati' lempung. Hal itu menunjuk pada 'sesuatuyang diambil dari sesuatu yang lain', sebagaimana kita lihatdi atas, dan juga kepada bagian terbaik dari sesuatu '.Konsep yang diungkapkan di sini tidak bisa tidak, membuatkita berpikir tentang spermatozoa.

Penanaman Telur Dalam Organ-Organ Kemaluan Wanita

Penanaman sel telur yang telah terbuahi di dalam rahimdisebutkan dalam banyak ayat Al-Quran. Kata Arab yangdigunakan dalam konteks ini adalah 'alaq, yang arti tepatnyaadalah 'sesuatu yang bergantung' sebagaimana dalam ayatberikut ini.
"Bukankah (manusia) dahulu adalah sejumlah kecil sperma yangditumpahkan? Kemudian ia menjadi sesuatu yang bergantung;lalu Allah membentuknya dalam ukuran yang tepat danselaras." (QS 75:37-38)

Merupakan suatu fakta yang kuat bahwa sel telur yang dibuahitertanam dalam lendir rahim kira-kira pada hari keenamsetelah pembuahan mengikutinya dan secara anatomis sungguhtelur tersebut merupakan sesuatu yang bergantung. Gagasan tentang 'kebergantungan' mengungkapkan arti aslikata dalam bahasa Arab 'alaq. Salah satu turunan dari katatersebut adalah 'segumpal darah,' suatu penafsiran yangmasih kita temukan sekarang dalam terjemahan-terjemahanAl-Quran. Hal ini sepenuhnya merupakan terjemahan yang tidaktepat dari pengulas-pengulas zaman dahulu yang melakukanpenafsiran menurut arti turunan kata tersebut. Karenakurangnya pengetahuan pada waktu itu, maka mereka tak pernahmenyadari bahwa arti asli kata tersebut sudah sepenuhnyamemadai. Di samping itu, dalam hal ayat-ayat yang mengandungpengetahuan modern, ada satu kaidah umum yang terbukti takpernah salah, yaitu bahwa makna paling tua dari suatu kataselalu merupakan arti yang dengan jelas menunjukkankesetaraannya dengan penemuan-penemuan ilmiah, sedangarti-arti turunannya secara berubah-ubah membawa kepadapernyataan-pernyataan yang tidak tepat atau malah samasekali tak punya arti.
Segera setelah berevolusi melampaui tahap yang dicirikan didalam Al-Quran oleh kata sederhana 'sesuatu yangbergantung,' embrio, menurut Al-Quran, melewati satu tahapyang di dalamnya ia secara harfiah tampak seperti daging(daging yang digulung-gulung). Sebagaimana kita ketahui iaterus tampak demikian sampai kira-kira hari kedua puluhketika ia mulai secara bertahap mengambil bentuk manusia.Jaringan-jaringan tulang dan tulang belulang mulai tampakdalam embrio itu yang secara berturutan diliputi olehotot-otot. Gagasan ini diungkapkan dalam Al-Quran sebagaiberikut:

"Kami bentuk hal yang menjadi segumpal daging yangdigulung-gulung, dan segumpal daging itu Kami bentuk menjaditulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkusdengan daging yang utuh." (QS 23 14)

Dua tipe daging yang diberi dua nama berbeda di dalamAl-Quran, yang pertama 'daging yang digulung-digulung'disebut sebagai mudhraj, sedang yang kedua 'daging yangmasih utuh' ditunjukkan oleh kata lahm yang memangmenguraikan secara amat tepat bagaimana rupa otot itu. Al-Quran juga menyebutkan munculnya indera-indera danbagian-bagian dalam tubuh.

"(Tuhan) menganugerahkan bagimu pendengaran, penglihatan danbagian-bagian dalam tubuh." (QS 32:9) Penunjukan dalam Al-Quran kepada organ-organ seksual mestijuga kita perhatikan, karena perujukan olehnya sungguhsangat tepat sebagaimana ditunjukkan oleh ayat ini.

"(Tuhan) membentuk berpasang-pasangan laki-laki danperempuan dari sejumlah kecil (sperma) ketika sejumlah kecil(sperma) itu dipancarkan." (QS 53 :45-46) Sebagaimana telah kita lihat di atas, Al-Quran menekankanfakta bahwa hanya sejumlah amat kecil cairan sperma yangdibutuhkan untuk pembuahan. Unsur pembuah pria, yaituspermatozoa, mengandung hemicromosom yang akan menentukanjenis kelamin calon manusia itu. Saat-saat yang menentukanterjadi ketika spermatozoa menembus sel telur dan kemudianjenis kelamin tersebut tidak berubah. Ayat-ayat yang dikutipdi atas menunjukkan bahwa jenis kelamin manusia ditentukanoleh sejumlah kecil cairan pembuah. Cairan inilah yangmembawa spermatozoa yang mengandung hemicromosom yangmenentukan bentuk seksual manusia baru. Dalam konteks initeks Al-Quran dan data embriologi modern secara sangatmencengangkan ternyata sama. Semua pernyataan ini sesuai dengan fakta-fakta kuat masakini. Tetapi bagaimana orang-orang yang hidup pada masaMuhammad dapat mengetahui berbagai rinci embriologi? Karenadata ini belum ditemukan sampai seribu tahun setelah wahyuAl-Quran diturunkan. Sejarah sains membuat kita menyimpulkanbahwa tak ada satu penjelasan manusia mengenai kemaujudanayat-ayat ini di dalam Al-Quran.

