zaterdag, mei 03, 2008

Israel, Batu Berbicara, dan Pohon Gharqad (ghorqod)

AHLAN WA SAHLAN



Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga bersembunyilah orang-orang Yahudi dibelakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, "Wahai orang Muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi dibelakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!" Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi. (HR. Bukhori dan Muslim)

Menurut Wisnu Sasongko, batu bisa berbicara karena berlakunya sumpah bangsa Israel dihadapan Yosua, yang mana Yosua menjadikan batu sebagai saksinya. Apabila nanti bangsa Israel mengingkari janji, maka batu-batu akhirnya akan bersaksi.

Perjanjian Lama kitab Yosua 24:25-28 (LAI TB)
24 Lalu jawab bangsa itu (bangsa Israel, ed) kepada Yosua: "Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan."
25 Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem.
26 Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN.
27 Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu."
28 Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya.

Ketika berkecamuk al-Malhamah al-Kubro (atau Armageddon), maka batu pun menjadi saksi. Batu akan berbicara menunjukkan kepada kaum Muslim tempat persembunyian Yahudi/Israel. Israel tidak menepati perjanjian, hingga batu pun akhirnya bersaksi : "Wahai orang Islam, ini ada Yahudi dibelakangku, bunuhlah ia." Hanya pohon Gharqad (Ghorqod) lah yang diam, karena ia adalah pohon Yahudi.


Tahukah Anda Zionis-Yahudi Berlomba Tanami Pohon Gharqad (Ghorqod) di Tanah Palestina ?

Washington Post edisi April 1984 memuat satu artikel tentang pertemuan Presiden AS Ronald Reagan dengan seorang pelobi senior Yahudi dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) bernama Tom Dine. Pertemuan itu berlangsung secara pribadi.

Kepada Tom Dine, mantan Gubernur Negara Bagian California ini dengan serius berkata, “Anda tahu, saya berpaling kepada nabi-nabi kuno Perjanjian Lama dan kepada tanda-tanda yang meramalkan Perang Armageddon. Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apakah kita ini akan melihat semuanya itu terpenuhi. Saya tidak tahu. Apakah Anda belakangan ini juga telah memperhatikan nubuat-nubuat para nabi itu… akan tetapi, percayalah kepada saya, bahwa nubuat-nubuat itu menggambarkan masa-masa yang sekarang ini sedang kita jalani. ” Tom Dine tersenyum dan mengangguk pelan.

Presiden Reagan merupakan presiden Amerika Serikat pertama yang memulai suatu tradisi baru dalam protokoler Gedung Putih, di mana kebaktian, seminar keagamaan, dan pertemuan-pertemuan dengan sejumlah tokoh gereja evangelikal Amerika sering diadakan. Di masa Reagan-lah paham Zionis-Kristen masuk dalam lingkaran elit pemerintahan Amerika. Seluruh kebijakan, terutama kebijakan Amerika di luar negeri khususnya untuk wilayah Timur Tengah, sangat kental bernuansa Zionis.

Penerus Reagan, George H. W. Bush, William J. Clinton, dan George W. Bush, merupakan orang-orang yang sangat yakin tentang nubuat-nubuat (janji-janji atau ramalan-ramalan) Tuhan seperti yang tercantum di dalam Injil Darby atau Scofield, Injil resmi Amerika. Menurut keyakinan mereka, abad millennium merupakan zaman akhir di mana suatu ketika akan terjadi Peperangan Besar Terakhir (Armageddon) yang melibatkan seluruh dunia, antara Tentara Tuhan melawan Pasukan Iblis. Kristus akan mengalahkan Anti-Christ. Dan setelah itu dunia akan menjadi damai dan sejahtera hingga datangnya hari penghabisan.

Sebab itu, dilandasi kepercayaan akan hari akhir seperti yang dinubuatkan dalam Injil Darby, para presiden Amerika bekerja dengan sekuat tenaga untuk melapangkan jalan bagi suatu hari di mana akan datang Kristus yang kedua kalinya. Karena menurut kepercayaan mereka Kristus akan turun di tanah Palestina, maka mereka berupaya untuk menguasai Tanah Palestina sepenuhnya dan memberikannya kepada orang-orang Yahudi.

Kaum Zionis, apakah mereka yang berada di Tanah Palestina maupun yang tersebar di Amerika dan Eropa, sangat yakin bahwa era millenium ketiga ini merupakan pintu gerbang pada akhir zaman. Entah sengaja atau tidak, kasus WTC 911, di mana Menara Kembar WTC yang dilihat dari jauh bagaikan sebuah gerbang, diruntuhkan, maka seakan terbukalah suatu era baru bagi keyakinan ini.

Segala daya upaya mereka lakukan guna menghadapi datangnya Messiah yang mereka yakini akan memimpin mereka dari Kuil Sulaiman untuk menaklukkan dunia.



Foto Pohon Gharqad (Sumber swaramuslim)



Namun ada satu anomali yang secara diametral bertentangan dengan keyakinan mereka ini. Di satu sisi mereka mengaku sangat yakin akan bisa mengalahkan seluruh umat manusia, wabilkhusus umat Islam, dan menjadi pemimpin dunia, namun di sisi lain mereka juga berlomba-lomba menanami Tanah Palestina yang mereka duduki secara tidak sah, dengan pohon Ghorqod (nama latin: Nitraria retusa).

Ada sebuah hadits shahih tentang hari akhir mengenai pohon ini: "Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. " (HR Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu'lu' wa al-Marjan III/308)

Melihat ulah para Zionis-Yahudi yang berlomba-lomba menanami Tanah Palestina dengan pohon Ghorqod, maka kenyataan ini menjelaskan kepada kita bahwa kaum Yahudi itu sesungguhnya memahami hakikat hari akhir, di mana mereka akan dikejar-kejar oleh umat Islam dan hanya pohon Ghorqod-lah satu-satunya tempat yang bersedia dipakai guna tempat persembunyian kaum Yahudi.


Proyek Internasional Ghorqod

Tidak diketahui secara pasti kapan kaum Zionis-Israel menanami Tanah Palestina dengan pohon Ghorqod. Hanya saja, melalui website Jewish National Fund (www.jnf. Org), di bagian JNF Store (Tress for Israel Certificate), disebutkan bahwa di Tanah Palestina telah ditanami sebanyak 220 juta batang pohon Ghorqod.

Uniknya, dengan serius dan profesional, kaum Zionis juga mengiklankan di dalam situs tersebut bahwa siapa saja bisa membeli pohon Ghorqod secara online dan kemudian menyumbangkannya ke Israel untuk ditanami di Tanah Palestina. Harga sebatang pohon tersebut sebesar US$18, dan barangsiapa yang membeli tiga batang seharga US$36 akan mendapat satu batang gratis.



Foto Pohon Gharqad (Sumber swaramuslim)



Bukan itu saja, pengepakkannya pun pembeli bisa memilih dengan memakai plastik (dikenai tambahan biaya US$10 perbatang) atau dengan peti kayu (US$50 perbatang). Dan untuk waktu pengirimannya, pembeli bisa memilih antara yang super cepat (US$30 perbatang, dijamin sampai di Tanah Palestina hanya dalam waktu 2 hari), cepat (US$15 perbatang dengan waktu 3 hari), dan reguler (tidak disebutkan). Untuk keterangan lebih lanjut, mereka juga menyediakan sebuah nomor hubungan internasional (888) JNF-0099 dan 1-800-542-TREE. Hanya mata uang dollar AS yang diterima sebagai pembayaran yang sah.

Pertanyaannya kemudian, adakah orang Indonesia yang sudah memesan pohon ini untuk ditanam di Tanah Palestina?(Rz/eramuslim)


Yahudi Dan Ramalan Alkitab

Hosea 10:1
Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah. Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala.

Yesaya 5:7
Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.


Sifat-sifat Pohon Anggur (Israel)

Dalam bernubuat, Tuhan seringkali berfirman dalam bahasa perumpamaan,

Hosea 12:10
Aku berbicara kepada para nabi dan banyak kali memberi penglihatan dan memberi perumpamaan dengan perantaraan para nabi.


Untuk memahami nubuat Tuhan yang menggunakan bahasa perumpamaan, kita harus berilmu.

QS Al 'Ankabuut 43
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.


Perhatikan berikut ini :

Hosea 10:1
Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah. Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala.

Yesaya 5:7
Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.


Nasib Pohon Anggur (Israel)

Yesaya 5:4
Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?

Yehezkiel 6:11
Beginilah firman Tuhan ALLAH: "Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah: Awas! Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan dan penyakit sampar.

Yeremia 6:9-30
9 Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Petiklah habis-habisan sisa-sisa orang Israel seperti pokok anggur dipetik habis-habisan. Kembalilah seperti pemetik buah anggur dengan tanganmu mencari-cari buah pada ranting-rantingnya."
10 Kepada siapakah aku harus berbicara dan bersaksi, supaya mereka mau memperhatikan? Sungguh, telinga mereka tidak bersunat, mereka tidak dapat mendengar! Sungguh, firman TUHAN menjadi cemoohan bagi mereka, mereka tidak menyukainya!
11 Tetapi aku penuh dengan kehangatan murka TUHAN, aku telah payah menahannya, harus menumpahkannya kepada bayi di jalan, dan kepada kumpulan teruna bersama-sama. Sesungguhnya, baik laki-laki maupun perempuan akan ditangkap, baik orang yang tua maupun orang yang sudah lanjut usianya.
12 Rumah-rumah mereka akan beralih kepada orang lain, bersama ladang-ladang dan isteri-isteri mereka. —"Sesungguhnya, Aku mengacungkan tangan-Ku melawan penduduk negeri ini, demikianlah firman TUHAN.
13 Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam semuanya melakukan tipu.
14 Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera.
15 Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah; mereka akan tersandung jatuh pada waktu Aku menghukum mereka, firman TUHAN."
16 Beginilah firman TUHAN: "Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!
17 Juga aku mengangkat atas mereka penjaga-penjaga, firman-Ku: Perhatikanlah bunyi sangkakala! Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau memperhatikannya!
18 Sebab itu dengarlah, hai bangsa-bangsa, dan ketahuilah, hai jemaat, apa yang akan terjadi atas mereka!
19 Dengarlah, hai bumi! Sungguh, ke atas bangsa ini Aku akan mendatangkan malapetaka, akibat dari rancangan-rancangan mereka, sebab mereka tidak memperhatikan perkataan-perkataan-Ku dan menolak pengajaran-Ku.
20 Apakah gunanya bagi-Ku kamu bawa kemenyan dari Syeba dan tebu yang baik dari negeri yang jauh? Aku tidak berkenan kepada korban-korban bakaranmu dan korban-korban sembelihanmu tidak menyenangkan hati-Ku.
21 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sungguh, Aku akan menaruh batu sandungan di depan bangsa ini, supaya mereka jatuh tersandung oleh karenanya; bapa-bapa serta dengan anak-anak, tetangga dan temannya, semuanya akan binasa."
22 Beginilah firman TUHAN: "Sesungguhnya, suatu bangsa akan datang dari tanah utara, suatu suku bangsa yang besar akan bergerak maju dari ujung bumi.
23 Mereka memakai panah dan tombak; mereka bengis, tidak kenal belas kasihan. Suara mereka gemuruh seperti laut, mereka mengendarai kuda, berlengkap seperti orang maju berperang, menyerang engkau, hai puteri Sion!"
24 Kami telah mendengar kabarnya, tangan kami sudah menjadi lemah lesu; kesesakan telah menyergap kami, kami kesakitan seperti perempuan yang melahirkan.
25 "Janganlah keluar ke padang, dan janganlah berjalan di jalan, sebab pedang musuh mengamuk—kegentaran datang dari segala jurusan!"
26 Hai puteri bangsaku, kenakanlah kain kabung, dan berguling-gulinglah dalam debu! Berkabunglah seperti menangisi seorang anak tunggal, merataplah dengan pahit pedih! Sebab sekonyong-konyong akan datang si pembinasa menyerangmu.
27 Aku telah mengangkat engkau di antara umat-Ku sebagai penguji, engkau harus tahu bagaimana menyelidikinya, dan harus menguji tingkah langkah mereka.
28 Semua mereka adalah pendurhaka belaka, berjalan kian kemari sebagai pemfitnah; sekaliannya mereka berlaku busuk!
29 Puputan sudah mengembus, tetapi yang keluar dari api hanya timah hitam, tembaga dan besi. Sia-sia orang melebur terus-menerus, tetapi orang-orang yang jahat tidak terpisahkan.
30 Sebutkanlah mereka perak yang ditolak, sebab TUHAN telah menolak mereka!