Transformasi-Transformasi Bentuk Manusia Sepanjang Abad dan Perkembangan Embrionik
Bagi orang-orang yang tidak akrab dengan embriologi dangenetika, tidak segera tampak bahwa setiap dan semuamodifikasi yang berlangsung di dalam individu manusiaberasal dari perubahan-perubahan yang terjadi pada gen-genyang diberikan kepada individu baru oleh kromosom-kromosomyang diturunkan dari ayah dan ibunya. Sebagaimana dinyatakansebelumnya, satu pembagian berlangsung dalam setiap warisangenetis yang diikuti satu penyatuan unsur-unsur yang berasaldari paruh masing-masing. Hal ini dengan cepat menimbulkanawal perubahan-perubahan morfologis selama kehamilan, dandengan demikian juga modifikasi-modifikasi fungsional yangmuncul kemudian. Dengan demikian transformasi-transformasiterus berlangsung setelah lahirnya sang bayi, melewatipertumbuhan masa kecil, hingga individu tersebut mencapaikedewasaan dan transformasi-transformasi tersebut sepenuhnyasempurna. Jika konsep-konsep ini tidak dipahami dengan benar, makakesalahan-kesalahan bisa terjadi berkenaan dengangagasan-gagasan orang-orang yang biasa berpikir bahwaayat-ayat Al-Quran yang dikutip dalam bab ini berkenaanhanya dengan perkembangan bayi di dalam rahim danmengabaikan perkembangan morfologis berikutNya dari manusiaitu. Itulah sebabnya kenapa sangat penting untuk memasukkansemua ayat yang merujuk pada reproduksi manusia dalam studikita mengenai bagian -bagian teks Al-Quran yang- sejauh yangdapat saya lihat berhubungan dengan transformasi-transformasibentuk manusia selama berabad-abad. Untuk menjernihkan persoalan ini, saya akan memberikan satucontoh berkenaan dengan transformasi patologis yang terdiriatas suatu kerusakan bawaan yang khususnya umum terjadi diantara kesalahan-kesalahan pembentukan manusia: yaitumongolisme.° Penemuan-penemuan telah menunjukkan bahwa halitu disebabkan atau diakibatkan oleh berlipat tiganya suatukromosom yang telah diberi nomor 21, yang darinya kerusakantersebut mengambil nama Trisomi 21. Pada masa kini diketahuibahwa penyebabnya terletak pada gen-gen yang terkandungdalam kromosom dan bahwa kerusakan tersebut terjadi denganfrekuensi maksimum ketika ibu sang bayi berumur lebih dari40 tahun. Penyakit tersebut dicirikan oleh suatu perkembangan fisikdan intelegensia kanak-kanak dan bentuk-bentuk morfologiskhas tertentu yang barangkali tidak tampak jelas waktukelahiran tapi kemudian menjadi sangat nyata. Jadi, kondisitersebut dikenali, cepat atau lambat, sesuai dengan tingkatkeseriusannya. Meskipun demikian, apa pun kasusnya,karakteristik dasarnya diperoleh selama minggu-minggupertama kehidupan. Modifikasi-modifikasi morfologis yang bermacam-macam dalamdiri manusia mengikuti pola yang sama. Proses tersebutbermula selama kehamilan, dan secara bertahap menjadi lebihnyata hingga manusia tersebut mencapai kedewasaan. Dengandemikian, selama generasi-generasi yang berturutan yangmemisahkan Australopitecus dari manusia modern (yangmencapai sepuluh ribu unit), masuk akallah untuk beranggapanbahwa tak sedikit modifikasi yang terjadi dalam setiapgenerasi, yang secara bertahap tertumpuk hingga menghasilkantransformasi-transformasi yang melahirkan manusiasebagaimana kita kenali pada masa kini. Oleh karena itu,adalah mustahil, berkenaan dengan hasil akhirnya, untukmemisahkan modifikasi-modifikasi kecil yang selaras yangterjadi atau berlangsung dalam setiap generasi di dalamrahim dari transformasi-transformasi menyeluruh yang terjadiatas sejumlah besar generasi. Penjelasan ini diperlukanuntuk memahami cara Al-Quran mengungkapkan konsep ini,sehubungan dengan evolusi embrio di dalam rahim, menurutkehendak Allah, sebagaimana dinyatakan dengan jelas di dalamAl-Quran.

Catatan kaki:

° Mongolisme: kepandiran bawaan, yang dalam kepandiran
bawaan itu seorang anak dilahirkan dengan tengkorak kepala
yang pendek dan rata (pesek), kedua mata yang sipit, dan
kelainan-kelainan lain -penyunting
(SELESAI)

Asal Manusia
Menurut Bibel, Al-Quran, Sains
oleh Dr. Maurice Bucaille
Penerbit Mizan, Cetakan VII, 1994



jazakumullah

MA'RIFATUL INSAAN

AHLAN WA SAHLAN

Salah satu sifat asli Al-Quran, yang membedakannya dariBibel sebagaimana disebutkan di atas, adalah bahwa untukmengilustrasikan penegasan yang berulang-ulang tentangke-Mahakuasaan Tuhan, Kitab tersebut merujuk kepada suatukeragaman gejala alam. Dalam hal sejumlah besar fenomena iniia juga memberikan suatu uraian terinci tentang carafenomena-fenomena itu berevolusi -penyebab-penyebab danakibat-akibatnya. Kesemua rincian ini pantas untukdiperhatikan. Pernyataan-pernyataan yang dikandung olehAl-Quran tentang manusia, adalah di antara yang palingmengejutkan saya ketika saya membaca kitab tersebut untukpertama kalinya dalam bahasa Arab aslinya. Hanya yangaslinya sajalah yang bisa menjelaskan makna sejatipernyataan-pernyataan yang amat sering disalahterjemahkandisebabkan alasan-alasan yang disebut di atas. Yang menjadikan penemuan-penemuan ini sangat penting adalahbahwa kesemuanya itu merujuk pada banyak pengertian yangbelum dikenal pada saat-saat Al-Quran diwahyukan kepadamanusia dan yang -baru empat belas abad kemudian- terbuktisepenuhnya selaras dengan sains modern. Dalam konteks inisama sekali tak perlu mencari-cari penjelasan-penjelasanpalsu yang cenderung muncul di beberapa publikasi dan bahkandi dalam sejarah-sejarah ilmu kedokteran yang di dalamnyaMuhammad dianggap sebagai memiliki kemampuan-kemampuankedokteran (sebagaimana juga Al-Quran disebut-sebut sebagaimengandung resep-resep kedokteran, suatu gagasan yangsepenuhnya tidak tepat).

[1] Asal-Usul Kehidupan-

- Al-Quran memberikan jawaban yang amat jelas pada pertanyaan:Pada titik manakah kehidupan bermula? Dalam bagian ini, sayaakan mengajukan ayat-ayat Al-Quran yang di dalamnyadinyatakan bahwa Asal Manusia adalah (bersifat) air.Ayat pertama di bawah ini juga menunjuk kepada pembentukanalam semesta.


"Tidakkah orang-orang kafir itu melihat bahwa lelangit danbumi disatukan, kemudian mereka Kami pisahkan dan Kamimenjadikan setiap yang hidup dari air. Lantas akankah merekatak beriman?" (QS 21:30)

Pengertian 'menghasilkan sesuatu dari sesuatu yang lain'sama sekali tidak menimbulkan keraguan. Ungkapan tersebutbisa juga berarti bahwa setiap sesuatu yang hidup dibuatdari air (sebagai komponen pentingnya) atau bahwa semuabenda hidup berasal dari air. Kedua makna itu sepenuhnyasesuai dengan data saintifik. Pada kenyataannya, kehidupanberasal dari yang bersifat air dan air adalah komponen yangpaling penting dari seluruh sel-sel hidup. Tanpa air hidupmenjadi tidak mungkin. Jika kemungkinan kehidupan padaplanet lain diperbincangkan, maka pertanyaan yang pertamaselalu: Adakah cukup air untuk mendukung kehidupan di tempattersebut? Data modern membawa kita untuk berpikir bahwa wujud hidupyang paling tua barangkali termasuk dalam duniatumbuh-tumbuhan: ganggang telah ditemukan sejak periodepra-Cambria yaitu saat dikenalinya daratan yang paling tua.Organisme yang termasuk dalam dunia hewan barangkali munculsedikit lebih kemudian: mereka muncul dari laut. Kata yang di sini diterjemahkan sebagai 'air' padakenyataannya adalah ma'[2] yang berarti baik air di langitmaupun air di lautan atau segala jenis cairan. Dalam artiyang pertama air merupakan unsur yang penting bagi seluruhkehidupan tumbuh-tumbuhan:

"(Tuhan sajalah) yang telah menurunkan air dari langit. MakaKami[3] tumbuhkan (dari air itu) berpasang-pasangtumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda." (QS 20:53)

Inilah perujukan pertama kepada suatu 'pasangan'tumbuh-tumbuhan. Nanti kita akan kembali kepada pengertianini. Dalam arti keduanya yang merujuk pada segala jenis cairan,kata tersebut dipergunakan dalam bentuk tak-tentunya untukmenunjukkan zat yang berada pada dasar pembentukan seluruhkehidupan hewan:


"Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air."(QS 24:45)

Sebagaimana akan kita lihat nanti, kata tersebut juga bisaditerapkan pada cairan mani.[4] Jadi, pernyataan-pernyataan dalam Al-Quran tentang asal-usulkehidupan, apakah itu merujuk kepada kehidupan secara umum,unsur yang melahirkan tumbuh-tumbuhan di dalam tanah ataupunbenih hewan-hewan, seluruhnya sepenuhnya sesuai dengan datasaintifik modern. Tak satu pun mitos tentang asal-usulkehidupan yang lazim dianggap benar oleh orang pada saatAl-Quran diwahyukan kepada manusia disebutkan dalam tekstersebut. Keberlangsungan Kehidupan------------------------------------------------------------

Al-Quran merujuk pada banyak aspek kehidupan di dalam duniahewan dan tetumbuhan. Saya telah menguraikan kesemuanya itudalam karya saya sebelum ini yang diterbitkan pada tahun1976 (edisi bahasa Inggris, 1978).

Dalam studi ini sayaingin memusatkan perhatian pada ruang yang diberikan dalamAl-Quran kepada tema keberlangsungan kehidupan. Berbicara secara umum, komentar-komentar yang diberikan ataspembiakan (reproduksi) dalam dunia tumbuh-tumbuhan bersifatlebih panjang daripada yang merujuk kepada pembiakan dalamdunia hewan. Meskipun demikian, ada banyak pernyataan yangmenggarap tema reproduksi manusia, sebagaimana akan kitalihat di bawah ini. Sudah merupakan suatu pengetahuan yang diakui bahwa ada duametode reproduksi di dalam dunia tumbuh-tumbuhan: yaitu yangbersifat seksual dan aseksual (contohnya, pelipatgandaanspora-spora atau proses menyetek yang merupakan kasus-khususpertumbuhan). Perlu kita perhatikan, bahwa Al-Quran merujukkepada bagian-bagian jantan dan betina tetumbuhan tersebut:


"(Tuhan sajalah) yang telah menurunkan air dari langit. MakaKami tumbuhkan (dari air itu) berpasang-pasangtumbuh-tumbuhan yang saling terpisah." (QS 20:53)

"Satu dari sepasang" merupakan penerjemahan dari kata zauj(jamaknya azwaj) yang arti aslinya adalah "yang bersama-samadengan yang lainnya membentuk satu pasangan." Kata tersebutbisa juga langsung diterapkan pada pasangan kawin (artinya,manusia), sebagaimana juga pasangan sepatu.

"Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang- pasangan." (QS 13:3)

Pernyataan ini berarti kemaujudan organ-organ jantan danbetina dalam seluruh beragam spesies buah-buahan. Hal inisepenuhnya sesuai dengan data yang ditemukan pada kurunwaktu yang jauh lebih kemudian berkenaan dengan pembentukanbuah, karena seluruh tipe berasal dari tetumbuhan yangmemiliki organ-organ seksual (sekalipun beberapa varietas,seperti pisang, berasal dari bunga-bungaan yang tidakdibuahi). Pada umumnya, reproduksi seksual di dunia hewan hanyadigarap secara ringkas dalam Al-Quran. Pengecualian dalamhal ini adalah berkenaan dengan manusia. Karena, sepertiyang akan kita lihat kemudian dalam bab berikut ini,pernyataan-pernyataan mengenai topik ini berjumlah banyakdan sangat terinci.

------------- Catatan kaki:
1 Seluruh kandungan Al-Quran merupakan ketentuan-ketentuantertentu mengenai kebiasaan-kebiasaan yang sehat seperti:kebersihan diri, larangan minum alkohol; suatu ketentuanseperti berpuasa di bulan Ramadhan juga merupakan bagianyang jelas dari aturan-aturan ini. Penyebutan madu di dalamAl-Quran tidak mencakup indikasi apa pun mengenaikasus-kasus khusus yang di situ madu ternyata bermanfaatbagi kesehatan manusia.

2 Pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut transliterasibahasa Arab ke Latin, hendaknya melihat bagan dalam Bibel,Quran, dan Sains Modern (Edisi Prancis).3 Perubahan dalam struktur gramatikal suatu ungkapan inibersifat umum atau lazim dalam Al-Quran. Tuhan adalah yangmula pertama dirujuk secara tak langsung, kemudian tekstersebut mengaitkan Firman-Firman Langsung-Nya, sebab 'Kami'dengan jelas berarti Tuhan.4 Disimpan oleh kelenjar reproduksi, cairan mani mengandungspermatozoa.