Ulangan 28
1 "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.
2 Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:
3 Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang.
4 Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu.
5 Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu.
6 Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.
7 TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu.
8 TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.
9 TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.
10 Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu.
11 Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu—di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.
12 TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman.
13 TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,
14 dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."
15 "Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau:
16 Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang.
17 Terkutuklah bakulmu dan tempat adonanmu.
18 Terkutuklah buah kandunganmu, hasil bumimu, anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu.
19 Terkutuklah engkau pada waktu masuk dan terkutuklah engkau pada waktu keluar.
20 TUHAN akan mendatangkan kutuk, huru-hara dan penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan, sampai engkau punah dan binasa dengan segera karena jahat perbuatanmu, sebab engkau telah meninggalkan Aku.
21 TUHAN akan melekatkan penyakit sampar kepadamu, sampai dihabiskannya engkau dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya.
22 TUHAN akan menghajar engkau dengan batuk kering, demam, demam kepialu, sakit radang, kekeringan, hama dan penyakit gandum; semuanya itu akan memburu engkau sampai engkau binasa.
23 Juga langit yang di atas kepalamu akan menjadi tembaga dan tanah yang di bawahpun menjadi besi.
24 TUHAN akan menurunkan hujan abu dan debu ke atas negerimu; dari langit akan turun semuanya itu ke atasmu, sampai engkau punah.
25 TUHAN akan membiarkan engkau terpukul kalah oleh musuhmu. Bersatu jalan engkau akan keluar menyerang mereka, tetapi bertujuh jalan engkau akan lari dari depan mereka, sehingga engkau menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi.
26 Mayatmu akan menjadi makanan segala burung di udara serta binatang-binatang di bumi, dengan tidak ada yang mengganggunya.
27 TUHAN akan menghajar engkau dengan barah Mesir, dengan borok, dengan kedal dan kudis, yang dari padanya engkau tidak dapat sembuh.
28 TUHAN akan menghajar engkau dengan kegilaan, kebutaan dan kehilangan akal,
29 sehingga engkau meraba-raba pada waktu tengah hari, seperti seorang buta meraba-raba di dalam gelap; perjalananmu tidak akan beruntung, tetapi engkau selalu diperas dan dirampasi, dengan tidak ada seorang yang datang menolong.
30 Engkau akan bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi orang lain akan menidurinya. Engkau akan mendirikan rumah, tetapi tidak akan mendiaminya. Engkau akan membuat kebun anggur, tetapi tidak akan mengecap hasilnya.
31 Lembumu akan disembelih orang di depan matamu, tetapi engkau tidak akan memakan dagingnya. Keledaimu akan dirampas dari depanmu, dan tidak akan dikembalikan kepadamu. Kambing dombamu akan diberikan kepada musuhmu dengan tidak ada orang yang datang menolong engkau.
32 Anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan akan diserahkan kepada bangsa lain, sedang engkau melihatnya dengan matamu sendiri, dan sehari-harian engkau rindu kepada mereka, dengan tidak dapat berbuat apa-apa.
33 Suatu bangsa yang tidak kaukenal akan memakan hasil bumimu dan segala hasil jerih payahmu; engkau akan selalu ditindas dan diinjak.
34 Engkau akan menjadi gila karena apa yang dilihat matamu.
35 TUHAN akan menghajar engkau dengan barah jahat, yang dari padanya engkau tidak dapat sembuh, pada lutut dan pahamu, bahkan dari telapak kakimu sampai kepada batu kepalamu.
36 TUHAN akan membawa engkau dengan raja yang kauangkat atasmu itu kepada suatu bangsa yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu; di sanalah engkau akan beribadah kepada allah lain, kepada kayu dan batu.
37 Engkau akan menjadi kedahsyatan, kiasan dan sindiran di antara segala bangsa, ke mana TUHAN akan menyingkirkan engkau.
38 Banyak benih yang akan kaubawa ke ladang, tetapi sedikit hasil yang akan kaukumpulkan, sebab belalang akan menghabiskannya.
39 Kebun-kebun anggur akan kaubuat dan kauusahakan, tetapi engkau tidak akan meminum atau menyimpan anggur, sebab ulat akan memakannya.
40 Pohon-pohon zaitun akan kaupunyai di seluruh daerahmu, tetapi engkau tidak akan berurap dengan minyaknya; sebab buah zaitunmu akan gugur.
41 Engkau akan mendapat anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan, tetapi mereka bukan bagi dirimu, sebab mereka akan menjadi tawanan.
42 Segala pohon-pohonmu dan hasil bumimu akan diduduki oleh kawanan belalang.
43 Orang asing yang ada di tengah-tengahmu akan menjadi makin tinggi mengatasi engkau, tetapi engkau menjadi makin rendah.
44 Ia akan memberi pinjaman kepadamu, tetapi engkau tidak akan memberi pinjaman kepadanya; ia akan menjadi kepala, tetapi engkau akan menjadi ekor.
45 Segala kutuk itu akan datang ke atasmu, memburu engkau dan mencapai engkau, sampai engkau punah, karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu dan tidak berpegang pada perintah dan ketetapan yang diperintahkan-Nya kepadamu;
46 semuanya itu akan menjadi tanda dan mujizat di antaramu dan di antara keturunanmu untuk selamanya."
47 "Karena engkau tidak mau menjadi hamba kepada TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya,
48 maka dengan menanggung lapar dan haus, dengan telanjang dan kekurangan akan segala-galanya engkau akan menjadi hamba kepada musuh yang akan disuruh TUHAN melawan engkau. Ia akan membebankan kuk besi ke atas tengkukmu, sampai engkau dipunahkan-Nya.
49 TUHAN akan mendatangkan kepadamu suatu bangsa dari jauh, dari ujung bumi, seperti rajawali yang datang menyambar; suatu bangsa yang bahasanya engkau tidak mengerti,
50 suatu bangsa yang garang mukanya, yang tidak menghiraukan orang tua-tua dan tidak merasa kasihan kepada anak-anak;
51 yang akan memakan habis hasil ternakmu dan hasil bumimu, sampai engkau punah; yang tidak akan meninggalkan bagimu gandum, air anggur atau minyak, ataupun anak lembu sapimu atau anak kambing dombamu, sampai engkau dibinasakannya.
52 Engkau akan ditekannya di segala tempatmu, sampai runtuh tembok-tembokmu yang tinggi dan berkubu, yang kaupercayai itu di seluruh negerimu, bahkan engkau akan ditekan di dalam segala tempatmu, di seluruh negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.
53 Dan engkau akan memakan buah kandunganmu, yakni daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, —dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu.
54 Dan orang laki-laki yang paling lemah dan paling manja di antaramu akan kesal terhadap saudaranya atau terhadap isterinya sendiri atau terhadap anak-anaknya yang masih tinggal padanya,
55 sehingga kepada salah seorang dari mereka itu ia tidak mau memberikan sedikitpun dari daging anak-anaknya yang dimakannya, karena tidak ada lagi sesuatu yang ditinggalkan baginya, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu di segala tempatmu.
56 Perempuan yang lemah dan manja di antaramu, yang tidak pernah mencoba menjejakkan telapak kakinya ke tanah karena sifatnya yang manja dan lemah itu, akan kesal terhadap suaminya sendiri atau terhadap anaknya laki-laki atau anaknya perempuan,
57 karena uri yang keluar dari kandungannya ataupun karena anak-anak yang dilahirkannya; sebab karena kekurangan segala-galanya ia akan memakannya dengan sembunyi-sembunyi, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu di dalam tempatmu.
58 Jika engkau tidak melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat yang tertulis dalam kitab ini, dan engkau tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini, yakni akan TUHAN, Allahmu,
59 maka TUHAN akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu, dan kepada keturunanmu, yakni pukulan-pukulan yang keras lagi lama dan penyakit-penyakit yang jahat lagi lama.
60 Ia akan mendatangkan pula segala wabah Mesir yang kautakuti itu kepadamu, sehingga semuanya itu melekat padamu.
61 Juga berbagai-bagai penyakit dan pukulan, yang tidak tertulis dalam kitab Taurat ini, akan ditimbulkan TUHAN menimpa engkau, sampai engkau punah.

Hosea 10
9 Sejak hari Gibea engkau telah berdosa, hai Israel; di sana mereka bangkit melawan. Tidakkah perang melawan orang-orang curang akan mencapai mereka di Gibea?
10 Aku telah datang untuk menghajar mereka; bangsa-bangsa akan berkumpul melawan mereka, apabila mereka dihajar karena salahnya yang berganda.
11 Efraim dahulu seekor anak lembu yang terlatih, yang suka mengirik, dan Aku ini menyayangi tengkuknya yang elok, Aku memasang Efraim; Yehuda harus membajak, Yakub harus menyisir tanah baginya sendiri.
12 Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan.
13 Kamu telah membajak kefasikan, telah menuai kecurangan, telah memakan buah kebohongan. Oleh karena engkau telah mengandalkan diri pada keretamu, pada banyaknya pahlawan-pahlawanmu,
14 maka keriuhan perang akan timbul di antara bangsamu, dan segala kubumu akan dihancurkan seperti Salman menghancurkan Bet-Arbel pada hari pertempuran: ibu beserta anak-anak diremukkan.
15 Demikianlah akan Kulakukan kepadamu, hai kaum Israel, oleh karena dahsyatnya kejahatanmu. Pada waktu fajar akan dilenyapkan sama sekali raja Israel.


Kesimpulan

Berbeda dengan Islam (dalam Hadits) yang mengisahkan kemenangan mutlak Islam atas bangsa Israel, sesungguhnya Bible justru memberikan dua nubuat yang saling bertolak belakang. Yaitu Nubuat Bible yang mengisahkan binasa nya bangsa Israel (seperti yang saya paparkan diatas), dan nubuat kemenangan Israel atas musuh-musuhnya (tidak saya paparkan).

Oleh karena itu, bagi saya sebagai Muslim, tidak heran melihat ketidak-PEDE-an bangsa Israel. Disatu sisi meyakini kemenangan mereka atas musuhnya (Islam), namun disisi lain justru meyakini kebinasaan dirinya (bangsa Israel) melawan musuhnya (Islam). Dalam bentuk ketidak-PEDE-an itulah, bangsa Israel menanam pohon Gharqad (Ghorqod) secara masal di Tanah Palestina.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi pembaca Muslim yang sering menghadapi propaganda kaum Salibis dan Yahudi.

Wasalam.



Sumber
-swaramuslim
-Armageddon, oleh Wisnu Sasongko.
-LAI TB (Lembaga Alkitab Indonesia edisi Terjemahan
jazakumullah

Saf Di Dalam Solat: Kedudukan, Perintah & Tuntutannya

AHLAN WA SAHLAN
Sebaik-baik Saf Dan Keutamaan Saf

Diriwayatkan dari Jabir bin Samirah ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Tidakkah kalian ingin berbaris, sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka.” Maka kami bertanya, “Bagaimanakah para malaikat berbaris di hadapan Rabb?’ Beliau menjawab, “Mereka menyempurnakan barisan yang depan dan saling merapat di dalam saf.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 430)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Seandainya orang-orang tahu (pahala) yang terdapat di dalam seruan (azan) dan barisan (saf) pertama kemudian mereka tidak mendapatkan cara untuk mencapainya kecuali dengan cara melakukan undian, pasti mereka akan mengadakannya.” (Hadis Riwayat Bukhari, no. 615. Muslim, no. 137)

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla dan para Malaikat-Nya berselawat ke atas barisan (saf) yang pertama atau saf yang awal.” (Dinilai hasan oleh al-Albani di dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, 1/197)

Menyempurnakan Saf Yang Hadapan Dahulu

Dari Anas r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sempurnakanlah saf pertama, kemudian saf berikutnya. Jika kurang (saf pertama telah penuh/tidak mencukupi), maka hendaklah ia mengambil saf yang belakang.” (Hadis Riwayat an-Nasa’i, 2/93)

Posisi Makmum di Dalam Solat

1 – Kedudukan Saf Secara Umum Bagi Lelaki Dan Wanita.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sebaik-baik saf bagi lelaki adalah yang paling hadapan dan seburuk-buruknya adalah yang paling belakang. Sebaik-baik saf wanita adalah yang paling belakang dan seburuk-buruknya adalah yang paling hadapan.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 440)

1 - Imam (Depan), 2 - Makmum Lelaki (Belakang Imam, Depan Saf Wanita), 3 - Makmum Wanita (Belakang)

2 – Apabila solat berjamaah mengandungi dua orang lelaki, iaitu seorang imam dan seorang makmum.