ASAL-USUL MANUSIA DAN TRANSFORMASI-TRANSFORMASI BENTUK MANUSIA SEPANJANG ZAMAN


Beberapa ayat di dalam Al-Quran berikut ini tidak mengandungsesuatu pun kecuali makna spiritual mendalam. Yang lainnya,dalam pandangan saya, merujuk kepadatransformasi-transformasi yang tampaknya menunjukkanperubahan-perubahan di dalam morfologi manusia. Yangterkemudian ini menguraikan fenomena yang sepenuhnyabersifat material, yang terjadi di dalam berbagai fase tapiselalu dalam susunan yang tepat. Campur tangan kehendakTuhan, yang mengatasi segalanya, disebutkan beberapa kalidalam ayat-ayat ini. Hal tersebut tampak dimaksudkan untukmengarahkan transformasi-transformasi yang terjadi selamasuatu proses yang hanya bisa diuraikan sebagai suatu'evolusi.' Di sini, kata tersebut dipergunakan dengan maksuduntuk menunjukkan satu rangkaian modifikasi-modifikasi yangtujuannya adalah untuk sampai kepada satu bentuk definitif(tetap). Tambahan pula, penekanan diberikan kepada gagasanbahwa ke-Mahakuasaan Tuhan tampil pada kenyataan bahwa Iamemusnahkan populasi manusia untuk memberi jalan bagipopulasi baru lainnya: hal ini tampak bagi saya sebagaitema-tema utama yang muncul dari himpunan ayat Al-Quran yangdisatukan di dalam bab ini. Tak syak lagi, para pengulas terdahulu tidak mampu melihatadanya gagasan bahwa bentuk manusia bisa jadi telahmengalami transformasi. Meskipun demikian, merekaberkehendak untuk mengakui bahwa perubahan-perubahan mungkinsaja benar-benar telah terjadi dan mereka mengakuikemaujudan tahapan-tahapan di sepanjang perkembanganembrionik -suatu gejala yang biasa teramati pada seluruhkurun waktu dalam sejarah. Meskipun demikian, hanya padamasa kita inilah, sains modern mengizinkan kita untuksepenuhnya memahami arti ayat-ayat Al-Quran yang menunjukkepada tahapan-tahapan berturutan dari perkembanganembrionik di dalam rahim. Pada saat ini kita memang bisa bertanya-tanya apakahperujukan-perujukan di dalam Al-Quran kepada tahap-tahapyang berurutan dari perkembangan manusia, paling tidak padabeberapa ayat, tidak melampaui sekadar pertumbuhan embrioniksedemikian sehingga mencakup transformasi-transformasimorfologi manusia yang terjadi selama berabad-abad.Kemaujudan perubahan-perubahan seperti itu telah secararesmi dibuktikan oleh paleontologi dan buktinya sangatbanyak sehingga tak perlu lagi untuk mempertanyakannya. Para penafsir Al-Quran terdahulu barangkali tak punyafirasat bakal adanya penemuan-penemuan pada berabad-abadkemudian. Mereka hanya bisa memandang ayat-ayat khusus inidalam konteks perkembangan embrio, tak ada alternatif lainpada masa itu. Kemudian tibalah bom Darwin yang -melalui pemuntiranterang-terangan teori Darwin oleh para pengikut awalnya-mengekstrapolasikan pengertian tentang suatu evolusi yangbisa diterapkan atas manusia, meskipun tingkat evolusinyabelum lagi dibuktikan di dalam dunia hewan. Dalam halDarwin, teori tersebut didorong sampai ke tingkat ekstremsedemikian sehingga para peneliti mengklaim sebagai telahmemiliki bukti bahwa manusia berasal dari kera -suatugagasan yang, bahkan pada masa sekarang, tak seorang ahlipaleontologi terhormat sekalipun mampu membuktikannya. Meskidemikian jelas terdapat satu jurang yang sangat senjang diantara konsep tentang manusia yang berasal dari kera (suatuteori yang sepenuhnya tak bisa dipertahankan) dengan gagasantransformasi-transformasi bentuk manusia di sepanjang waktu(yang telah sepenuhnya dibuktikan). Kerancuan antarakeduanya telah mencapai puncaknya ketika mereka digabungkanmenjadi satu -dengan hujjah-hujjah yang sangat dicari-cari-di bawah panji kata EVOLUSI.

Kerancuan yang tidakmenguntungkan ini telah menyebabkan beberapa orang secarasalah mengkhayalkan bahwa karena kata tersebut dipergunakanuntuk menunjuk manusia, maka ia mesti berarti bahwa, menurutkenyataan itu sendiri, Asal Manusia bisa dilacak hinggakera. Adalah amat penting untuk memahami dengan gamblang perbedaandi antara keduanya; kalau tidak, ada risiko timbulnyakesalahpahaman tentang makna yang dikaitkan kepada beberapaayat Al-Quran tertentu yang akan saya kutip. Di dalamayat-ayat ini tak ada satu isyarat yang paling samar-samarpun berkenaan dengan bukti untuk mendukung teorimaterialistis tentang asal-usul manusia yang amatmengguncangkan kaum Muslim, Yahudi dan Nasrani tersebut.

Makna Spiritual Mendalam Penciptaan Manusia dari Tanah

Sebagaimana ditunjukkan oleh kedua ayat berikut ini, manusiaditampilkan di dalam Al-Quran sebagai suatu wujud yang amaterat berkaitan dengan tanah (perujukan pertama):


"Dan Allah menumbuhkan kamu sebagai suatu tumbuhan daritanah, dan kemudian Dia akan mengembalikan kamu kepadanya,Dia akan mengeluarkan kamu lagi, sebagai suatu keluaranbaru." (QS 71 :17-18)

Ayat berikut ini menyebutkan tentang tanah (perujukan nomor2):




"Dari (tanah) itulah Kami,[5] membentuk kamu dan kepadanyaKami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akanmengeluarkan kamu pada kali yang lain. " (QS 20:55)

Aspek spiritual asal manusia dari tanah ini ditekankan olehkenyataan bahwa kita mesti kembali ke tanah setelah kematiandan juga oleh gagasan bahwa Tuhan akan mengeluarkan kitalagi pada Hari Pengadilan, suatu makna spiritual yang,sebagaimana telah kita lihat, juga ditegaskan oleh Bibel. Sehubungan dengan penerjemahan di atas, berkenaan denganperujukan nomor 2, saya ingin menunjukkan kepada baik parapembaca berbahasa Arab maupun yang menguasai bahasa Arab diBarat, kata bahasa Arab khalaqa biasa diterjemahkan dengankata kerja 'menciptakan'. Tetapi, penting untuk diketahui,bahwa sebagaimana ditunjukkan oleh kamus yang amat baik yangdisusun oleh Kasimirski, arti asli kata tersebut adalah'memberikan suatu proporsi kepada sesuatu atau membuatnyamemiliki proporsi atau jumlah tertentu.' Bagi Tuhan (saja),penerjemahan tersebut telah dimudahkan dengan penggunaankata 'menciptakan,' yakni mewujudkan sesuatu yang sebelumnyatidak maujud. Dengan berbuat demikian, orang-orang yangsecara eksklusif menggunakan istilah 'menciptakan' sebagaimerujuk kepada tindakan itu, telah gagal menerjemahkangagasan tentang 'proporsi' yang menyertainya. Penerjemahanyang lebih tepat, barangkali, adalah dengan menggunakan kata'membentuk' atau 'membentuk dalam proporsi tertentu.' Halini akan membawa kita lebih dekat kepada makna asli katabahasa Arabnya. Inilah sebabnya, kenapa saya telah memilihmenggunakan kata 'membentuk' di dalam sebagian besarterjemahan-terjemahan saya, dengan makna yang disiratkanoleh kata bahasa Arab primitifnya.

Komponen-Komponen Bumi (Tanah) Dan Pembentukan Manusia


Makna spiritual utama asal-usul manusia dari tanah tidakmenyingkirkan pengertian, yang ada di dalam Al-Quran,tentang apa yang pada masa kini disebut sebagai'komponen-komponen' kimiawi tubuh manusia yang bisaditemukan di tanah


[6] agar bisa membawakan pengertian iniyang pada masa kini diakui sebagai tepat secara saintifikkepada orang-orang yang hidup ketika Al-Quran diwahyukan,maka terminologi yang sesuai dengan tingkat pengetahuan padamasa itu harus digunakan. Manusia dibentuk darikomponen-komponen yang dikandung di dalam tanah. Gagasan inimuncul dengan sangat jelas dari berbagai ayat yang didalamnya elemen-elemen pembentuk tersebut ditunjukkan denganberbagai nama (perujukan nomor 3):


"Dia telah menyebabkan kamu tumbuh dari bumi (tanat)." (QS11.61)


Gagasan tentang tanah (ardh di dalam bahasa Arab) diulangipada surah 53 ayat 32. Tuhan berbicara kepada manusia (perujukan nomor 4):


"Maka sesungguhnya Kami telah membentukmu dari tanah gemuk(soil)." (QS 22 :5)


Asal manusia dari tanah gemuk (thurab di dalam bahasa Arab)diulangi dalam surah 18 ayat 37, surah 30 ayat 20, surah 35ayat 11 dan surah 40 ayat 67. Selanjutnya (perujukan nomor5):


"Dialah yang membentuk kamu dari lempung." (QS 6 :2)

Lempung (thin dalam bahasa Arab) dipergunakan dalam beberapaayat untuk mendefinisikan komponen-komponen pembentukmanusia. Selanjutnya (perujukan nomor 6):

[
Tuhan) memulai penciptaan manusia dari lempung." (QS 32:7)

Penting untuk dicatat dalam hal ini bahwa Al-Quran menunjukkepada 'awal' suatu penciptaan dari lempung. Hal ini jelasbermakna bahwa tahap yang lain akan segera mengikuti. Meskipun tampak tidak memberikan data baru bagi studi masakini, kutipan berikut ini diberikan demi kelengkapan. Ayatini merujuk kepada manusia (perujukan nomor 7):


Sesungguhnya Kami telah membentuk mereka dari lempung yangpekat." (QS 37:11) Selanjutnya (perujukan nomor 8):

"Dia membentuk manusia dari lempung, seperti tembikar." (QS55:14)


Citra di atas menunjukkan bahwa manusia 'dimodelkan',sebagaimana ditunjukkan dalam ayat berikut ini. Kita jugabisa menemukan gagasan tentang 'pencetakan' manusia, yangmerupakan subyek sub-bagian berikut (perujukan nomor 9):

"Dan sesungguhnya Kami telah membentuk manusia dari lempung,dari lumpur yang dicetak." (QS 15:26)

Gagasan yang sama diulangi

Dan sesungguhnya Kami telah membentuk manusia dari suatusaripati lempung." (QS 23 :12)

Saya menggunakan kata 'saripati' untuk menerjemahkan istilahbahasa Arab sulalat yang berarti 'sesuatu yang disarikandari sesuatu yang lain' sebagaimana akan kita lihat nanti.Kata tersebut muncul di bagian lain Al-Quran, yang didalamnya dinyatakan bahwa Asal Manusia adalah sesuatuyang disarikan dari cairan mani; (pada masa kini diketahuibahwa komponen aktif cairan mani adalah organisme seltunggal yang disebut 'spermatozoon' ). Saya membayangkan bahwa 'saripati lempung' pasti merujukpada berbagai komponen kimiawi yang menyusun lempung yangdisarikan dari air yang dalam hal bobotnya merupakan unsurutama. Air yang di dalam Al-Quran dianggap sebagai asal-usulseluruh kehidupan, disebutkan sebagai unsur penting dalamayat berikut (perujukan nomor 11):

"Dan Dia (pula) yang membentuk manusia dan air, maka Diajadikan pertalian keturunan (oleh laki-laki) dankekeluargaan oleh wanita." (QS 25:54)

Sebagaimana di tempat lain dalam Al-Quran, 'manusia' yangdirujuk di sini adalah Adam. Beberapa ayat menyinggung penciptaan wanita (perujukan nomor12):

"Tuhanmu sajalah) yang telah membentuk kamu dari setunggaldiri dan darinya menciptakan istrinya." (QS 4:1)
Ayat ini diulangi pada surah 7 ayat 189 dan surah 39 ayat 6.