Apabila imam solat berjamaah hanya dengan seorang makmum, maka dia (makmum) disunnahkan berdiri di sebelah kanan imam (sejajar dengannya), sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas r.a. bahawa beliau pernah solat berjamaah bersama Rasulullah pada suatu malam dan berdiri di sebelah kirinya. Maka Rasulullah memegang kepala Ibnu Abbas dari belakang lalu memindahkannya ke sebelah kanannya. (Hadis Riwayat Muslim, No. 763. Bukhari, no. 183)

Maka, kedudukan imam adalah di sebelah kiri makmum, dan makmum di sebelah kanan imam dalam keadaan satu barisan (satu saf) sebelah menyebelah.

1 - Imam (Kiri), 2 - Makmum (Kanan)

3 – Solat dengan dua orang makmum (atau lebih) bersama imam.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah al-Anshaari:

“… Rasulullah s.a.w. berdiri untuk menunaikan solat, lalu akupun datang dan berdiri di samping kiri beliau. Rasulullah meraih tanganku lalu memindahkanku ke sebelah kanan beliau. Kemudian datang pula Jabbar bin Shakr r.a., ia berwudhu’ lalu mengikuti solat kami, ia berdiri di samping/sebelah kiri Rasulullah. Beliaupun meraih tangan kami berdua lalu memindahkan kami ke belakang beliau...” (Hadis Riwayat Muslim, no. 3006)

Jika tiga orang makmum atau lebih solat bersama imam, maka mereka berdiri di belakang imam menurut kesepakatan para ulama. Hadis-hadis yang menyebutkan tentang masalah ini terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Makmum tidak boleh berada di depan imam, kerana tidak sah bermakmum bersama seorang imam kecuali jika imam tersebut berada di depan mereka. Jumhur ulama berpendapat, barangsiapa berada di depan imam maka batal solatnya. Imam Malik, Ishaq, Abu Tsaur dan Daud membolehkannya, jika tempat terlalu sempit. (Rujuk: Sahih Fiqih Sunnah, jil. 2, hal. 239, Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim)


4 – Solat seorang wanita bersama imam lelaki.

Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Aku solat bersama seorang anak yatim di belakang Nabi s.a.w., dan ibuku (ummu Sulaim) di belakang kami. (Hadis Riwayat Bukhari, no. 727)

Jika seorang lelaki dan seorang wanita solat bersama imam maka lelaki berdiri sejajar di sebelah kanan imam, sementara wanita ber-saf sendirian di belakang keduanya. Diriwayatkan dari Anas, “Bahawa Rasulullah s.a.w. mengimaminya, dan seorang wanita bersama mereka, maka beliau menempatkannya di sebelah kanannya, dan wanita tersebut di belakang mereka.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 269) (Rujuk: Sahih Fiqih Sunnah, jil.2, hal. 240, Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim)

Seorang lelaki boleh menjadi imam solat bagi isterinya atau salah seorang mahramnya. Dan tidak boleh seorang lelaki mengimami seorang wanita asing (bukan mahramnya) seorang diri, berdasarkan keumuman hadis berikut:

“Tidak boleh bagi seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita, kerana yang ketiganya adalah syaitan.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, no. 1171)

Seorang lelaki boleh mengimami sejumlah wanita. Akan tetapi hal ini dibolehkan apabila aman dari fitnah.

1 - Imam (Depan), 2 - Makmum Wanita (Belakang)

1 - Depan - Imam (Kiri), Makmum Lelaki (Kanan), 2 - Belakang & Tengah (Saf Wanita)

5 – Solatnya seorang wanita bersama kaum wanita yang lain.

Diriwayatkan dari Hajirah, dari Ummu Salamah, “Bahawa ia mengimami mereka, dan ia berdiri di tengah-tengah mereka.” (Hadis Riwayat Abdurrazzaq, 3/140) Jika seorang wanita solat mengimami jamaah kaum wanita, maka ia berdiri di tengah-tengah mereka dalam keadaan satu barisan (saf) bersama yang lainnya. Hendaklah ia tidak maju (mengambil posisi ke hadapan).

6 – Posisi kanak-kanak dalam saf solat berjemaah.

Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Aku solat bersama seorang anak yatim di belakang Nabi s.a.w., dan ibuku (ummu Sulaim) di belakang kami. (Hadis Riwayat Bukhari, no. 727)

Menurut Sheikh al-Albani:

Tidak mengapa anak-anak berdiri di saf kaum lelaki dewasa, jika saf tersebut masih ada ruang. Dan solatnya kanak-kanak lelaki yatim bersama Anas di belakang Rasulullah s.a.w. adalah hujjah dalam masalah ini. (Rujuk: Tamam al-Minah, hal. 282) (Dinukil dari Sahih Fiqih Sunnah, jil.2, hal. 241-242, Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim)

7 – Solat di samping (sebelah) imam kerana saf sudah penuh.

Barangsiapa memasuki masjid dan ia mendapati masjid sudah penuh dan saf-saf sudah sempurna, maka dia boleh membelah saf dan berdiri di samping imam. Ini adalah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah s.a.w. di ketika beliau sakit. Daripada Aisyah r.ha, dia menyatakan, “Nabi s.a.w. dalam sakitnya yang mengakibatkan beliau wafat, ketika merasa lebih baik, beliau keluar dan mendapatkan Abu Bakar sedang solat bersama yang lain. Ketika Abu Bakar melihat beliau, ia ingin mundur, maka beliau (Nabi s.a.w.) mengisyaratkan kepadanya agar tetap di posisinya/tempatnya semula. Lalu Rasulullah s.a.w. dipapah oleh dua orang sehingga beliau duduk sejajar di sebelah kiri Abu Bakar r.a.. Maka, Abu Bakar mengikuti solat Rasulullah s.a.w., sedangkan orang-orang mengikuti solat Abu Bakar.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 418)

Dalam suatu penjelasan yang lain berkenaan kisah kepergian Nabi s.a.w. ke Bani ‘Amr bin ‘Auf untuk mendamaikan di antara mereka dan solat Abu Bakar bersama manusia, disebutkan, “...Rasulullah s.a.w. datang, sementara orang-orang sedang mengerjakan solat, maka beliau masuk hingga dalam saf...” (Hadis Riwayat Bukhari, no. 684) Dalam riwayat yang lain, “Beliau membelah saf-saf hingga berdiri di saf yang paling depan.” (Rujuk: Sahih Fiqih Sunnah, jil.2, hal. 239-240, Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim)

Perintah Dan Tuntutan Merapatkan Saf

Persoalan menjaga saf dan merapatkan saf di dalam solat adalah merupakan suatu permasalahan yang kian terabai. Ramai dari kalangan masyarakat hari ini, mengambil mudah dalam hal ini sebagaimana yang banyak berlaku di masjid-masjid sekeliling kita. Saf-saf solat mereka kelihatan renggang, tidak sekata, dan lebih mengecewakan adalah apabila para imam sendiri tidak ambil endah berkenaan hal ini. Sedangkan jika dilihat kepada hadis-hadis Rasulullah s.a.w. dan atsar para sahabat, dalam persoalan merapatkan saf ini, sungguh betapa dititik beratkan kesempurnaannya, dan malah jika gagal menyempurnakannya, ada pula hadis-hadis yang berbentuk ancaman.

Meluruskan dan merapatkan saf (barisan) dalam solat berjamaah adalah merupakan suatu hal yang sangat diperintahkan (dituntut), sebagaimana di dalam hadis Nabi s.a.w., (maksudnya), “Luruskan saf-mu, kerana sesungguhnya meluruskan saf itu merupakan sebahagian dari kesempurnaan solat”. (Hadis Riwayat Muslim, no. 433) Dalam Riwayat yang lain, “Sesungguhnya meluruskan saf itu merupakan sebahagian dari mendirikan solat.” (Hadis Riwayat Bukhari, no. 722. Muslim, no. 435) “Sesungguhnya menegakkan saf (meratakan saf), adalah sebahagian dari kebaikan solat.” (Hadis Riwayat Bukhari, no. 723)

Hadis tersebut dan hadis-hadis lain yang seumpamanya, kata lbnu Hazm, merupakan dalil wajibnya merapikan saf sebelum dan sepanjang melaksanakan solat. Kerana menyempurnakan solat itu wajib, sedang kesempurnaan saf merupakan sebahagian dari kesempurnaan solat, maka merapikan saf merupakan kewajiban. Juga lafaz ‘amr (perintah) dalam hadis di atas menunjukkan wajib. Selain itu, Rasulullah s.a.w. setiap kali akan memulakan solat (berjemaah), selalu menghadap kepada jamaah dan memerintahkan untuk meluruskan saf, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.

Umar bin Khaththab r.a. pernah memukul Abu Utsman al-Nahdi kerana keluar dari barisan solatnya. Juga Bilal pernah melakukan hal yang sama, seperti yang dikatakan oleh Suwaid bin Ghaflah bahawa Umar dan Bilal pernah memukul bahu kami dan mereka tidak akan memukul orang lain, kecuali kerana meninggalkan sesuatu yang diwajibkan. (Rujuk Fathul Bari, 2/447). Anas r.a. ketika tiba di kota Madinah ditanya, “Apa yang engkau ingkari dari perbuatan kami sejak sepeninggalan Rasulullah?” Dia menjawab, “Tidak ada perbuatan kalian yang aku ingkari kecuali ketika kalian tidak meluruskan saf-saf kalian.” (Diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Sahihnya, no. 724)

Bahkan Rasulullah s.a.w. sebelum memulakan solat, beliau berjalan merapikan saf dan memegang dada dan bahu para sahabat lalu bersabda, “Hendaklah kalian meluruskan saf-saf kalian atau Allah akan membalikkan wajah-wajah kalian.” (Hadis Riwayat Bukhari, no. 717, Muslim, no. 436)

Di dalam riwayat Abu Hurairah r.a.. dia berkata, “Rasulullah biasa masuk memeriksa ke saf-saf bermula dari satu hujung (sisi) ke hujung yang lain, memegang dada dan bahu kami seraya bersabda, “Jangan lah kalian berbeza (tidak lurus safnya), kerana akan menjadikan hati kalian berselisih.” (Hadis Riwayat Muslim)

Dalam hadis yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari an-Nu’man bin Basyir: beliau berkata, “Dahulu Rasullullah meluruskan saf kami sehingga sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah faham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sehingga saf kami telah rapi – pent.), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk solat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang dadanya terkehadapan, maka beliau bersabda:

“Wahai para hamba Allah, hendaklah kalian benar-benar meluruskan saf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian”. (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 436)

Sedangkan hadis yang diriwayatkan dari Anas r.a., Beliau bersabda, “Luruskan dan rapatkan saf-saf kalian, kerana sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam al-Musnad, no. 3720, al-Mukhlis di dalam al-Fawaid (1/10/2), Sa’id ibn Manshur di dalam al-Sunan, dan al-Ismaili sebagaimana di dalam Fathul Bari (2/211). Sanad hadis ini adalah sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim seperti disebutkan di dalam al-Silsilah as-Sahihah)

Imam al-Qurthubi berkata, “Yang dimaksudkan dengan perselisihan hati pada hadis di atas adalah bahawa ketika seseorang tidak lurus di dalam safnya dengan berdiri ke depan atau ke belakang, menunjukkan kesombongan di dalam hatinya yang tidak mahu diatur. Yang demikian itu, akan merosakkan hati dan memungkinkan menimbulkan perpecahan.” (Rujuk: Fathul Bari 2/443) Pendapat ini juga didukung oleh Imam al-Nawawi, beliau berkata, “Berbeza hati maksudnya, terjadi di antara mereka kebencian dan permusuhan serta pertentangan hati. Perbezaan ketika ber-saf merupakan perbezaan zahir dan perbezaan zahir adalah wujud dari perbezaan batin iaitu hati.”

Sementara Qadhi Iyyadh menafsirkannya dengan mengatakan “Allah akan mengubah hati mereka secara fizikal, sebagaimana di dalam riwayat lain (Allah akan mengubah wajah mereka)”. Hal itu merupakan ancaman yang berat dari Allah. Sebagaimana Dia mengancam orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam (i’tidal), maka Allah akan mengubah wajahnya menjadi wajah keldai. Imam al-Kirmani menyimpulkan, “Akibat dari pertentangan dan perbezaan di dalam saf, boleh menimbulkan perubahan anggota atau tujuan atau juga perbezaan balasan dengan memberikan balasan yang sempurna bagi mereka yang meluruskan saf dan memberikan balasan keburukan bagi mereka yang tidak meluruskan safnya.”

Berdiri di dalam saf bukan hanya sekadar berbaris lurus, tetapi juga dengan merapatkan kaki dan bahu antara satu dengan yang lainnya seperti yang dilakukan oleh para sahabat. Dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda, “Rapatkanlah saf, dekatkan (jarak) antara saf-saf itu dan ratakan bahu-bahu.” (Hadis Riwayat Abu Daud dan an-Nasai, disahihkan oleh Ibnu Hibban)

Di dalam riwayat lain, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, aku melihat syaitan masuk di celah-celah saf, sebagaimana masuknya anak kambing.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 666. an-Nasa’i, 2/93. Ahmad, 2/97)

Bahkan sehingga ada sebahagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana perkataan Sheikh al-Albani rahimahullah dalam mengulas sabda Nabi s.a.w. “...atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian,” dengan menyatakan, “Sesungguhnya ancaman seperti ini tidak boleh dikatakan termasuk perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi.” Akan tetapi sungguh amat sangat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan saf ini telah diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin.

Berkata Sheikh Masyhur Hasan Salman (Rujuk: Majalah FATAWA, vol. 3/no.11, November 2007/Dzulqae’dah 1428):

Apabila jamaah solat tidak melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan al-Nu’man maka akan selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam saf. Dan pada kenyataannya (kebanyakannya) para jemaah solat apabila mereka merapatkan saf maka akan luaslah saf (menampung banyak jemaah) khususnya saf pertama kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya, maka:

Pertama: Mereka terjerumus dalam larangan syar’i, iaitu tidak meluruskan dan meluruskan saf.

Kedua: Mereka menyediakan celah untuk syaitan dan Allah akan memutuskan mereka, sebagaimana hadis dari Umar bin Khaththab r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda, “Tegakkan saf-saf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaitan, barangsiapa yang menyambung saf nescaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutuskan saf nescaya Allah akan memutuskannya.” (Hadis Riwayat Abu Daud, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim) “Dan barangsiapa memutuskan saf (tidak merapatkan atau memenuhkan saf), maka Allah akan memutuskan hubungan dengan-Nya.” (Hadis Riwayat Abu Daud, no. 785)

Ketiga: Terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak pertentangan di antara mereka, sebagaimana dalam hadis an-Nu’man terdapat faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, iaitu sesungguhnya rosaknya zahir mempengaruhi rosaknya batin dan begitu jugalah sebaliknya. Di samping itu bahawa sunnah meluruskan dan merapatkan saf menunjukkan rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong, sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya.

Keempat: Mereka kehilangan pahala yang besar yang dikhabarkan melalui hadis-hadis yang sahih, di antaranya sabda Nabi s.a.w., “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya berselawat kepada orang yang menyambung saf.” (Hadis Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim. Dinilai Sahih oleh al-Albani di dalam Kitabnya Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, 1/335)

Cara-Cara Merapatkan Saf Yang Betul

1 – Merapatkan bahu dengan bahu, lutut dengan lutut, dan mata kaki dengan mata kaki sebagaimana hadis berikut:

“Dari Nu’man bin Basyir r.a. berkata: Aku melihat seseorang merapatkan bahunya dengan bahu saudaranya, merapatkan (melekatkan) lututnya dengan lutut saudaranya dan mendekatkan mata kakinya dengan mata kaki saudaranya.” (Hadis Riwayat Bukhari, Kitab Azan, no. 76. Abu Daud, no. 616)

2 – Meratakan/meluruskan telapak kaki dengan talapak kaki saudaranya dan meluruskan telapak kaki ke arah kiblat.

“Dari Anas bin Malik r.a. berkata, “(Pada waktu solat) masing-masing dari kami meratakan bahunya dengan bahu saudaranya dan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya.” (Hadis Riwayat Bukhari, no. 725)

“Baginda menghadapkan hujung-hujung kedua-dua jari-jemari kaki baginda ke arah Kiblat”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Abu Daud) Baginda s.a.w. mengarahkan jari jemari kakinya ke arah kiblat. (Rujuk: Tuntutan Rasulullah Dalam Ibadah, hlm. 19. Ibn Qaiyyim al-Jauziyah – Dinukil dari buku: Solatlah Sebagaimana Rasulullah s.a.w. Solat, Oleh Ustaz Rasul Dahri)


Betul - Kaki diluruskan ke arah hadapan (Kiblat)

Salah - Kaki tidak lurus ke hadapan

3 – Menutup ruang/celahan di antara saf.

Dari Ibnu Umar bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Tegakkanlah saf-saf, sejajarkanlah bahu-bahu kalian, tutupkanlah celah-celah, dan lembutkanlah diri kalian untuk disentuh tangan-tangan saudara kalian. Jangan biarkan celah-celah untuk dimasuki syaitan. Barangsiapa yang menyambung saf, maka Allah menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskan saf, maka Allah memutuskannya.” (Hadis Riwayat Abu Daud, no. 666. an-Nasa’i, 2/93. Ahmad, 2/97. Juga dinilai Sahih oleh al-Albani di dalam Sahih Abi Daud, 1/197) Di dalam riwayat lain, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, aku melihat syaitan masuk di celah-celah saf, sebagaimana masuknya anak kambing.” (Hadis Riwayat Abu Daud, no. 667. Dinilai Sahih oleh al-Albani di dalam Sahih Sunan Abi Daud, 1/198)

4 – Meletakkan posisi badan dalam keadaan yang baik/betul.

Dari an-Nu’man bin Basyir: beliau berkata, “Dahulu Rasullullah meluruskan saf kami sehingga sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah faham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sehingga saf kami telah rapi – pent.), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk solat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang dadanya terkehadapan, maka beliau bersabda:

“Wahai para hamba Allah, hendaklah kalian benar-benar meluruskan saf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian”. (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 436)

Keudukan/susunan Saf Yang Betul Dan Rapi

Kedukan/Susunan Saf Yang Salah yang mana banyak terjadi di sekeliling kita Masa ini

Larangan Membuat Saf Sendirian

Seorang makmum dilarang membuat saf sendirian, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Wabishah bin Mi’bad, bahawa Rasulullah s.a.w. melihat seseorang solat di belakang saf sendirian, maka beliau memerintahkan untuk mengulang solatnya. (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi. Disahihkan oleh al-Albani di dalam Sahih Sunan Abi Daud, 1/299 dan Irwaa’ul Ghalil, no. 541)

Menurut Sheikh Muhammad bin Soleh al-Utsaimin (rujuk: asy-Syarhul Mumti’, 4/376-385), jika seseorang menjumpai saf yang sudah penuh, sementara ia sendirian dan tidak ada yang ditunggu, maka boleh baginya solat sendiri di belakang saf itu.

Untuk menjaga keutuhan, seseorang dibolehkan untuk maju atau bergerak ke hadapan ketika mana mendapati ada saf di hadapannya yang terputus. Sabda Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abu Juhaifah, beliau bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi celah yang ada pada saf maka Allah akan mengampuni dosanya.” (Hadis Riwayat al-Bazzar dengan sanad yang hasan)

Tiada langkah paling baik melebihi yang dilakukan oleh seseorang untuk menutupi celah di dalam saf. Dan semakin banyak teman dan saf dalam solat berjamaah akan semakin afdhal, sebegaimana yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Solat seorang bersama seseorang lebih baik daripada solat sendirian, dan solat bersama dua orang lebih baik dari solat bersama seseorang. Dan bila lebih banyak maka yang demikian lebih disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” (Muttafaq ‘Alaih)

Terpisahnya Makmum Dengan Imam Kerana Dinding

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah s.a.w. solat pada malam hari di kamarnya. Sementara dinding kamar itu pendek, sehingga orang-orang dapat melihat Nabi s.a.w., maka sejumlah orang berdiri mengikuti solatnya...” (Hadis Riwayat Bukhari, no. 729)

Memasuki Saf Dalam Keadaan Tenang

Dan ketika memasuki saf untuk solat disunnahkan untuk melakukannya dengan tenang iaitu tidak terburu-buru, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah, bahawasanya ia solat dan mendapati Nabi sedang ruku’ lalu dia ikut ruku’ sebelum sampai kepada saf, maka Nabi berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan kepadamu semangat (kemahuan), tetapi jangan kamu ulangi lagi.” (Hadis Diriwayatkan oleh Bukhari) Dan dalam Riwayat Abu Daud, ada tambahan, “Ia ruku’ sebelum sampai di saf lalu dia berjalan menuju saf.” (Rujuk artikel berkenaan hal ini di pautan berikut:
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/2008/02/082-persoalan-masbuk-ketika-imam-sedang.html)

Rujukan/Disusun Daripada:

1 – Majalah FATAWA, vol. 3/no.11, November 2007/Dzulqa’dah 1428.
2 – Kertas Kerja: Merapatkan, Meluruskan, & Meratakan Saf Dalam Solat, Oleh Ustaz Rasul bin Dahri.
3 – Solatlah Sebagaimana Rasulullah s.a.w. Solat, Oleh Ustaz Rasul Dahri.
4 - Shahih Fiqih Sunnah, Jilid 2, Oleh Sheikh Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim.
5 – Ensiklopedi Shalat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, Jilid 2, oleh Dr. Sa’id ‘Ali bin Wahf al-Qahthani.

jazakumullah

Solat Sunnah Tasbih

AHLAN WA SAHLAN


Solat Tasbih adalah salah satu jenis solat yang dilakukan dalam bentuk yang khusus. Dinamakan sebagai solat Tasbih adalah kerana di dalamnya banyak terdapat ucapan tasbih. Pada setiap rakaatnya terdapat tujuh puluh lima (75) tasbih. (Nihayah al-Muhtaj, 2/119)

Di antara solat sunnah yang disyari’atkan adalah solat sunnah Tasbih, iaitu seperti yang disebutkan di dalam hadis Ibnu ‘Abbas r.a. berikut:

Dari Ibnu abbas r.a., bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepada ‘Abbas bin Abdil Muthalib: “Wahai ‘Abbas, wahai pakcik-ku, mahukah engkau jika aku memberimu? Mahukah engkau jika aku memberi kemuliaan bagimu? Mahukah engkau jika aku menghadiahkan kepadamu? Mahukah engkau jika aku berbuat sesuatu terhadapmu? Ada sepuluh perkara yang jika engkau melakukan hal tersebut, maka Allah akan memberikan keampunan bagimu atas dosa-dosamu. Iaitu yang pertama dan yang akhir, yang sudah berlalu atau yang akan datang (baru), tidak sengaja atau yang disengajakan, kecil atau besar, tersembunyi atau yang terang-terangan. Sepuluh perkara itu ialah: Hendaklag engkau mengerjakan solat empat (4) rakaat. Pada setiap rakaat engkau membaca surah al-Fatihah dan surah lainnya. Setelah engkau selesai membaca di rakaat pertama sedangkan engkau masih dalam keadaan berdiri, hendaklah engkau mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ
(Subahanallah, wal hamdulillah, wa lailaa ha illallah, wallahu akhbar: “Maha Suci allah, Segala Puji Bagi Allah, Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Allah Maha Besar”)

Dibaca sebanyak lima belas (15) kali. Kemudian engkau rukuk, lalu engkau membacanya sepuluh kali (10) sedang engkau dalam keadaan ruku’. Kemudian mengangkat kepalamu dari rukuk lantas mengucapkannya sepuluh kali (10). Selanjutnya turun untuk sujud lalu membacanya sepuluh kali (10) ketika dalam keadaan sujud. Setelah itu mengangkat kepalamu dari sujud seraya mengucapkan sepuluh kali (10). Kemudian sujud lagi dan mengucapkannya sepuluh kali (10). Selanjutnya mengangkat kepalamu seraya mengucapkannya sepuluh kali (10). Demikianlah iaitu tujuh puluh lima (75) kali setiap rakaat. Hendaklah engkau melakukan perkara tersebut pada empat rakaat, jika engkau mampu mengerjakannya setiap hari satu kali maka kerjakanlah. Jika engkau tidak mampu mengerjakannya pada setiap hari maka kerjakanlah setiap satu Jumaat satu kali, Jika engkau tidak mampu, maka kerjakanlah setiap sebulan sekali. Jika tidak mampu maka kerjakanlah setahun sekali. Dan jika engkau tidak mampu juga maka kerjakanlah satu kali selama hidupmu.”

(Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam Kitab ash-Solah, Bab Solat Tasbih, no. 1297. Ibnu Majah di dalam Kitab Iqamatus Solah was Sunnah Fiihaa, Bab Maa Jaa’a fii Solatit Tasbih, no. 1386. al-Hakim, 1/318-319. al-Baihaqi, 3/51. ath-Thabari, 10/161. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 1/25-26 dan selain mereka. Hadis ini dinilai kuat oleh sekelompok ulama, di antaranya Abu Bakar al-Ajuri, Abul Hasan al-Maqdisi, al-Baihaqi, dan yang sebelum mereka adalah Ibnul Mubarak. Demikian juga dengan Ibnu Sakan, at-Taaj as-Subki, al-Balqini, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasqi, as-Suyuthi, al-Laknawi, as-Sindi, az-Zubaidi, al-Mubarakfuri (penulis kitab at-Tuhfah, al-Mubarakfuri penulis kitab al-Mir’aat, menurut al-Hafiz Ibnu Hajar, tidak ada lagi hadis sahih berkenaan solat sunnah Tasbih melainkan hadis ini. Menurut pendapat Ibnul Mubarak, sejumlah ahli ilmu, dan sebahagian ulama Syafi’iyah ianya mustahab (dianjurkan), al-Majmu’, 3/647 dan Nihayah al-Muhtaj, 2/119. Menurut Muslim bin Hajjaj rahimahullah pula menyatakan bahawa, tidak ada sanad paling baik berkaitan hadis solat sunnah Tasbih kecuali hadis ini, iaitu sanadnya melalui ‘Ikrimah yang diambil daripada ‘Ibnu Abbas. Yang terakhir pula antaranya disahihkan oleh Sheikh al-Albani di dalam Sahih Sunan Abi Daud (No. 303), al-Miyskah (no. 1328), at-Ta’liq ar-Raghib (1/237), at-Ta’liq ‘ala Ibn Khuzaimah (1216), dan di dalam Kitab Sahih at-Targrib wa Tarhib)

Sebagai perhatian, persoalan hadis solat sunnah Tasbih ini melibatkan pelbagai perselisihan ulama dalam mensahihkannya, menghasankannya, dan juga mendhaifkannya dengan pelbagai alasan. Di antara mereka ada yang meletakkan alasan bahawa tatacara solat Tasbih ini ganjil, bertentangan, dan berbeza dengan tatacara solat yang lainnya yang sedia dimaklumi. Ada juga yang menyatakan bahawa kesemua jalan periwayatannya dhaif. Akan tetapi bagi yang berpendapat dengan ilmunya bahawa hadis ini sahih, maka disunnahkan untuk melakukan solat tersebut sebagaimana yang dijelaskan melalui hadis tersebut. Ini kerana, persoalan ibadah adalah termasuk dalam hal tauqifiyah (berdasarkan contoh dan saranan) dan tidak perlu wujud persoalan ianya aneh, ganjil dan sebagainya asalkan hadisnya sahih. Wallahu a’lam...

Kesimpulan/Kaifiyat:

1 – Khithab di dalam hadis ini ditujukan kepada ‘Abbas, tetapi hukumnya berlaku umum bagi setiap Muslim. Sebab, landasan dasar dalam khithab Rasulullah s.a.w. adalah umum dan tidak khusus.

2 – Sabda beliau di dalam hadis di atas: “Niscaya Allah akan memberikan keampunan kepadamu di atas dosa-dosamu, yang pertama dan terakhir, lama dan baru, sengaja dan tidak disengaja, kecil mahupun besar, yang tersembunyi mahupun yang terang,” adalah sepuluh kriteria.

Jika ada yang menyatakan/beralasan: “Sabda beliau: “sengaja mahupun tidak disengaja”, kalimah al-Khatha’ di sini membawa erti yang tidak berdosa.

Allah s.w.t. berfirman:

رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ...
“Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau mengirakan Kami salah jika Kami lupa atau kami tersalah.” (Surah al-Baqarah 2: 286)

Bagaimana Allah menjadikannya termasuk ke dalam perbuatan dosa?

Jawabnya: Di dalam kata al-Khatha’ itu mengandungi kekurangan atau ketidaksempurnaan, sekalipun tidak mengandungi dosa. Dan solat ini memiliki kesan tersebut.

3 – Di dalam kitab at-Tanqiih Limaa Jaa’a fii sholatit Tasbih, dia menyatakan: “Ketahuilah, mudah-mudahan Allah merahmatimu, bahawa hadis-hadis yang menyuruh mengerjakan amal-amal yang mencakupi pengampunan dosa seperti ini tidak semestinya bagi seorang hamba untuk bersandar kepadanya, lalu membebaskan dirinya untuk mendekati perbuatan-perbuatan dosa. Kemudian, dia beranggapan jika dia melakukan sesuatu perbuatan, niscaya semua dosanya akan diampuni. Ini merupakan puncak dari kebodohan dan kejahilan. Apa yang menjadikan anda yakin, wahai orang-orang yang tertipu, bahawa Allah akan menerima amalmu itu dan selanjutnya akan mengampuni dosa-dosamu?

Allah s.w.t. berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa...” (Surah al-Ma’idah 5: 27)

Perhatikan dan campakkanlah hal tersebut, serta ketahuilah bahawa pintu masuk syaitan ke dalam diri manusia itu cukup banyak. Berhati-hatilah, jangan sehingga syaitan memasuki diri kita melalui pintu tersebut.

Allah s.w.t. telah menyifatkan hamba-hambanya yang beriman sebagai orang-orang yang mengerjakan amal soleh serta sentiasan berusaha melaksanakan ketaatan kepadanya. Walaupun demikian, hati mereka masih mungkin juga gementar/takut/risau, dan khuwatir jika amal mereka itu tidak diterima sehingga ditimpakan siksaan ke wajah mereka. Allah s.w.t. berfirman:

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (kerana mereka tahu bahawa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Surah al-Mukminuun 23: 60-61)

Apa yang kami kisahkan di dalam menafsirkan ayat ini merupakan pendapat majoriti ahli Tafsir. Di dalam kitab al-Jami’ (11/132), al-Qurtubi menyebutkan dari al-Hasan, bahawasanya dia berkata: “Kami pernah mengetahui beberapa orang yang takut kebaikan mereka akan ditolak, (merasa) lebih prihatin daripada kalian yang tidak takut di-azab atas perbuatan dosa kalian.”

Ketahuilah bahawa dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak manusia tidak terangkum ke dalam hadis di atas. Walaupun demikian, suatu keharusan untuk mengembalikan hak kepada pemilik-nya, serta bertaubat dari hal tersebut dengan taubat nasuha.” (at-Tanqiih Limaa Jaa’a fii Sholatit Tasbiih, m/s. 101-102)

4 – Tidak disebutkan penetapan bacaan surah/ lainnya dalam rakaat-rakaat tersebut dan tidak juga penetapan waktu perlaksanaannya.

5 – Lahiriyah hadis menyebutkan bahawa solat Tasbih itu dikerjakan dengan satu salam, sama ada malam atau siang hari, sebagaimana yang dikemukakan oleh al-qari di dalam kitab al-Mirqaat dan al-Mubarakfuri di dalam kitab at-Tuhfah, 1/349.

6 – Yang jelas bahawa, bacaan dzikir yang diucapkan sepuluh kali sepuluh kali itu diucapkan setelah dzikir yang ditetapkan di tempatnya masing-masing. Ertinya, di dalam ruku’, dzikir-dzikir itu dibaca setelah dzikir ruku’ yang diucapkan sebanyak sepuluh kali. Adapun setelah ucapan: Sami ‘allaahu liman hamidah, Rabbana lakal hamdu, juga berdiri dari ruku’ bacaan itu dibaca sebanyak sepuluh kali. Demikianlah, hal itu dilakukan setiap tempat masing-masing.

7 – Jika melakukan kelupaan dalam solat, lalu mengerjakan dua sujud shahwi, maka dia tidak perlu lagi mengucapkan Tasbih sepuluh kali seperti sujud-sujud solat lainnya.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, 2/250 dari ‘Abdul ‘Aziz bin Abi Razmah, dia menyatakan, “Kukatakan kepada ‘Abdullah Ibnul Mubarak: “Jika melakukan kelupaan dalam solat itu, apakah dia perlu bertasbih sepuluh kali, sepuluh kali di dalam sujud Shahwi?” Dia menjawab: “Tidak, kerana ia berjumlah tiga ratus kali Tasbih”.”

jazakumullah

Hoe denkt de Islam over : ziekte, dood en geboorte

AHLAN WA SAHLAN

1. De Geboorte

1.1. De bekendmaking, felicitaties en visites:

In het geval dat iemand eerder op de hoogte is van iemands pasgeboren baby, dient hij het initiatief te nemen om de vader het nieuws te gaan brengen. Het nieuws dat er een meisje is geboren dient op dezelfde manier verwelkomd te worden als wanneer er een jongen geboren is, en men moet dankbaar zijn tegen Allah.

Het eerste dat gedaan moet worden als de baby geboren is, is de adhaan (de oproep tot het gebed), in zijn of haar oor te zingen. Het tweede is vocht van een dadel die tot fijne pulp is gekauwd, in de baby’s mond aan te brengen. Dit is niet verplicht maar aanbevolen (Soenna*). Felicitaties is een vorm van vreugde die de familie aan de ouders meedelen. Dit kan in elke vorm uitgedrukt worden. Het is een absoluut on-islamitische handeling om felicitaties en goede wensen over te brengen bij de geboorte van een jongen, maar dit achterwege te laten in geval van een meisje. Het antwoord op een felicitatie kan luiden als volgt: "Dank u wel", waaraan toegevoegd kan worden: "Moge Allah (stw) je Zijn zegeningen tonen en je ook een kind schenken".


1.2. Naamgeving

Ouders dienen het geven van een naam aan een pasgeboren kindje niet uit te stellen, ze dienen het zo snel mogelijk te doen, liefst binnen de 7 dagen na de geboorte. Als de ouders het eens zijn over de keuze van de naam, des te beter. Zoniet, dan heeft de vader het recht zelf te kiezen. Het is aanbevolen dat de ouders hun kinderen goede, mooie en betekenisvolle namen te geven, namen die uit 2 delen bestaan waarvan het eerste deel cAbd (slaaf) is, worden als mooi beschouwd, vb. Abderrahiem.