Topik yang sama dirujuk dalam peristilahan yang kurang lebihsama dalam surah 30 ayat 21 dan surah 42 ayat 11.

Tak akan timbul keraguan bahwa di dalam kedua belasperujukan di atas banyak ruang diberikan kepada perenungansimbolis tentang Asal Manusia, termasuk suatu isyaratyang jelas tentang apa yang akan terjadi atasnya setelahkematiannya, dan mengandung penunjukan-penunjukan kepadafakta bahwa manusia akan kembali ke bumi demi dimunculkankembali pada Hari Pengadilan. Meskipun demikian, di sanajuga tampak adanya perujukan kepada komposisi kimiawi tubuhmanusia. -------------

Catatan kaki:

5 Kami menunjukkan Tuhan.
6 Yang dimaksud komponen, atau 'unsur' (istilah-istilah yangdigunakan untuk lebih mempermudah membaca teks), ialahmateri yang dapat diekstraksi dari bumi dan yang tidakmerusak bentuk, yakni berbagai komponen atom yang membentukmolekul; seluruh unsur yang membentuk bagian tubuh manusiaada dalam jumlah yang lebih sedikit atau lebih banyak dibumi.

Transformasi-Transformasi Manusia Sepanjang Berabad-Abad

Bertentangan dengan di atas, komentar yang diberikanterhadap beberapa ayat Al-Quran, yang akan saya kutip dibawah ini, terutama mengandung pengertian-pengertianmaterial. Kita di sini berada di dalam lingkungantransformasi-transformasi morfologis tulen yang terjadidalam cara yang selaras dan seimbang berkat adanya suatuorganisasi yang amat terencana, mengingat fenomena-fenomenatersebut terjadi dalam tahap-tahap yang berturutan. Dengandemikian, kehendak Tuhan yang terus-menerus memimpin nasibmasyarakat manusia, ditampakkan dalam keseluruhan kekuatandan keagungan-Nya melalui peristiwa-peristiwa ini. Al-Quran, pertama kali, berbicara tentang suatu'penciptaan', tetapi ia meneruskan dengan menguraikan suatutahap kedua, yang di dalamnya Tuhan memberikan bentuk kepadamanusia. Tak syak lagi, penciptaan dan organisasi morfologismanusia dilihat sebagai peristiwa-peristiwa yang berturutan. Tuhan berbicara kepada manusia (perujukan nomor 13):

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kamimemberimu bentuk, kemudian Kami katakan kepada paraMalaikat: 'Bersujudlah kamu kepada Adam'." (QS 7:11)

Karenanya, adalah mungkin untuk membedakan tiga peristiwaberturutan yang dua di antaranya penting bagi studi kita:Tuhan menciptakan manusia dan kemudian memberinya suatubentuk (Shawwara dalam bahasa Arab). Di bagian-bagian lain dinyatakan bahwa bentuk manusia akanbersifat selaras (perujukan nomor 14):



"Ketika Tuhan mereka berfirman kepada para malaikat: Akuhendak membentuk seorang manusia dari lempung, dari lumpuryang diacu; bila Aku telah membentuknya secara selaras danmeniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka sujudlah kepadanya." (QS16 :28-29) Ungkapan 'membentuk dengan selaras' (sawwai) diulangi dalamsurah 38 ayat 72. Ayat lain menguraikan bagaimana bentuk selaras manusiadidapat melalui adanya keseimbangan dan kompleksitasstruktur. Kata kerja rakkaba dalam bahasa Arab berarti'membuat sesuatu dari komponen-komponen' (perujukan nomor16):



"(Tuhanlah) yang telah menciptakan kamu lalu membentukmusecara selaras dan dalam proporsi yang tepat, dalam bentukapa saja yang Dia kehendaki, Dia membuatmu darikomponen-komponen." (QS 82 :73)

Manusia diciptakan dalam bentuk apa pun yang Tuhankehendaki. Ini adalah suatu hal yang amat penting. Tuhan berbicara kepada manusia (perujukan nomor 16):

"Sesungguhnya Kami telah membentuk manusia menurut rencanaorganisasional yang sebaik-baiknya." (QS 95 :4)

Kata bahasa Arab taqwim berarti 'mengorganisasikan sesuatudengan cara terencana' yang, oleh karena itu, berarti suatususunan kemajuan yang telah lebih dahulu didefinisikansecara cermat. Kebetulan sekali para spesialis evolusi,ketika menguraikan transformasi-transformasi yang terjadisepanjang waktu, menggunakan ungkapan itu pula: perencanaanorganisasional itu sudah benar-benar terbukti daristudi-studi saintifik mengenai masalah ini. Konteks surah 95, yang darinya ayat di atas diambil, adalahpenciptaan manusia secara umum dengan merujuk kepadakenyataan bahwa begitu manusia telah diberi bentuk yangsedemikian terorganisasikan oleh kehendak Tuhan, ia terbenamke dalam kondisi yang amat buruk (yang berarti jompo dalamusia tua).

Surah tersebut sama sekali tidak menyebut-nyebutperkembangan embrionik melainkan hanya menguraikanpenciptaan makhluk manusia secara umum. Dalam kerangkastruktur, perencanaan organisasional tersebut jelas merujukkepada spesies manusia sebagai suatu keseluruhan. Penafsiran yang telah saya berikan atas ayat inimencerminkan pentingnya konteks sebagai sarana untukmenyampaikan apa yang dirujuk oleh suatu kata tertentu(perujukan nomor 17):

"Dia sesungguhnya telah membentukmu dalam tahap-tahap(tingkat-tingkat)." (QS 71:14)