Kinderen mogen de namen van de profeten krijgen. Namen van engelen (zoals Djibriel) dienen vermeden te worden. Namen die verklaren, dat de persoon over exellente* morele deugden beschikt, zoals puurheid, eerlijkheid, gehoorzaamheid of vroomheid, dienen vermeden te worden. Namen die op droefheid, oorlog, e.d. negatieve zaken duiden, zoals Hoezn, Harb, e.d., dienen vermeden te worden. Het hebben en geven van goede namen is niet alleen belangrijk voor mensen, maar ook vereist bij het benoemen van straten, pleinen, steden,… Het veranderen van de namen van de mensen of plaatsen dient, als het nodig is, niet verworpen te worden. Het veranderen van verboden namen is een noodzaak. Het afkorten van een naam is een goede manier om iemand aan te spreken, vooropgesteld dat de ander er tevreden mee is. Het is het beste om, als men iemand wil aanspreken, die men niet kent, een algemene term te gebruiken die hem niet zal beledigen bijv. "Vriend" of "Broeder".


1.3. De zevende dag vieren en het slachten van een dier

De familie viert de geboorte van een nieuwe baby op de zevende dag na zijn of haar geboorte. Deze viering heeft twee belangrijke elementen nl. het slachten van een dier en het scheren van het babyhoofdje.

Om Gods’ zegen te gedenken en Hem om bescherming van het nieuwe kind te vragen, slacht de familie een dier. De traditie kent de volgende regels: .

Het daadwerkelijk slachten van een dier kan niet vervangen worden door bijvoorbeeld de waarde ervan om te zetten en als aalmoes te gaan schenken. Het dier dient een schaap, geit, koe of kameel te zijn (mannetje of wijfje) Diegene die slacht dient te zeggen: "Bismillah, lahoema hadha manka wa illaika" (d.w.z. In de naam van Allah, dit wordt alleen omwille van U gedaan).

Het vlees van het dier kan het beste in drie stukken verdeeld worden: het eerste deel dient om door de familie gegeten te worden en de andere delen worden onder verwanten, buren en armen verdeeld.

Dit offer is zeker niet verplicht als de familie het niet kan betalen.


1.4. Het scheren van het hoofdje en de besnijdenis

Op de zevende dag na de geboorte dient het hoofdje van de baby geschoren te worden. Het is aanbevolen dat het haar gewogen wordt en het gewicht ervan in zilver aan de armen en de behoeftigen gegeven wordt.

Op dezelfde dag kan saffraan*, indien voorhanden, over het hoofdje van de baby gewreven worden. Wat betreft jongens geldt dat er een besnijdenis moet volgen zo snel mogelijk na de geboorte. Deze traditie in de Islam voert ons terug tot de tijd van de profeet Ibrahiem (vzmh).

Bij een besnijdenis dient de voorhuid verwijderd te worden ten einde de eikel van de penis te ontbloten. Het is wel niet nodig dat de totale lengte en breedte van de voorhuid verwijderd wordt. De taak om de besnijdenis uit te voeren dient toevertrouwd te worden aan iemand die gekwalificeerd is voor deze taak. Als de toestand of de gezondheid van de jongen het niet toelaat om de besnijdenis uit te voeren, dient ze uitgesteld te worden naar een later tijdstip. Het is aangeraden dat ook volwassen personen die zich bekeerd hebben tot de Islam, de besnijdenis laten uitvoeren, met uitzondering wanneer de gezondheid het niet toelaat. Niettemin moet het advies van een dokter ingewonnen worden indien er medische redenen zouden zijn om de besnijdenis niet te laten uitvoeren. Over het algemeen vinden moslims dat de besneden man gezonder is en dat in feite de besnijdenis hem zal beschermen tegen bepaalde ziekten. De verwijdering van de voorhuid betekent immers een verkleining van de kans tot vervuiling of ontsteking.

1.5. Abortus, toegestaan of niet?

Abortus is binnen de Islam tot op een zekere hoogte toegestaan, indien het leven van de vrouw in gevaar komt. De meeste geleerden hebben besloten dat de bezieling (Allah’s geest) de scheidslijn is die bepaalt of abortus toelaatbaar is of niet. Bij sommigen ligt de grens op het einde van de 4de maand, anderen beperken de periode tot 40 of 50 dagen. Dit hangt samen met de religieuze visie op de geboortebeperking. Vanaf de periode dat de vrouw bevrucht is, telt men 120 dagen, en dat is de tijd waarin de ziel wordt ingeblazen door Allah. In bekende hadiths* komt dit voor: "De schepping van ieder van jullie vindt plaats in de buik van de moeder, dit gedurende 40 dagen in de vorm van een levenskiem, daarna is hij even lang een klonter, daarna is hij even lang een klompje vlees; vervolgens wordt er een engel naar hem toegezonden die hem de levensadem (rûh) inblaast…".

Dus, men kan hieruit besluiten dat vanaf de bevruchting tot de periode van 120 dagen vruchtafdrijving mag toegepast worden. Na die periode is abortus verboden, behalve wanneer het leven van de moeder gevaar loopt. In de Koran staat over deze situatie: "Diegene die zich in een noodsituatie bevindt, zal geen zonden begaan bij het toepassen van wat niet is toegestaan." In geval van verkrachting is vruchtafdrijving toegestaan. Uiteraard, beschikt de vrouw niet alleen over een stoffelijk lichaam, maar heeft ze ook een geestelijke natuur. Het is ondraaglijk om een kind te moeten dragen op zo’n onwaardige manier. De vrouw treft in zo’n geval geen enkele schuld en heeft dus nood aan alle beschikbare hulp van omstaanders.


1.6. Kan adoptie toegestaan worden of niet?

Adoptie* kwam in de voor-islamitische periode vaak voor en de profeet Mohammed had zijn door hemzelf vrijgelaten slaaf Zaid ibn Haritha geadopteerd. Wat zeer belangrijk is in de Islam, is dat de pleegkinderen hun vaders naam moeten behouden, wat terug te vinden is in de Qorân (33:4-5). Een uitzondering op die regel doet zich voor wanneer de achternaam niet gekend is: in dat geval is de enige optie de naam van de pleegvader over te nemen voor het geadopteerde kind, wat op zich niet verplichtend is.

Het geadopteerd kind heeft niet dezelfde wettelijke rechten en plichten binnen het pleeggezin als de "eigen kinderen". Wanneer iemand geen "eigen" kinderen heeft, mag hij zijn pleegkind(eren) alle rechten geven die hij kan geven en één derde deel van zijn erfenis afstaan. Het betreft meestal weeskinderen of vondelingen die worden opgevoed en onderhouden binnen de familiekring, maar vanaf hun puberteit wordt van mannelijke pleegkinderen verondersteld afstand te houden van de vrouwelijke familieleden. Het islamitisch familierecht gaat er vanuit dat het adoptiekind dat niet rechtstreeks bloedverwant van het adoptiegezin is, een potentiële huwelijkspartner zou kunnen zijn voor één van de gezinsleden.




2. De behandeling van ziekten


2.1. Het gebruik van medicijnen

Er is een algemene overeenstemming dat het gebruik van medicijnen halâl* is. Sommigen zijn van mening dat het aanbevelingswaardig is om geneesmiddelen te gebruiken vanwege de hadith van de Profeet (v.z.m.h.): "Gebruik medicijnen". En ook omdat hij zowel in tijden van ziekte als gezondheid medicijnen gebruikte. Als hij gezond was, gebruikte hij dadels, pompoenen en watermeloenen. Hij at spaarzaam, en liet wat voor de middag over, en bracht twee gebedstijden tot één. Hij dronk ook een aftreksel van rozijnen of vijgen of dergelijk fruit, zoals reeds beschreven is.

Over de keren dat hij ziek was, zei Aisha (zijn vrouw): "De profeet (s.a.w.)* heeft vele ziekten gehad. In die tijden kwamen er verschillende artsen - zowel Arabieren als niet-Arabieren - en zaten naast hem en behandelden hem".

Allah zei: "Ik geef gezondheid en Ik geef geneeswijzen - laat iedereen dus medicijnen gebruiken".


2.2. Het roepen van een dokter

Ten tijde van de profeet (s.a.w.) werd er iemand ziek. De zieke zei: "Roep een dokter voor mij!". Maar zij zegden: "O Boodschapper van Allah, deze man heeft geen dokter nodig." En hij antwoordde: "Jawel".

Van dezelfde bron komt dit verhaal: De profeet (s.a.w.) bezocht eens iemand die ziek was en zei: "Stuur mij een dokter voor hem!" En de zieke man zei: "O Boodschapper van Allah, ben jij dat die dat zegt?" En hij antwoordde: "Ja zeker!"

Het is toegestaan om het voordeel van het advies van een arts te gebruiken die een dhimmî* is, als hij een geneeswijze voorschrijft die halal is; maar zijn advies mag niet worden opgevolgd als hij een haram* medicijn voorschrijft, zoals alcohol en dergelijke zaken. Let ook niet op hem als hij zegt dat je je vasten moet afbreken of moet vasten of je gebed zittend verrichten of iets anders van die aard. In dit soort gevallen mag je alleen acht slaan op het advies dat van een betrouwbare moslimarts komt. Het gaat hier dus om het geval dat je echt geen oplossing hebt om beter te worden of te genezen.


2.3 De belangrijkheid van hygiëne

De Islam leert moslims altijd schoon en rein te zijn. De dagelijkse manieren van reinheid en zuiverheid van het lichaam, van plaats, kleding en dergelijke, dragen veel bij tot de kracht van lichamelijke gezondheid, zoals betrouwbare geneeskundige bewijzen bevestigen. Want reinheid voorkomt de overdracht van bacteriële aandoeningen.

Verscheidene keren per dag wordt van de moslim de woedoe (wassing) gevraagd, als een noodzakelijke voorwaarde voor het gebed, en wordt het wassen van die delen van het lichaam vereist, die gewoonlijk aan stof en vuil blootstaan.

Het feit dat een moslim zich niet mag overeten, maar juist moet stoppen voor zijn maag vol is, heeft zowel geneeskundige als sociale en morele voordelen. Hygiëne is bij de moslims de helft van de imaan*. Dit alles hoort bij de hygiëne van de mens.


2.4. De behandeling van niet verwante leden van het andere geslacht

Deze overlevering werd door een man in de tijd van de profeet (s.a.w.) verteld: "En hij vertelde dat het voor een arts halal is om vrouwen te onderzoeken, zelfs de geslachtsorganen, maar alleen als dat echt nodig is,".

Voor een vrouw wordt dit ook wel toegestaan als er geen man of vrouw van haar familie in de buurt is. Het is ook zo dat als een man sterft en alleen in het gezelschap van vrouwen vertoeft, dat de vrouw ook de man mag wassen mits er alleen vrouwen tot het gezelschap behoren!


2.5. Enkele middelen voor ziekten

2.5.1. waterpokken

Waterpokken liggen tussen de pokken en de mazelen in. Bij de behandeling is het belangrijk om een goede vloed te veroorzaken om de ziekte door aderlating en inkerving uit het lichaam te bannen. De patiënt moet druiven- en granaatappelsiroop drinken. Er wordt ook aangeraden om melkpudding te eten, die met amandelen en gerstewater is gemaakt.

2.5.2. buikaandoeningen en pijnlijke stoelgang

De manier om dit samen aan te pakken bestaat erin malvesap met appelsiroop te koken. Als de buikkrampen te sterk zijn, dan moet er een soort zetpil in de anus ingebracht worden De patiënt moet bij pijnlijke stoelgang soep drinken die gemaakt is van rijpe en onrijpe druiven.

2.5.3. bedwateren

Dit komt voornamelijk onder kinderen en bejaarden voor. Als het door de koude veroorzaakt wordt, dan is het aangeraden zich warmer te kleden. Mensen met dit probleem moeten hun vasten onderbreken met gomwierook*, mastiek en honing. Koude maaltijden, soepen, watermeloen… worden afgeraden.


2.6. Transplantatie en euthanasie binnen de islamitische geneeskunde

2.6.1. Transplantatie*

Hierover hebben islamitische geleerden geruime tijd gediscussiëerd en men is tot de volgende conclusie gekomen: bloedtransfusies* en orgaantransplantaties zijn toegestaan in de Islam.

De meeste mensen zijn hiervan niet op de hoogte, waardoor ze zeer verward raken bij een ongeval of bevalling, in verband met de vraag of dat men al dan niet bloed mag accepteren. Men kan er dus gerust van zijn dat het toegelaten is om een bloedtransfusie te ondergaan.

Wat betreft orgaantransplantaties geldt hetzelfde, aangezien men mag aannemen dat de behoeften van een levende voorrang hebben op die van een dode. Veel moslims maken zich zorgen daarover omdat vroeger de heidense Arabieren de doden bij een oorlog of veldslag verminkten (wat ontoelaatbaar is voor de islam).

Dat (negatieve) gegeven is hier dus niet van toepassing aangezien het gaat om het vrijwillig afstaan van een orgaan ten einde een andere persoon te helpen. Het kenbaar maken van het feit dat je bereid bent om organen af te staan, gebeurt door een donorcodicil* (document dat men steeds op zak moet hebben).

2.6.2. Euthanasie*

Euthanasie wordt niet toegestaan in de Islam. De Enige die leven mag scheppen en terugnemen is God. Hij is Degene die de mens heeft geschapen en hem weer tot Zich roept. De Islam verbiedt zelfmoord en God zal Zijn genade schenken aan wie het overweegt en dan besluit niet te doen. De profeet (s.a.w.) zei eens tegen een ernstig zieke: "Verjaag de wens om te sterven, en als die gedachte toch steeds bij je terugkomt, bid dan tot God: 'O Allah, indien het leven beter is voor mij, laat mij dan leven en als de dood beter is voor mij, laat mij dan sterven'." In extreme situaties, wanneer bv. gekozen moet worden tussen het leven van de moeder en dat van het kind, bij zwangerschapscomplicaties, kiest de man voor het leven van de moeder en haalt men het ongeboren kind weg. Dat is gebaseerd op de basisregel: "Diegene die zich in een noodsituatie bevindt, zal geen zonden begaan bij het toepassen van wat niet is toegestaan." (Q 2:173).

Het geloven in God, het verdragen van pijn met geduld en het besef dat de Schepper al het lijden ziet, brengt een gelovige dichter tot Hem dan al het andere, als hij er slecht aan toe is.


Wanneer een persoon lijdt, krijgt hij of zij een test om te zien hoe sterk zijn of haar vertrouwen en geloof in God is.



3. Het levenseinde of de dood

3.1. Wat is de dood eigenlijk?

Is de dood het tegenovergestelde van leven, of betekent ze de afwezigheid van leven en is ze net zo belangrijk als het leven zelf? De meerderheid van de geloofsgeleerden is tot de conclusie gekomen dat de dood de afwezigheid inhoudt van het leven zoals we dat op aarde kennen, en dat ze dus geen scheppingsvorm is. Tegen hen die het Koranvers aanvoeren: "Hij (Allah) schiep de dood en het leven voor u, om u te beproeven…", als bewijs dat de dood een scheppingsvorm zou zijn, wordt ingebracht dat het woord "scheppen" hier gebruikt wordt in de zin van "bepalen".

De dood is bepaald om ons de waarde van het leven te doen beseffen.


3.2. Betekenis van de dood voor de moslims

De dood is in de Islam geen eindpunt. Alles is in de handen van God: zowel de tijd, de plaats als de manier waarop iemand sterft. Na de dood gaat de ziel naar een tussenwereld waar ze wacht. Dan komt het grote oordeel dat de beloning of straf van het lichaam en de ziel zal bepalen. Iedereen zal krijgen wat hij of zij verdient, naargelang van de handelingen die hier op aarde verricht werden.

Het kan pijn of angst zijn of een voorsmaak van het eeuwige leven. Op een dag zal de aarde vergaan en die eindtijd noemt men in de Islam de "Dag des Oordeels".

Op die dag zullen de zielen terugkeren naar het lichaam in het graf. En op die dag zal Allah elk van ons verhoren en beslissen wie Hij naar de hemel of de hel zal zenden.

Dus de dood heeft voor de moslims veel te betekenen: ze is dan eigenlijk het begin van een nieuw leven.

"Moge Hij ons beschermen en behoeden voor het kwade".


3.3. Wat zijn de taken van de moslimgemeenschap na een sterfgeval?

Eerst en vooral moet men zorgen dat het lichaam wordt gewassen en in schone doeken wordt gewikkeld; dat het gebed voor de overledene wordt verricht en dat de overledene op de juiste wijze in het graf komt.

Indien hieraan geen enkele aandacht wordt besteed, blijft de hele moslimgemeenschap in gebreke. Maar als een voldoende aantal moslims die taak op zich nemen, vervalt die ingebrekestelling. Meestal heeft de imam vaste groepjes, mannen en vrouwen, in zijn gemeenschap, waarop hij kan rekenen bij de uitvoering van deze taken. Het is ook een plicht voor de moslims om, indien zij op de hoogte worden gesteld van een geïsoleerd moslimsterfgeval (een moslim die tussen niet-moslims woonde en geen familieleden had), of van een iemand die aan een ziekte leed en voor zijn dood tot de Islam trad, zich ook daarover te ontfermen.. Dit houdt dus ook in: het lichaam te wassen, in te wikkelen en te begraven volgens de in de Islam geldende principes. De moslimgemeenschap heeft dus vier taken die men zeker moet uitvoeren.


3.4. Hoe wordt de overledene gewassen en door wie?

Het wassen ven de overledene moet gedaan worden door een volwassen moslim die dit vrijwillig wil uitvoeren. Hij of zij moet bewust, discreet en rein zijn en de opeenvolgende stappen goed kennen. Aangewezen personen in het geval van een overleden man zijn: de echtgenote, de vader, de zoon of de broer. In het geval van de overleden vrouw: de echtgenoot, de moeder, de dochter of de zus. Bij voorkeur is het de meest ervarene die de wassing verricht. Een baby bijvoorbeeld die als pasgeborene sterft, wordt niet gewassen, want hij of zij is al in reine staat.

Een man wordt bedekt van de navel tot de knieën en de vrouw van de schouders tot de knieën. Men wast eerst het onbedekte gedeelte van het lichaam en dan de bedekte delen met een proper doekje. Men dient zeer voorzichtig te zijn want de dode is uiterst gevoelig. De eerste wassing is het gewoon natmaken van de dode en dan maakt men het hoofdhaar nat en tilt men het hoofd op zodat het water over het gezicht kan lopen. De wasser maakt zijn vingers nat en reinigt even de neus en de mond. Hierbij mag geen water door de neus- en/of keelholte lopen. Het water wordt nu geparfumeerd met b.v. oranjebloesemwater waarna men het hele lichaam van boven naar onder wast, steeds wisselend (3 maal rechts, 3 maal links). Normaal voldoet één wasbeurt, maar het is zeker aanbevolen om er meer te geven.

Als een bepaalde plek van het lichaam onrein blijft, door bloed bv., reinigt men die plek verder. Daarna wordt de dode afgedroogd en geparfumeerd op de plaatsen die tijdens het gebed de grond raken. Als de wasser positieve kwaliteiten tijdens het wassen van de overledene heeft gezien, mag de wasser dit eventueel vermelden aan anderen. Maar als hij negatieve aspecten heeft kunnen waarnemen, b.v. een slechte geur of een verklampt uiterlijk, moet de persoon in kwestie daarover zwijgen.

De profeet (s.a.w.) zei hierover: "Iemand die een dode wast en zijn of haar onplezierige kenmerken geheim houdt, wordt door Allah veertigvoudig vergeven".


3.5. Hoe wordt het gebed verricht en door wie?

De voorganger van dit gebed kan in de laatste wil van de overledene met naam genoemd worden, doorgaans is het echter de imam van de gemeenschap waartoe de overledene behoort. In de Koran* wordt over dit gebed gezegd: "En bid voor hen, uw gebed betekent zeer zeker rust voor hen." (Q 9:103).

Alle aanwezigen dienen de intentie voor het gebed voor de overledene aan te nemen, vier maal "God is de Grootste" te zeggen, het eerste hoofdstuk van de Koran (de Fâtiha), de smeekbede voor de overledene en de zegenwensen voor de profeet (s.a.w.) te lezen.

De smeekbede voor de dode kan als volgt luiden: "O Allah! Laat diegenen van ons die door U in leven gehouden worden, in de Islam leven en laat diegenen die door U het leven ontnomen worden, sterven in het geloof." (Voor vrouwen en kinderen zijn er minimale varianten in de tekst.).

Het hele gebed wordt staande verricht, waarbij de overledene voor de biddende ligt opgebaard en de voorganger op borsthoogte van de overledene staat. Na het beëindigen van het gebed wordt staande de vredesgroet rechts en links uitgesproken. Als men het gebed verricht moet de doodskist in de richting van de Kaäba* staan en de mensen moeten zich in drie rijen opstellen achter degene die het gebed leidt. De profeet (s.a.w.) zei hierover: "Allah schenkt het paradijs aan iedere dode, achter wie zich drie rijen voor het gebed vormen." En wanneer een dode wordt begraven zonder dat er een gebed werd verricht, dan bidt men aan het graf. Als men niet aan het graf kan bidden, kan men daarvoor ook op een andere afstand bidden. Na het gebed wordt de dode zo snel mogelijk begraven.


3.6. Richtlijnen voor de begrafenis

De begrafenisstoet: Als het gebed ten einde is, hebben de aanwezigen drie mogelijkheden: onmiddellijk weggaan, biddend meegaan naar de begraafplaats en dan huiswaarts keren, of nog langer blijven om vergiffenis te vragen voor de overledene. Diegenen die meegaan naar de begraafplaats, moeten enkele regels in acht nemen. Ze moeten denken aan de dood en daaruit een les trekken, ze moeten God aanroepen en aanbidden. Daarbij mogen de moslims niet zitten tot de dode begraven is. Ze moeten hetzelfde pad volgen als waarover de dode gedragen wordt.

De begrafenis: Het is belangrijk dat moslims begraven worden op een islamitische begraafplaats; niemand mag gecremeerd* worden, zelfs niet als de overledene het gevraagd had. De diepte van het graf komt overeen met de hoogte van de borstkas ven een man. Na het graafwerk wordt onderaan een uitholling gemaakt in de richting van Mekka*. Bij plaatsgebrek graaft men een gleuf waarin de dode op zijn rechterzijde wordt gelegd, met zijn gezicht naar Mekka. Dan worden de knopen van stukken stof waarin de dode gewikkeld is, losgemaakt, maar zodanig dat er geen aarde de dode kan bereiken. De overledene wordt met zijn voeten schuin naar beneden en zijn hoofd schuin naar boven neergelaten in het graf. Hij of zij wordt op zijn of haar rechterzijde, met het gezicht naar Mekka in de uitholling gelegd waarbij de rug wordt ondersteund door de aarde. Vooraleer men het graf sluit, wordt het driemaal met twee handen vol met water besproeid. Het graf wordt met aarde verhoogd zodat men het ziet en het mag dan niet vertrapt worden. Daarna volgt de smeekbede voor de overledene (dit wordt gedaan voor vergiffenis van de overledene).

De rouw: Deze is toegestaan voor de overledene waarbij vrouwen het recht hebben om over een gestorven familielid te rouwen voor een periode van maximaal drie dagen.

Het is normaal om verdriet te tonen, zelfs om te huilen, maar dit mag niet onder de vorm van roepen, schelden, op de wangen slaan,… gebeuren.





Algemeen Besluit

Gezondheid is dus belangrijk voor moslims. We moeten actief werken aan onze gezondheid om die in stand te houden. Als we ziek zijn, moeten we proberen ervoor te zorgen dat de behandeling zoveel mogelijk binnen de voorschriften van de Islam plaatsvindt. In sommige gevallen mogen we er bewust van zijn dat wat normaal gesproken verboden is, soms in kader van de algemene gezondheid van een persoon wel wordt toegestaan. Een goede algemene kennis van gezondheidszaken zou een groot voordeel zijn voor iedereen, zodat we allen met een gezonde geest in een gezond lichaam een gelukkig leven kunnen leiden.