Kata bahasa Arab yang diterjemahkan di sini sebagai'tahap-tahap' atau 'tingkat-tingkat', adalah athwar (katatunggalnya thaur). Inilah satu-satunya ayat di dalamAl-Quran yang di dalamnya kata tersebut muncul dalam bentukmajemuknya. Tidak mungkinlah untuk mencari-cari di tempatlain di dalam teks tersebut kepastian mengenai apakah'tahap-tahap' atau 'tingkat-tingkat' itu -yang jelas merujukkepada manusia- berkenaan dengan perkembangan manusia didalam rahim (yakni, seperti yang diduga oleh para pengulasterdahulu dan yang juga merupakan anggapan saya sendiri didalam buku saya terdahulu), ataukah kesemuanya itu menunjukkepada transformasi-transformasi yang dialami oleh spesiesmanusia di sepanjang waktu. Ini adalah satu masalah yangpatut direnungkan. Untuk memperoleh jawabannya, sudah pasti pertama sekali kitamesti membahas tema tersebut sebagaimana diuraikan di dalamAl-Quran. Demikianlah kita melihat bahwa surah 7l, yangdarinya ayat di atas kita ambil, terutama berhubungan dengantanda-tanda ke-Mahakuasaan dan Kekuasaan Tuhan sebagaiPencipta secara umum. Bagian di dalam Al-Quran yang mencakupayat 14 (satu bagian yang merujuk pada khutbah Nuh kepadakaumnya) secara esensial tertanam di dalam rahmat Tuhan,kerahiman-Nya di dalam memberi manusia karunia-karunia-Nyadan ke-Mahakuasaan-Nya di dalam menciptakan manusia, langit,matahari, bulan, dan bumi. Berkenaan dengan masalahpenciptaan, Al-Quran menyebut aspek spiritual penciptaanmanusia dari tanah (perujukan nomor 1 di dalam ayat-ayatyang dikutip di atas). Sama sekali tak ada penunjukan, di dalam surah 71, kepadaperkembangan bayi yang belum lahir, suatu persoalan yangoleh para pengulas terdahulu diduga sebagai ditunjukkan olehkata 'tahap-tahap.' Meskipun kata tersebut tidakdipergunakan di tempat lain dalam teks tersebut, namunAl-Quran tak syak lagi menunjuk secara terinci pada banyaksurat lain berkenaan dengan 'tahap-tahap' perkembanganembrionik ini (lihat bab selanjutnya). Meskipun demikian,tak ada perujukan di dalam surah ini. Meskipun demikian,kita tidak bisa menyingkirkan kemungkinan bahwa bagian dariAl-Quran yang kita perbincangkan di sini boleh jadibenar-benar menambahkan perkembangan ber-'tahap' embrio didalam rahim kepada topik-topik lain yang disebutkan di atas:tak ada satu isyarat pun yang menunjukkan bahwa hal tersebutboleh diabaikan. Kenyataannya, perkembangan individu dan spesies-spesies yangmemilikinya, berkesesuaian dengan faktor-faktor penentu itujuga sepanjang waktu; faktor-faktor tersebut merupakangen-gen yang memainkan peran yang amat menentukan di dalampengelompokan warisan keayahan atau keibuan di dalamtingkatan mula reproduksi. Apakah kita memilih menghubungkanfase-fase ini dengan perkembangan individual atauspesies-spesies itu, konsep yang diungkapkan tetapsepenuhnya selaras dengan data saintifik modern mengenaimasalah ini. Kemudian ayat-ayat yang mendahului perujukan nomor 17 secaramemadai menyatakan dengan jelas bahwa bentuk manusiamengalami transformasi-transformasi sedemikian sehinggasekalipun jika kita menghilangkan perujukan nomor 17 maknaumumnya tidak akan terpengaruh. Dua ayat berikut ini menunjuk pada penggantian suatumasyarakat manusia oleh masyarakat manusia lainnya(perujukan nomor 18)


"Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan mereka, danapabila Kami kehendaki, maka Kami mengganti merekasepenuhnya dengan orang-orang yang serupa dengan mereka."(QS 76:28)

Amatlah mungkin bahwa 'penguatan' yang disebutkan di dalamayat di atas menunjuk kepada susunan fisik manusia.(perujukan nomor 19):

"Jika (Dia) menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu danmenggantimu dengan yang dikehendaki-Nya setelah kamu(musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dariketurunan orang-orang lain." (QS 6:133)

Kedua ayat di atas menekankan kesirnaanmasyarakat-masyarakat manusia tertentu dan penggantiannyaoleh masyarakat-masyarakat lainnya, sesuai dengan kehendakTuhan, sepanjang waktu tertentu. Para pengulas terdahulu, terlebih-lebih, memandang ayat-ayatini sebagai hukuman yang ditimpakan oleh Tuhan atasmasyarakat-masyarakat yang penuh dosa. Secara umum, aspekreligiuslah yang terutama ditekankan. Meskipun demikian, disana pun ada fakta material dan hal ini jelas diungkapkandalam bentuk sirnanya berbagai masyarakat (yang ukurannyatidak disebutkan) dan penggantian pada kurun waktu tertentudari suatu masyarakat-masyarakat tertentu olehketurunan-keturunan bangsa-bangsa launnya. Oleh karena itu, kesimpulannya ialah bahwa kelompok-kelompokmanusia yang telah maujud sepanjang waktu kiranya mempunyaimorfologi yang beragam, tetapi modifikasi-modifikasi initelah berlangsung sesuai dengan rencana organisasional yangditetapkan oleh Tuhan; masyarakat musnah dan digantikan olehkelompok-kelompok lainnya: inilah yang dengan berbagaiungkapan harus disampaikan oleh Al-Quran kepada kita. Adalahsia-sia untuk mencari kesenjangan-kesenjangan di antaraAl-Quran dan data palentologi atau dengan informasi yangmemungkinkan kita untuk membayangkan adanya suatu evolusikreatif, karena tidak ada hal demikian.
BERSAMBUNG
jazakumullah

TAFSIR ALQODR

AHLAN WA SAHLAN


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 1
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1
Terdapat empat tempat dalam Alquran yang menerangkan tentang masanya turun Alquran kepada Nabi SAW. yaitu:
1. Dalam surah Al Qadr ini.