Een dichter zei eens:

"O gij, die maar eet wat gij wilt en dan de medicijnen en de dokters vervloekt,
gij kunt slechts oogsten wat gij gezaaid hebt.
Bereid uzelf voor op de ziekte die u zult krijgen!"

Al Yahiem, de dichter zei:

"Het leven wordt zoeter voor u als u een wijze man ontmoet:
En slechts diegenen die goed onderwezen zijn,
herkennen de uitmuntendheid van de kennis.
"Er is geen medicijn dat iemand kan genezen als hij ziek is van hebzucht;
Er is geen arts die iemand kan genezen als hij ziek is van onwetendheid."
.

__________________________




Woordenlijst

Abortus: Of vruchtafdrijving, het afstaan van een baby uit het lichaam.

Adoptie: Een kind aannemen, de ouders van een niet "eigen" kind zijn.

Bloedtransfusie: Bloed toevoeren in het lichaam.

Cremeren/crematie: Het lichaam verbranden, verassen.

Dhimmi: Een niet-moslim die onder de bescherming van de Islamitische wet leeft.

Donorcodicil: Een kaart waarop je bevestigt of je je organen wil afstaan, bij geval van sterfte; die kaart moet je op zak hebben.

Euthanasie: het actief bevorderen van een pijnloze dood, met instemming van de patiënt.

Excellente: Voortreffelijk.

Gomwierook: Wierook, rook van gomhars.

Graftombe: tombe of stenen constructie op het graf.

Hadith: Overgeleverde uitspraak met name van of over de profeet Mohammed.

Halal: Toegestaan of goedgekeurd.

Haram: Niet toegestaan of verboden.

Imaan: Acceptatie, geloof, vertrouwen in Allah.

Imam: Geleerde die het gebed leidt (in de moskee).

Kaäba: Het Heilige Huis van God in Mekka.

Koran: Het Heilige Boek van de moslims.

Mekka: De stad waar de Kaäba staat en waar de Profeet geboren is.

Moreel: Vertrouwen op zijn waarde, zedelijk, karaktervol.

Profeet Mohammed: Boodschapper van God en Zegel der Profeten.

Saffraan: Een (kostelijk, smaakgevend en kleurend) kruid.

S.a.w.: Vrede zij met hem (de Profeet).

Soenna: Een handeling die kenmerkend is voor een persoon, bij uitstek: de handelingen van de profeet Mohammed.

Transplantatie: Overplanting van organen van een pas overledene op een zieke om diens leven te redden (bv. nier, hart, lever...).















jazakumullah

vrijdag, mei 02, 2008

TAFSIR QS ANNAAS

AHLAN WA SAHLAN

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Naas 1
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1)

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya termasuk pula di dalamnya seluruh umatnya agar memohonkan perlindungan kepada Tuhan yang menjadikan, menjaga, menumbuhkan, mengembangkan dan menjaga kelangsungan hidup manusia dengan nikmat dan kasih sayang-Nya serta memberi peringatan kepada mereka dengan ancaman-ancaman-Nya.
2
raja manusia,(QS. 114:2)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Naas 2
مَلِكِ النَّاسِ (2)

Allah SWT menjelaskan bahwa Tuhan yang mendidik manusia itu adalah yang memiliki dan yang mengatur semua syariat, dan yang membuat undang-undang, dan yang membuat peraturan-peraturan dan hukum-hukum agama. Barangsiapa mematuhinya akan berbahagia hidup di dunia dan di akhirat.
3
sembahan manusia,(QS. 114:3)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Naas 3
إِلَهِ النَّاسِ (3)

Allah SWT menambah keterangan tentang Tuhan pendidik manusia ialah yang menguasai jiwa mereka dengan kehesaran-Nya. Mereka tidak mengetahui kekuasaan Allah itu secara keseluruhan, tetapi mereka tunduk kepada-Nya dengan sepenuh hatinya dan mereka tidak mengetahui bagaimana datangnya dorongan hati kepada mereka itu, sehingga dapat mempengaruhi seluruh jiwa raga mereka. Mendahulukan kata "RABB" (pendidik) dari kata "Malik" dan dari kata "Ilah" karena didikan adalah nikmat Allah yang paling utama dan terbesar bagi manusia. Kemudian yang kedua diikuti dengan kata "Malik" (Raja) karena manusia harus tunduk kepada kerajaan Allah sesudah mereka dewasa dan berakal. Kemudian diikuti dengan kata "Ilah" (sembahan), karena manusia sesudah berakal menyadari bahwa hanya kepada Allah mereka harus tunduk dan hanya Dia saja yang berhak untuk disembah. Allah menyatakan dalam ayat-ayat ini bahwa Dia Raja manusia, Pemilik manusia dan Tuhan manusia, bahkan Dia adalah Tuhan segala sesuatu. Tetapi di lain pihak manusialah yang membuat kesalahan dan kekeliruan dalam menyifati Allah sehingga mereka tersesat dari jalan lurus. Mereka mengadakan tuhan-tuhan lain yang mereka sembah dengan anggapan bahwa tuhan-tuhan itulah yang memberi nikmat dan bahagia serta menolak bahaya dari mereka, yang mengatur hidup mereka, menggariskan batas-batas yang boleh atau tidak boleh mereka lakukan. Mereka memberi nama tuhan-tuhan itu dengan pembantu-pembantunya dan menyangka bahwa tuhan-tuhan itulah yang mengatur segala gerak-gerik mereka. Dalam ayat lain yang hampir sama artinya Allah berfirman:
اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون

Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Q.S. At Taubah: 31) Dan firman-Nya:

ولا يأمركم أن تتخذوا الملائكة والنبيين أربابا أيأمركم بالكفر بعد إذ أنتم مسلمون

Artinya: Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam!. (Q.S. Ali Imran: 80). Maksudnya, dengan ini Allah memperingatkan manusia bahwa Dia-lah yang mendidik mereka sedang mereka adalah manusia-manusia yang suka berfikir dan Dia raja mereka dan Dia pula Tuhan mereka menurut pikiran mereka, maka tidak benarlah apa yang mereka ada-adakan untuk mendewa-dewakan diri mereka padahal mereka manusia biasa.
4
dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,(QS. 114:4)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Naas 4
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan manusia agar berlindung kepada Allah Rabbul Alamin dari kejahatan bisikan setan yang senantiasa bersembunyi di dalam hati manusia. Bisikan dan was-was yang berasal dari godaan setan itu bila dihadapkan kepada akal yang sehat mesti kalah dan orang yang tergoda menjadi sadar kembali, karena semua bisikan dan was-was setan yang akan menyakiti mausia itu akan menjadi hampa bila jiwa sadar kembali kepada perintah-perintah agama. Begitu pula bila seorang menggoda temannya yang lain untuk melakukan suatu kejahatan, tetapi temannya itu berpegang kuat dengan perintah-perintah agama niscaya ia akan berhenti menggoda dan merasa kecewa karena godaannya itu tidak berhasil namun ia tetap menunggu kesempatan yang lain.
5
Yang membisikkan (kejahatan) dalam dada manusia,(QS. 114:5)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Naas 5 - 6
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6) Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan tentang godaan tersebut, iaitu bisikan setan yang tersembunyi yang ditiupkan ke dalam dada manusia, yang mungkin datangnya dari jin atau manusia, sebagaimana dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya Allah berfirman:
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن

Artinya: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jin". Q.S. (Al An'am): 112. Setan-setan jin itu seringkali membisikkan suatu keraguan dengan cara yang sangat halus kepada manusia. Seringkali dia menampakkan dirinya sebagai penasehat yang ikhlas, tetapi bila engkau menghardiknya ia mundur dan bila diperhatikan bicaranya ia terus melanjutkan godaannya secara berlebih-lebihan. Dalam hal ini Nabi SAW. telah bersabda:

ان الله تجاوز لأمتي عما حدثت أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم به "رواه أبو هريرة وخرجه مسلم

Artinya: Sesungguhnya Allah SWT memaafkan dari umatku bisikan Jiwanya, selama ia belum mengamalkan atau mengucapkannya. HR. Bukhari dari Abu Hurairah. Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa yang menyebabkan bisikan itu ada dua macam:

1. Dari jin yaitu sebangsa makhluk yang halus yang tersembunyi yang tidak dapat dikenal tetapi hanya dapat dirasakan bekas bisikannya dalam diri kita. Bagi setiap manusia ada setannya, yaitu kekuatan batin yang mendorong dia berbuat jahat, yang membisikkan ke dalam jiwanya bisikan-bisakan jahat.

2. Dari setan manusia; godaan manusia ini dapat kita saksikan dengan jelas, dengan melihat dan mendengarnya. Tersebut dalam beberapa hadis tentang adanya belalai setan, hidung setan, paruh setan yang melekat di dada manusia atau di hati, itu semua adalah gambaran dan perumpamaan saja. Surah ini dimulai dengan kata "Pendidik", karena itu Tuhan sebagai Pendidik manusia, berkuasa untuk menolak semua godaan setan dan bisikannya dari manusia. Allah memberi petunjuk dalam surah ini agar manusia memohon pertolongan hanya kepada Allah saja sebagaimana Dia telah memberi petunjuk yang serupa dalam surah Al Ftihah, bahwa dasar yang terpenting dalam agama adalah menghadapkan diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah baik dalam ucapan, maupun perbuatan lainnya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari segala godaan setan yang ia sendiri tidak mampu menolaknya.
6
dari jin dan manusia.(QS. 114:6)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Naas 5 - 6

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan tentang godaan tersebut, iaitu bisikan setan yang tersembunyi yang ditiupkan ke dalam dada manusia, yang mungkin datangnya dari jin atau manusia, sebagaimana dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya Allah berfirman:

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن

Artinya: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jin". Q.S. (Al An'am): 112. Setan-setan jin itu seringkali membisikkan suatu keraguan dengan cara yang sangat halus kepada manusia. Seringkali dia menampakkan dirinya sebagai penasehat yang ikhlas, tetapi bila engkau menghardiknya ia mundur dan bila diperhatikan bicaranya ia terus melanjutkan godaannya secara berlebih-lebihan. Dalam hal ini Nabi SAW. telah bersabda:
ان الله تجاوز لأمتي عما حدثت أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم به "رواه أبو هريرة وخرجه مسلم

Artinya: Sesungguhnya Allah SWT memaafkan dari umatku bisikan Jiwanya, selama ia belum mengamalkan atau mengucapkannya. HR. Bukhari dari Abu Hurairah. Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa yang menyebabkan bisikan itu ada dua macam:

1. Dari jin yaitu sebangsa makhluk yang halus yang tersembunyi yang tidak dapat dikenal tetapi hanya dapat dirasakan bekas bisikannya dalam diri kita. Bagi setiap manusia ada setannya, yaitu kekuatan batin yang mendorong dia berbuat jahat, yang membisikkan ke dalam jiwanya bisikan-bisakan jahat.

2. Dari setan manusia; godaan manusia ini dapat kita saksikan dengan jelas, dengan melihat dan mendengarnya. Tersebut dalam beberapa hadis tentang adanya belalai setan, hidung setan, paruh setan yang melekat di dada manusia atau di hati, itu semua adalah gambaran dan perumpamaan saja. Surah ini dimulai dengan kata "Pendidik", karena itu Tuhan sebagai Pendidik manusia, berkuasa untuk menolak semua godaan setan dan bisikannya dari manusia. Allah memberi petunjuk dalam surah ini agar manusia memohon pertolongan hanya kepada Allah saja sebagaimana Dia telah memberi petunjuk yang serupa dalam surah Al Ftihah, bahwa dasar yang terpenting dalam agama adalah menghadapkan diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah baik dalam ucapan, maupun perbuatan lainnya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari segala godaan setan yang ia sendiri tidak mampu menolaknya.

jazakumullah