2. Dalam surah Ad Dukhan, yaitu pada firman-Nya:


حم والكتاب المبين إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين فيها يفرق كل أمر حكيم أمرا من عندنا إنا كنا مرسلين رحمة من ربك أنه هو السميع العليم

Artinya: Ha Mim. Demi Kitab (Alquran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Ad Dukhan: 1-6)

3. Dalam surah Al Baqarah, yaitu pada firman-Nya:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدي والفرقان
Artinya: "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dengan yang batil)". (Q.S. Al-Baqarah: 186) 4. Dalam surah Al Anfal, yaitu pada firman-Nya:


واعلموا إنما غنمتم من شيء فإن لله خمسه وللرسول ولذي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل إن كنتم آمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان والله على كل شيء قدير

Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari pertemuannya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). (Q.S. Al-Anfal: 41) Ayat surah Al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Alquran jelas pada malam Lailatulkadar, ayat surah Ad Dukhan menguatkan turunnya Alquran pada malam yang diberkati, ayat surah Al Baqarah menunjukkan turunnya Alquran pada bulan Ramadan dan ayat surah Al Anfal menerangkan bahwa turunnya Alquran bertepatan pada malam hari terjadinya pertempuran antara tentara Islam dengan tentara musyrikin dalam peperangan Badar, yang membedakan antara yang hak dengan yang batil dan memberi kemenangan kepada tentara Islam atas tentara kafir. Dengan demikian pastilah bahwa malam tersebut adalah malam Jumat 17 Ramadan. Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia menurunkan Alquran pertama kali kepada Nabi SAW. pada malam yang mulia kemudian terus-menerus turunnya secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa manusia sangat memerlukannya sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang mereka ragukan yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi mereka serta menerangkan kepada mereka kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari berbangkit. Mereka memerlukan pegangan tersebut karena mereka tidak dapat memahami tentang prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya. sehingga mereka dapat membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang yang terlepas sama sekali dari petunjuk-petunjuk dan ketentuan-ketentuan agama. Oleh sebab itu benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mereka mengetahui secara ilmiah keadaan-keadaan dan khasiat-khasiat sesuatu itu; sebagaimana mereka memerlukan kekuatan batin yang tidak dapat diguncangkan oleh bahaya dan percobaan.
2
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?(QS. 97:2)


Surah Al Qadr 2 وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Kemudian dalam ayat ini Allah menyatakan keutamaan malam Lailatulkadar tetapi keutamaan ini tidak dapat diketahui oleh ahli cerdik cendekiawan walaupun bagaimana tingginya ilmu pengetahuannya. Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya tidak sanggup menentukan kebesaran dan fadilah Lailatulkadar, yang mengetahui hanyalah Allah Yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada.
3
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.(QS. 97:3)


لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3

Pada ayat ini Allah menerangkan fadilah Lailatulkadar yang sebenarnya, karena dia adalah suatu malam yang memancarkan nur hidayah sebagai permulaan tasyri yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia dan sebagai malam peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, yang sesuai dengan kemaslahatan manusia sepanjang zaman. Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa, kemusyrikan dan kesesatan serta tidak berkesudahan. Sebutan kata "seribu" dalam ayat ini bukan bermaksud untuk menentukan bilangannya akan tetapi maksudnya untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga sebagaimana yang dikehendaki dengan firman Allah:
يود أحدهم لو يعمر ألف سنة

Artinya: Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun. (Q.S. Al-Baqarah: 96) Apakah ada malam yang lebih mulia daripada malam yang padanya dimulai turunnya nur hidayah untuk manusia setelah berabad-abad lamanya berada dalam kesesatan dan kekafiran? Apakah ada kemuliaan yang lebih agung daripada malam di mana cahaya purnama ilmu makrifah ketuhanan menerangi jiwa Nabi SAW. yang diutus sebagai rahmat untuk manusia seluruhnya, menyampaikan berita gembira dan ancaman serta memanggil mereka ke jalan yang lurus, menjadikan mereka umat yang melepaskan manusia dari belenggu perbudakan raja-raja dan dari penindasan-penindasan penguasa yang zalim, di timur dan di barat yang mempersatukan mereka sesudah mereka berpecah-belah dan bermusuh-musuhan?. Maka seyogyanyalah umat Islam menjadikan malam tersebut sebagai hari raya mereka karena malam tersebut-turunnya undang-undang dasar samawi yang mengarahkan manusia ke arah yang bermanfaat bagi mereka, sambil memperbaharui janji mereka dengan Tuhan mereka yang berhubungan dengan jiwa dan harta mereka sebagai tanda syukur atas nikmat pemberian-Nya serta mengharapkan pahala balasan-Nya.
4
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.(QS. 97:4)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 4

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4


) Dalam ayat ini Allah menyatakan sebagian dari keistimewaan malam tersebut, yaitu turunnya para malaikat dan malaikat Jibril dari alam rohani sehingga nampak oleh Nabi SAW. terutama Jibril yang menyampaikan wahyu. Penampakan Jibril kepada Nabi SAW. dalam rupanya yang asli adalah perintah Allah SWT. Setelah Ia mempersiapkan Nabi-Nya untuk menerima wahyu yang akan disampaikannya kepada manusia yang mengandung kebaikan dan keberkatan. Turunnya malaikat ke bumi adalah dengan izin Allah, tidak perlu kita menyelidiki bagaimana cara dan apa rahasianya dan cukuplah kita beriman saja. Adapun yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanyalah sedikit sekali, sebagaimana Allah menerangkan dalam firman-Nya:
وما أوتيتم من العلم إلا قليلا

Artinya: Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Q.S. Al-Isra': 85) Malam itu (Lailatulkadar) adalah hari raya umat Islam karena turunnya Alquran dan malam bersyukur kepada Allah atas kebaikan dan kenikmatan yang dikaruniakan-Nya pada saat malaikat ikut bersyukur bersama manusia atas kebesaran malam itu, sebagai tanda kemuliaan manusia yang menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qadr 4

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

(4) (Turunlah malaikat-malaikat) bentuk asal dari lafal Tanazzalu adalah Tatanazzalu, kemudian salah satu huruf Ta-nya dibuang, sehingga jadilah Tanazzalu (dan Ar-Ruh) yakni malaikat Jibril (di malam itu) artinya pada malam kemuliaan/lailatulkadar itu (dengan izin Rabbnya) dengan perintah dari-Nya (untuk mengatur segala urusan) atau untuk menjalankan ketetapan Allah buat tahun itu hingga tahun berikutnya, hal ini terjadi pada malam kemuliaan itu. Huruf Min di sini bermakna Sababiyah atau sama artinya dengan huruf Ba; yakni mereka turun dengan seizin Rabbnya dengan membawa segala urusan yang telah menjadi ketetapan-Nya untuk tahun itu hingga tahun berikutnya.
5
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.(QS. 97:5)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 5 سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

(5) Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa malam tersebut penuh kebaikan dan berkah dari permulaan sampai terbit fajar adalah karena turunnya Alquran yang disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan dada Nabi-Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk dan bimbingan kepada umat.

jazakumullah